Sabtu, 16 Agustus 2014
Melepaskan Pujian
Jumat, 14 Desember 2012
Being Single Is Not A Crime
Pertanyaan ini nyebelin buat yang boro2 kepikiran nikah, punya gebetan aja lepas melulu. Yang lebih menyebalkan adalah pertanyaan ini adalah pertanyaan paling "wajar" ditanyakan semua orang. Mereka yang sudah menggandeng pasangan resmi akan sangat senang mengungkapkan pertanyaan maut yang satu ini. Ke-PD-an ini juga berlaku bagi mereka yang sudah yakin akan segera dipinang kekasihnya menuju mahligai pernikahan (pfffttt...), mereka akan dengan tanpa rasa berdosa memancarkan aura selidik yang menyebalkan ini kepada kaum jomblo, ehm oke, lebih baik aku sebut single saja.
Well, meskipun aku "belum" termasuk kaum single ini, tapi pertanyaan dengan awalan "kapan" ini juga sering kali membuat risih. Kalo cuma berhenti di "kapan" sih nggak terlalu masalah juga, seringkali pertanyaan lanjutannya yang menyebalkan.
Setelah kita mengungkapkan alasan kenapa belum memutuskan untuk segera menikah, beberapa orang akan menyambung topik ini dengan memperdengarkan argumentasi mereka tentang pernikahan. Beberapa ada yang bisa diterima, tapi beberapa yang lain hanya membuat pikiranku menjadi "jahat", dengan mengatakan pernyataan "bohong..bohong..bohong.." pada setiap pendapat mereka.
Gimana nggak.. Sering mereka bilang "Ayo, nikah cepet aja, biar nggak kesepian. Ntar ke mana - mana ada yang nemenin.", padahal aku tau, kadang mereka sering kesel sama pasangan karena mereka nggak perhatianlah, atau nggak punya waktu lagi buat nganterin mereka jalan-jalan. Ppffftttt...
No, I'm not against marriage, not at all. Cuman belum siap aja.
Membangun rumah tangga buatku bukan sekedar cara melepaskan diri dari "kesendirian". Egois aja namanya kalo meminta orang lain masuk ke dalam kehidupan kita, hanya untuk membuat kita bahagia, harus membuat kita "lengkap".
Padahal pasangan kita juga adalah manusia biasa, yang ada kalanya juga butuh untuk dilengkapi, butuh untuk dibahagiakan.
Dalam "kesendirian"ku ini, yang dalam artian belum menikah, aku berusaha puas dengan diriku sendiri dulu. Merasa lengkap, utuh sebagai manusia, walau tanpa "pasangan".. Ini saat di mana aku bisa menggali semua potensi diri yang mungkin saat nanti aku sudah berkeluarga tidak akan dapat bisa dikembangkan secara optimal.
Pernikahan bagiku juga bukan melulu tentang punya keturunan. Bukannya nggak pengen punya anak juga, tapi hanya tidak menjadikannya hal utama dasar untuk mau menikah. Prihatin lihat banyak orang di luar sana yang akhirnya bercerai karena pasangan tidak bisa memberikan keturunan. Itu sangat tidak manusiawi :"( Dan terkesan mengingkari janji pada Tuhan, untuk menjaga pasangannya baik dalam suka maupun duka.
Aku sangat menghargai mereka yang sudah mau memutuskan untuk menikah, berbagi hidup dengan orang lain, menyatukan dua keluarga yang berbeda. Menghargai mereka yang pun berpisah karena hal2 prinsip yang aku sendiri nggak tau seberapa prinsipnya. Menghargai mereka yang mau menikah dan membangun rumah tangga bersama walau memulai dengan kesusahan.
Aku menghormati pernikahan, untuk itulah aku berpikir ribuan kali untuk menikah.
Mungkin ada yang berpikir aku terlalu perhitungan. Ya, bisa jadi seperti itu. Ini bukan membicarakan mengenai kesiapan materi semata, tetapi juga kesiapan mental karena nanti dalam keluargaku akan ada penerus2 generasi yang harus aku didik.
Berlebihan?? Tidak!!
Pernikahan itu rumit, bukan hanya tentang aku, atau kamu, atau kita, tapi juga mereka. Relasi yang kompleks.
Jadi kalaupun ada yang memilih untuk tetap single, aku juga menghargainya.
Sendiri tetapi bahagia, lebih baik, menurutku, daripada berdua tapi malah selalu tertekan.
So, in my opinion. Single is not a crime.
Jadi yang buat yang masih single, just be happy with yourself. Karena kebahagiaan itu datang dari dalam diri kita sendiri, bukan karena orang lain. Ini waktunya untuk berkarya.
Akan datang saat yang tepat dimana Tuhan merasa kita sudah cukup kuat untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain.
Jumat, 21 September 2012
Sajak Kepada Malam
Malam adalah cara Tuhan menyeimbangkan alam
Mengajar untuk melihat gelap setelah terang
Menyaksikan terang dibalik kegelapan
Malam membuat mereka yang sepi menjadi berani bernyanyi
Dedaunan yang bercanda dengan berisik
Angin yang menyapa menggelitik
Dan jangkrik yang ribut mengerik
Malam adalah dekapan hangat untuk jiwa yang resah
Namun juga kesejukan bagi karya yang tumbuh dari rasa
Para pujangga memujanya
Seperti aku juga memujamu wahai malam
Kusandarkan kerinduan di bahumu setiap kali kau datang
Kau membiarkanku bermain dengan setiap melodi yang menciptakan kenangan
Aku menyukaimu, karena kau selalu tak lupa membawa mimpi-mimpiku
Selalu hadir tepat waktu
Tak pernah marah walau aku sering terlelap, dan kau menyerahkanku pada pagi.
Senin, 17 September 2012
Saat Teduh
Santapan Harian Senin, 9/17/2012 Yosua 15:13-19 Judul: Perjuangan yang membawa dampak Mungkin kebanyakan orang berpikir jika nanti sudah tua akan menikmati masa pensiun dengan santai dan tidak bekerja keras lagi. "Biar sekarang giliran anak-anak yang berjuang, saya sudah cukup." Berbeda dengan pemikiran tersebut, Kaleb tidak merasa waktunya untuk pensiun sudah tiba, sekalipun ia telah berusia delapan puluh lima tahun. Ia justru terus berusaha untuk memperoleh apa yang Tuhan janjikan dan berikan kepadanya. Ia tidak merasa dirinya 'sudah habis', Ia justru tetap bersemangat. Oleh karena itu, setelah mendapatkan penegasan Yosua dengan memberikan pegunungan Hebron -sesuai dengan permintaannya-, ia maju menyerang kota Hebron dan merebutnya. Keteguhan hati dan keberanian Kaleb tetap sama seperti ketika ia masih muda (Bil. 13:30). Kaleb masih terus berjuang memperluas warisannya dengan dibantu oleh keponakannya, Otniel. Kaleb pun memberikan putrinya -Akhsa- menjadi isteri Otniel sesuai dengan janjinya karena Otniel berhasil menaklukkan Kiryat-Seger. Ia juga memberikan tanah dan mata air sebagai mas kawin anaknya itu. Alkitab mencatat bahwa Otniel adalah salah seorang dari hakim-hakim yang melepaskan Israel dari penindasan lawan-lawannya. Ia adalah salah seorang hakim yang dibangkitkan Tuhan untuk menyelamatkan Israel. Otniel menjalankan tugasnya sebagai hakim dengan baik sehingga negeri Israel aman selama empat puluh tahun (Hak. 3:7-11). Pengaruh teladan Kaleb ini sampai kepada Otniel juga. Mari kita belajar dari Kaleb yang memberikan pengaruh positif pada orang lain. Faktor usia bukanlah masalah. Seperti halnya buah kelapa, yang makin tua makin bersantan, demikianlah Kaleb. Semakin tua ia semakin memberi dampak. Iman, kesetiaan, perjuangan, semangat, dan keberanian yang kita miliki akan menular dan memberikan dampak kepada orang-orang di sekitar kita dan orang-orang yang kita layani sehingga mereka juga boleh memiliki hidup penuh kemenangan. Apakah hidup Anda juga berpengaruh bagi orang lain? Diskusi renungan ini di Facebook: http://apps.facebook.com/santapanharian/home.php?d=2012/09/17/ Santapan Harian. diambil dari sabda.org
Jumat, 27 April 2012
Dear God
Thank you for loving me the way I am and treating me the way I need to be treaten.
Hanya Engkau yg paling mengerti aku, melebihi aku sendiri.
padahal aku jarang bahkan hampir tidak pernah berdoa, tapi Engkau masih ssetia menungguku menyapa-Mu.
Aku tidak pernah mengingat-Mu di saat bahagiaku, tapi Engkau masih sabar mencarikan jalan keluar di saat susahku.
Kata orang "Tuhan hanya sejauh doa". tetapi menurutku itu pandangan subyektif, karena sebenarnya Engkau selalu dekat. Hanya aku yang tidak bisa merasakan kehadiran-Mu karena kedegilan hatiku.
Bapa, maaf jika aku sering membuat-Mu menangis, karena setiap dosa yang sering aku lakukan.
Aku tau aku sering membuat-Mu terluka, membuat darah-Mu yang tercurah untuk menebus dosaku seakan sia2.
Aku sering menjadi bebal, jatuh bangun dalam dosa.
Tapi sekali lagi terima kasih karena Engkau selalu mau menerimaku kembali.
Aku tak tau apa jadinya aku tanpa-Mu, karena bahkan kejadianku di dunia ini adalah karena-Mu.
Izinkan aku menerima kasih karunia-Mu, hingga aku dapat memahami setiap jalan yang Kau tentukan untukku.
Minggu, 04 Maret 2012
Pilih Nurut ato Benjut..
"Awas!! Ngebut, benjut!!"
(Benjut = Benjol)
Ok, tenang aja, gak bakalan bahas masalah ngebut2an koq.
Cuman filosofinya hampir mirip, milih nurut kata Tuhan dan selamat, ato berontak dan akhirnya benjol??
Buat aku, nurut itu susah2 gampang, lebih banyak ke susahnya sih sebenernya.
Gimana nggak??? Kalo kita dipaksa nurut buat ninggalin sesuatu yang kita suka banget, mana mau kita nyerah pasrah??
Pasti berontak duluan, itu aku sih, gak tau kalo orang lain.
Sama juga waktu Tuhan udah nunjukkin bahwa orang yang kita sukai itu bukan yang terbaik yang Tuhan sediain buat kita..
Beuhh..
Sakiiiitttt rasanya, udah cinta gitu lho!!!!
Kalo orangnya belangsak sih, kita maklum2 aja ya kalo Tuhan gak setuju.
Tapi kalo pas dapetnya orangnya rupawan, mapan, sopan, dermawan, dan segudang -an lainnya, dan Tuhan tetep gak setuju??
Kalo aku sih bakalan bilang : "Akh, Tuhan bercanda nich."
Dan, sayangnya, aku termasuk orang yang lebih suka benjut dulu, baru mau nurut.
Padahal nie, Tuhan udah kasih sinyal2 bahwa akhirnya emang aku bakalan benjut.
Contoh kasus nie ya, dulu pernah punya pacar yang secara apa2nya udah ok banget dech.
Tp sebenernya dari awal jadian udah ada "feeling" bahwa dia bukan yang Tuhan mau.
Sempat mikir2, dilanjutin ato nggak.
Trus minta pertimbangan ortu.
Beliau berdua bilang, masih fifty2..
Yak, akhirnya tetep lanjut, tanpa minta konfirmasi dari Tuhan..
Akhirnya, apa yang terjadi Saudara2???
Aku ditinggal selingkuh, dan akhirnya dia nikah sama selingkuhannya...
Hurraaayyy,,,
*drum rool*
BAru dech, habis itu doa sambil nangis2
Minta Tuhan sembuhin luka hatiku..
Untung Tuhan itu Tuhn yang sangat baik.
Walaupun aku sempat gak nurut, tapi DIA tetap mau mengampuniku..
Tapi dasarnya aku ini anak bandel, sempat keulang lagi, walau ceritanya agak berbeda.
Tuhan jauhin aku dari orang yang aku suka sejak dari belum punya pacar..
Cinta monyetku yang sebenarnya udah jadi cinta gorila..
Kalo yang ini, sampe sekarang juga masih suka nanya2 sama Tuhan..
Kenapaaaaaaaaaa?????
("A"-nya agak banyak, karena mulai galau)
Bayangin aja, udah 7 tahun suka sama Dia, udah mau ada feedback, eh lha koq gak ada angin gak ada ujan, tiba2 jadi jauuh gitu aja..
Masih suka merenung sih kadang2, kenapa Tuhan sering kasih cara ekstrim buat ngejagain aku..
Sampe ada temen yang bilang "belajar percaya aja."
Mungkin itu emang cara Tuhan buat nunjukin bahwa rancanganNya itu yang terbaik, dan kalo yang aku ambil bukan rencanaNya, maka langsung dech, di-delete dari kehidupanku.
Mungkin, kalo pake cara halus, aku bakalan makin tersesat di dalam jalan yang aku pilih sendiri.
Buat tau rencana Tuhan, tentunya ya dengan dekat sama DIA, yang punya rencana itu sendiri.
Konfirmasi kalo kita mau lakuin sesuatu..
Jangan marah, kalo yang kita dapet gak sesuai sama apa yang kita minta.
Kadang pendapat orang lain juga bisa jadi cara Tuhan buat kasih konfirmasi.
Well, life is a matter of making a choice!!
Emang sih Tuhan gak pernah ngelarang kita buat ambil keputusan apapun, bahkan yang berseberangan dengan yang diinginkanNYA.
He is GOD who appreciates our free will.
Tapi Tuhan udah pasti kasih peringatan terlebih dahulu.
Kasih tau apa konsekuensinya kalo kita gak nurut.
Walaupun kalo seandainya kita gak nurut, tersesat, dan kemudian minta ampun, pasti Tuhan masih mau mengampuni dan menolong, tapi tetep aja, kita udah benjol duluan..
Jadi kayaknya lebih baik nurut aja dech, daripada benjol..
Semoga besok2 aku gak bakalan benjol2 lagi :D
Kamis, 01 Maret 2012
Perbincangan Dengan Tuhan
Apa yang Tuhan mau sebenarnya dengan mengambil anak sekecil itu??
Seorang anak yang belum sempat beranjak remaja, yang seharusnya masih bisa merasakan hal2 baru di dalam hidupnya.
Bukan, aku bukan menyalahkan Tuhan karena mengambil adikku secepat itu, bukan pula tidak mempercayai rencana-Nya.
Aku hanya ingin tau apa yang Tuhan rencanakan buat hidup kami..
Aku menunggu lama, rasanya ingin mendengar suara Tuhan langsung secara "audible".
Tapi sepertinya Tuhan hanya diam saja.
Tapi aku terus berharap Tuhan mau menjawabku..
Sebagai manusia aku ingin jawaban yang singkat saja, tanpa perlu menelaah lagi..
Tapi tetap, Tuhan seakan diam saja..
Waktu beranjak, dan sudah tengah hari rupanya.
Seperti biasa, aku menyalakan TV, ingin melihat serial drama Korea kesukaanku.
Dong Yi, Crown in the Palace.
Itu judul filmnya..
Sudah berulang kali aku melihat film itu, tapi tetap saja aku menyukainya.
Hanya saja hari itu aku tidak begitu bersemangat.
Aku menyaksikan drama itu tanpa berpikir apa2, bahkan cenderung tidak bisa menikmatinya.
Aku teringat, adekku suka menemaniku melihat drama Korea, setelah dia pulang sekolah.
Apalagi scene hari tu sedang sedih2nya.
Dong Yi, si pemeran utama, yang merupakan selir istana kesayangan raja, dijebak dan dia akan dijatuhi hukuman mati.
Penderitaannya belum cukup sampai disitu, anaknya, sang pangeran kebanggaan hati, yang masih bayi, harus meninggal karena sakit..
Akh, sampe disini aku jadi ikutan menangis..
Baru saja aku akan mengambil remote untuk mematikan TV, seperti ada dorongan untuk tidak melakukannya.
Aku harus melihatnya sampai selesai.
Dan benar saja, aku memang menontonnya sampai selesai.
Disini diceritakan bahwa karena meninggalnya pangeran maka hukuman mati bagi Dong Yi dibatalkan, melainkan diganti menjadi dikeluarkan dari istana..
Sampai disini aku teringat akhir dari kisah ini.
Karena dibuang keluar istana, maka Dong Yi masih bisa bertahan hidup dan bisa kembali ke istana membersihkan namanya, walaupun harus melalui proses yang panjang.
Andai waktu itu anaknya tidak meninggal, pasti Dong Yi tidak akan sempat mengungkap kebenaran.
Aku seperti mendapat jawaban dari Tuhan hari itu.
Sudah berulang kali aku menyaksikan film ini, tapi baru kali itu aku mendapatkan pelajaran dari isi ceritanya.
Aku kembali menangis..
Mungkin kepergian adekku ini membawa misi dari Tuhan.
Walaupun aku tidak tau apa itu, tapi pasti semua adalah yang terbaik.
Mungkin prosesnya akan berjalan sangat lama, sampai kami menyadari apa rencana Tuhan.
Tapi, kami belajar untuk percaya saja.
Terima kasih Tuhan buat rancangan-Mu yang teramat indah untuk kehidupan kami.
Aku percaya, Engkau menjagai adekku, Frans, di surga dengan amat sangat baik.
Dan kami masih punya tugas, menjalankan rencana yang sudah Engkau tuliskan, sesuai bagian kami..
Terima kasih untuk perbincangan yang menyenangkan ini.
