Jumat, 20 Januari 2017

#Hari 20 Celebrities Whom I Have Crush With

Andai semua selebriti bisa direnceng kayak kopi sachetan di warung sebelah dan musti milih salah tiga, Saya dengan mantap akan memilih Jflow, Gilbas dan Dec, kemudian memasukkan mereka ke dalam saku, membawanya pulang. Tentunya nggak ada pikiran buat menuangkan mereka ke dalam cangkir dan menyeduhnya dengan air panas, melainkan akan Saya bawa sebagai teman tidur. Eh, jangan mesum, kan tadi perumpamaannya mereka itu kopi sachetan. Ehe..ehe..

Pertama kali lihat Joshua Matulessy alias Jflow itu waktu dia gabung sama Saykoji. And you know what? Saya langsung terpikat sama suaranya yang seksi dan juga wajahnya yang agak-agak bad boy gitu. Ditambah lagi waktu dia ngisi acara ProvoActive barengan Pandji Pragiwaksono di Metro TV, Saya jadi tambah pengin jadiin dia suami. Seriusan. Maksudnya Saya yang serius, kalau dianya sih boro-boro. Kenal aja juga nggak. Ehe.. ehe..

Penyuka kopi dan pemilik brand snapback +62 ini emang musisi serba bisa. Lagunya, walau hip-hop, terasa masih enak banget di kuping Saya. Dulu, waktu manajemennya buka lowongan sekretaris, hampir saja saya ngelamar dan ninggalin kerjaan di Solo. Tapi nasihat dan larangan mama memudarkan impian saya. Nah, bukan berarti saya bukan fans militan, tapi Jflow yang sayang banget sama mamanya pasti ngertiin banget tentang keputusan itu. Saya juga bisa belingsatan sendiri kalau mensyen di twitter dan dibalas sama dia. Ternyata bidadari kayak saya bisa alay juga.

I just love the way he sing, the way he look and the way he does anything. Intinya, I just love him. Dengan jambang di tampang tengilnya itu, ditambah kulitnya yang coklat eksotis, gaya becandaannya yang asyik, serta badannya yang well-built, membuat nggak ada alasan buat nggak mencintainya. Sisi tempat tidur saya terbuka buatnya. Ehm.. maksudnya buat nempatin kopi sachetan tadi itu.

Selebriti kedua adalah Gilang Baskara atau yang dikenal dengan Gilbas. Simpel sekali kenapa saya suka padanya, pertama dia lucu dan kedua dia keriwil. Yes, saya memang suka sekali pria berambut keriting. Lucu aja gitu megang-megang rambutnya. Beda sama Jflow yang jauuh di atas saya umurnya, kalau Gilbas sih termasuk berondong. Nah kan, nambah deh nilai plus dia di mata saya.

Runner up dalam kompetisi Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV musim kedua ini katanya sih pemalu, tapi dia bisa mengalahkan rasa malunya dan bisa jadi komedian tunggal yang pinter banget ngolah materi. Wajah serius, berkacamata, pintar, keriting tapi lucu. Mungkin karena zodiak Gilbas Aquarius kali ya, makanya dia terasa adem gitu.

Kalau saat nulis ini tiba-tiba saya disamperin sama Gilbas, udah deh saya pasti bakalan pingsan. Eh, tunggu, pingsan bakalan bikin saya kehilangan waktu berharga buat gerepe-gerepe mengenal dia lebih jauh. Ehm, jadi kayaknya saya bakalan lebih milih meluk-meluk dia sambil ngajakin bikin materi rumah tangga eh stand up comedy maksudnya.

Buat yang sering nonton Britain Got Talent pasti nggak asing sama sosok Declan Donnelly alias Dec. Partnernya Ant buat bawain acara pencarian bakat itu emang nggak terlalu spesial banget kalau dilihat-lihat lagi. Badannya juga terbilang pendek, nggak yang tinggi melambung layaknya bule-bule lain. Tapi bukankah mungil itu artinya lebih imut dan menggemaskan? Versi mini dari kopi sachetan kayaknya lebih aman bagi lambung saya.
Kembali ke Dec, yang saya sukai dari dia, satu lagi kesamaan dengan kedua kesayangan saya di atas, adalah sifat humoris. Yaiyalah, Dec itu pasangan melucunya si Ant, dan mereka awet banget selama 25 tahun berkarier bareng.
Umur si Dec ini lebih jauh lagi dari saya, di atas Jflow juga. Jadi memang terbukti bahwa cinta itu nggak mandang perbedaan usia. Saya suka setiap gayanya di atas panggung, saat membawakan acara, dan saat berinteraksi dengan orang. Hmm... sepertinya saya memang harus membulatkan tekad buat menujukkan bakat saya, mungkin dengan ikut BGT. Kalaupun saya dapat buzzer dari keempat juri, paling nggak, saya bisa ketemu idola saya. Wah, ini memang impian yang mahal sekali ya? Jadi, yeay or nay?

Impian Di Tahun Ini

Yeay, akhirnya udah sampai di hari ketiga tantangan nulis dari #KampusFiksi, dan tema hari ini menyenangkan sekali. Ngomongin masalah hal yang pengin dicapai dalam tahun ini tentu banyak banget. Dari ratusan lapis, yang bukan merupakan lapisan wafer, maka Saya pilihlah kelima impian berikut.

Peringatan : Postingan berikut juga nggak jauh dari curhatan. Pesan moral? Ini bukan buku pelajaran kewarganegaraan, jadi ya entahlah.

1. Karya Bisa Tembus Media
Saya belum berani menyebut diri ini penulis. Karena penulis itu konsisten menulis. Sedangkan Saya ini hanya kumpulan debu di sela-sela keyboard laptop yang masih kalah sama suasana hati waktu di hadapkan sama tulisan.

Tapi ya tetap saja Saya punya cita-cita, pengin karya Saya yang belum keren-keren amat itu di muat di media. Walau cukup lambat, tapi Saya selalu berusaha sampai bisa menuliskan kata tamat pada setiap karya. Baik novel maupun cerpen. Sudah beberapa yang selesai, beberapa di kirim namun belum ada kabar, dan ada yang sedang dan terus Saya kerjakan. Tahun ini, Saya percaya, usaha nggak akan membohongi hasil. Jadi, sabar saja, akhir tahun masih jauh.

2. Usaha Yang Dirintis Bisa Berkembang
Pertengahan tahun kemarin, Saya memulai bisnis yang cukup menguras tenaga dan finansial. Hasilnya? Jatuh, bangun dan jatuh lagi. Apakah Saya kapok? Jawabannya bisa ya dan bisa nggak. Iya, Saya kapok, dalam artian kapok memulai sesuatu tanpa perhitungan yang matang. Niat saja ternyata nggak cukup buat memulai sesuatu yang besar. Nggak kapok, Saya akan terus berusaha untuk menyelesaikan apa yang Saya mulai.

Membangkitkan usaha kuliner dan fashion yang Saya rintis ini beneran nggak mudah. Kalau dilihat dari kacamata dompet Saya, usaha ini napasnya lagi satu-satu. Tapi, ambil sisi positifnya, masih bernapas. Jadi, kenapa nggak terus berusaha saja. Ya, kan?

3. Jadi Blogger
Saya pengin banget jadi food blogger dan juga beauty blogger. Kenapa? Menemukan jawabannya itu sesederhana menemukan hujan di bulan Desember, karena hujan bulan Juni itu sudah milik Pak Sapardi Djoko Darmono. Saya suka makan dan dandan. See? Mudah banget bukan jawabannya? Orang yang kenal Saya pasti tahu dua hal itu emang Saya banget. Kalau akhirnya orang bisa mengenal Saya dari tulisan, Saya anggap itu bonus.

Realisasinya? Walau cukup telat, karena Saya punya akun media sosial dan blog ini udah sejak ratusan tahun yang lalu dan barusan saja niat pengin memaksimalkannya, Saya mulai mengunggah review kecil-kecilan. Well, semua hal besar pasti dimulai dari hal kecil, kan?

4. Beliin Mama Cincin dan Papa Jam Tangan
Kedua orang tua Saya adalah yang terbaik. Walaupun Saya sering mengecewakan mereka, tapi mereka selalu ada buat anaknya yang bandel ini. Saya sadar banget, belum pernah bisa kasih apa-apa. Memang sih mereka nggak minta, tapi Saya harusnya bisa paham. Sebelum akhir tahun, Saya harus bisa beliin cincin dan jam tangan. PR besar, karena Saya juga punya banyak hutang lain yang harus Saya tanggung. But old proverb said, When there is a will, there is a way. Bukankah Tuhan itu nggak jauh dari hambaNya yang terus berusaha?

5. Punya Rak Buku
Kesannya sepele banget ya?! Tapi beneran, sampai sekarang Saya belum punya rak buku. Sehingga menyebabkan buku-buku koleksi Saya musti ditumpuk dalam kardus. Mengenaskan sekali.

PR selanjutnya sebelum Saya punya rak buku adalah soal tempat. Rumah sudah penuh perabotan dan nggak tahu mau taruh di mana rak bukunya. Baiklah, sepertinya Saya butuh semedi.  Sebelum Saya beneran mengasingkan diri untuk mencari wangsit, Saya cuma punya satu pertanyan buat kamu, apa impianmu di tahun ini?

Kamis, 19 Januari 2017

My Historical Moment

Apakah kamu nebak bahwa postingan berikut bakalan pakai bahasa Inggris? Nah! I pranked you. Besok kalau Saya punya pacar teman ngobrol orang bule kayaknya baru Saya bisa fasih pakai bahasa Inggris deh. Selama ini nggak ada partner buat bisa tik-tok gitu, padahal sebetulnya ya karena malas. Alasan kenapa judulnya pake enggres? Biar pendek aja gitu *ditampol sandal

Eh, lha kok malah curcol masalah kemampuan berbahasa sih? Back to the real topic ya, Gaes. Hari ini masuk hari kedua #writtingchallenge dari #KampusFiksi. Dan tema yang musti ditulis adalah tiga hal yang bisa membuat histeris.

Tema ini lumayan berat, walau nggak sebanding dengan berat badan yang nambah lima kilo dalam setahun belakangan ini. Kenapa? Karena Saya cuma punya sedikit memori tentang momen-momen yang membuat Saya histeris, bahkan waktu dilamar juga nggak histeris. Dan menyedihkannya adalah, momen histeris yang paling lekat di ingatan adalah kenangan buruk.

The most histerical moment in my life was when I got a phone saying that my brother passed away. Saya ingat betul, hari itu jam 8 malam, 2 Februari 2012. Berita itu membuat tulang serasa tercabut, Saya lemas, terduduk di lantai kamar, dengan hp yang masih saya genggam erat-erat. Saya menangis sejadi-jadinya. Baru kali itu Saya memekik.

Dada Saya berlobang. Lobang besar yang nggak akan pernah bisa ditutup lagi. Seperti black hole, lobang itu menyerap kesadaran dan kekuatan. Bahkan buat nyampain berita bahwa adik kecil yang saat itu berusia sebelas tahun udah nggak ada ke anggota keluarga lain, susah banget, Saya nggak punya kosakata untuk diucapkan waktu itu. Yes, cancer took our lil’ angel away from our sight, but not from our heart. Nah, kan, nangis lagi Saya. Baiklah, let’s move to another histerical moment, daripada nanti Saya termehek-mehek nggak jelas.

Momen selanjutnya itu waktu Saya lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Histerisnya campur antara kaget, sedih dan senang. Kaget, karena Saya nggak benar-benar ngerjain soal, malam sebelumnya aja Saya malah masih baca novel sampai larut, nggak belajar sama sekali. Serius, ini murni kasih karunia Tuhan, bukan karena Saya jenius. Sedih, karena Saya penginnya kuliah di Jogja, udah daftar juga. Senang, karena ya berarti Saya orang terpilih, berhasil mengalahkan saingan yang bejibun. Iya, Saya sombong bener.

Kayaknya cuma dua itu momen Saya bisa benar-benar histeris. Andai ada satu lagi, mungkin adalah kalau nanti bisa lolos audisi Indonesia’s Got Talent. Serius, Saya pasti bakalan histeris sejadi-jadinya. Tapi itu baru wacana sih. Saya bingung mau nunjukin bakat apa. Nyanyi, suara saya banyakan fals-nya. Nari, nggak banget, orang Saya gerak dikit aja badan udah pegel-pegel. Sulap? Oke, ini berarti bunuh diri. Saya cuma bisa masak dan nulis. Kalau mau ikut Master Chef, kemampuan Saya memasak hanya akan membawa ke babak penyisihan. Untuk kemampuan yang terakhir, silakan kalian nilai dari isi tulisan di blog ini. Cukup (nggak) meyakinkan?

Akh, sudahlah. Bagian terpenting dari semua ini adalah di balik semua momen histeris, selalu ada orang-orang terkasih yang menemani menjalaninya, sungguh itu bagian terbaik.

Rabu, 18 Januari 2017

#Hari 1 Jelaskan Bagaimana Tipe Kekasih yang Kamu Dambakan

(Disclaimer : Tulisan ini diikutkan dalam event #KampusFiksi 10 Days Writting Challenge dan syarat aroma curhat)

Membahas tentang tipe kekasih idaman itu membuat saya teringat masa lalu, ketika masih berseragam putih biru. Saat itu saya sedang getol-getolnya menulis di buku harian, salah satunya ya tentang tipe kekasih idaman. Sungguh, saya ini visioner. Padahal saya baru boleh berpacaran saat sudah punya KTP.

Walau banyak yang berubah tentang kriteria lelaki yang saya inginkan untuk menjadi kekasih, tetapi dalam beberapa poin masih sama saja. Kesampingkan tentang harus seiman, harus beda jenis kelamin, good looking dan kaya mau kerja keras, karena itu prinsipil. Kita bahas poin yang lain saja :

1. Sense of Humor
Nggak harus seorang pelawak juga sih ya, karena buktinya saya nggak bisa cinta sama Tukul Arwana atau Bopak, tetapi saya ngefans habis sama GilBas, stand up comedian keriwil yang andai dia di dekat saya rasanya pengin unyel-unyel aja gitu. Semua lebih ke arah bisa saling memahami guyonan masing-masing, gaya bercandaan yang satu frekuensi. Saya pernah jatuh cinta sama seseorang yang guyonannya jayus kata orang, tapi saya ketawa-ketawa aja sama dia. Oh, ini yang salah saya sih kayaknya ya. Oke, lanjut aja kalau gitu.

2. Pelukable
Bukan, bukan artinya saya mesum penginnya peluk-pelukan melulu ya ehe ehe ehe. Tapi saya suka seseorang yang enak buat cuddling. Saya memang pernah naksir sama orang yang kerempeng, tapi perbandingannya 1:10. Ya, orang gendut lebih menarik buat saya. Selain karena enak dipeluk, mereka juga nggak ribet soal makanan. Secara, saya yang Taurus ini suka sekali makan dan paling gemas sama orang yang mengomentari menu dan porsi makanan saya.

3. Fleksibel
Apakah saya mengidamkan seorang kontorsionis sebagai kekasih? Nggaklah. Saya agak ngeri malahan kalau lihat kekasih saya badannya bisa meliuk-liuk gitu. Maksudnya adalah seorang yang nggak ribet. Berprinsip tapi nggak suka memaksakan prinsipnya. Intinya bisa diajak diskusi. Tentang apa saja.

Masih ada lagi yang lain sih, cuman kalau dibeberin semua nanti jadi nggak seru. Kalau pengin tahu lebih banyak, bukankah lebih baik kalau saling kenal secara pribadi saja? *digetok mamase

Jumat, 05 Februari 2016

Galih Dan (Bukan) Ratna

               Kali ini aku tidak sedang ingin bercerita tentang film romansa yang sempat laris di Tahun 1979 itu. Bukan juga akan mengisahkan tentang Rano Karno maupun Yessi Gusman. Aku hanya ingin menuturkan tentang kita. Ya, kamu – Mas Galih – dan aku, yang bernama bukan Ratna. Surat ini aku buat untukmu.

                Mas Galih yang selalu tersenyum manis, aku tahu kamu tidak terlalu suka membaca. Jadi, aku beritahukan hal ini terlebih dahulu. Suratku ini mungkin akan sangat panjang dan melelahkan untuk kamu baca. Aku tidak memaksamu untuk menghabiskannya dalam sekali duduk, aku tahu kamu sangat sibuk, Mas. Aku sudah sangat berterima kasih jika kamu mau membacanya. Jadi, tengoklah barang sebentar-sebentar, tapi aku harap kamu mau membacanya sampai halaman terakhir.

                Apa kabar Banjarmasin hari ini, Mas? Apakah mendung juga seperti Solo? Akh, memang Solo beberapa waktu ini diguyur hujan dan suasananya menjadi sangat sendu. Tapi sesungguhnya Solo yang teduh seperti ini memang yang aku rindukan setiap kali mencoba jauh. Andai saja kamu bisa singgah di sini sebentar. Aku akan mengajakmu berkeliling. Menikmati makanan khas yang mungkin cita rasanya tidak terlalu berbeda dengan Jogja, kota asalmu. Tapi, sepertinya hal berkunjung dan berjalan-jalan bersama itu sekarang menjadi cukup mustahil.

                Apakah koleksi batu akikmu juga sudah bertambah lagi, Mas? Aku sering membayangkan ikut bersamamu keluar masuk pasar, menemanimu menggerinda bongkahan-bongkahan itu hingga menghasilkan bebatuan yang cantik. Kamu sungguh pintar memoles. Tapi, aku juga tidak bisa menerka-nerka, apakah aku akan marah jika terkalahkan dengan hobi yang menyita waktumu setiap weekend dan liburan itu, atau aku akan bisa sabar menunggu? Aahahaha, itu hanya khayalanku saja, Mas. Aku tahu, aku tidak punya tempat lagi untuk memohon itu semua terkabul.

                Mas Galih yang bercita-cita ingin jadi advokat, lucu rasanya jika teringat waktu pertama kali kita berkenalan. Aku harus berterima kasih pada Dewi karena sudah menjadi jembatan agar aku bisa kenal dengan seseorang yang hebat sepertimu, Mas. Aku mengenalmu dari semua cerita Dewi. Dan, you obviously captured me! Dari foto yang Dewi bagikan padaku, aku merasa bahwa kamu punya aura yang baik. Kemudian, kamu menyapaku lewat aplikasi chat di smartphone. Apa kamu tahu? You really had me at hello.

                Membingungkan sekali, bahwa aku jadi bisa begitu terperangkap padahal kita belum pernah bertatapmuka. Aku jadi sering tersenyum sendiri kala itu, setelah aku pikir alasannya, itu semua karena kamu, orang yang serius dan humoris pada saat yang bersamaan. Perhatian kecil yang kamu berikan di pagi hari cukup untuk membuat suasana hatiku cerah seharian.

                Mas Galih yang hobi kuliner, apa kamu ingat saat akhirnya kita dipertemukan untuk pertama kalinya di Jogja? Maaf merepotkanmu kala itu karena harus menjemputku. Dan ujungnya kamu malah aku biarkan sendirian bermain dengan smartphone-mu sementara aku menghilang sebentar bersama teman-temanku. Aku masih merasa menyesal sampai sekarang. Tapi terima kasih, kamu sudah sabar menghadapiku yang membuat kita tersasar karena aku lupa denah dan alamat.

                Jalanan kota Jogja yang hanya bisa kita nikmati sebentar selalu membawa nostalgia. Begitu pula dengan Raminten. Aku selalu terpikir tentangmu setiap mengingat Jogja. Kenangan adalah candu. Bagaimana cara aku mendapat obat penawarnya?

                Aku masih ingat, Mas Galih, saat kita berkeliling sudut Jogja dengan motor matic hitam itu. Aku terkejut saat kamu memegang tanganku dan mengatakan agar memasukkan jemariku ke dalam saku jaketmu agar tidak kepanasan. Kamu pasti tidak melihat bagaimana pipiku yang seharusnya disembunyikan karena bagian itulah malahan yang terasa panas, bukan tanganku. Andai saja aku bisa sedikit lebih lama di Jogja. Andai saja aku bisa menghabiskan waktu dan mengenalmu lebih jauh. Terlalu banyak yang ingin aku ulang, Mas. Andai takdir mengizinkan. Andai saja.

                Dan kemudian yang aku takutkan terjadi. Kamu mulai menjauh secara tiba-tiba. Walau sebenarnya dari awal saat kamu enggan memanggilku hanya dengan sekadar nama, aku sudah merasakannya. Ada jarak yang memang sedang kamu terapkan, tapi di saat yang sama kamu juga ingin mendekat. Kamu masih ragu-ragu, namun juga antusias. Ternyata kita berdua adalah manusia impulsif yang sama.

                Aku merasa kehilangan, Mas. Tapi aku tahu, kamu sudah memilih. Dan aku harus menghormati pilihan itu. Kadang, aku menyalahkan diriku yang memang suka terlalu terburu-buru. Seharusnya aku tahu, kamu memang butuh waktu. Mungkin, kamu butuh lebih dari sekadar memaklumi cinta pada pandangan pertama. Sebab pandangan kedua, ketiga dan seterusnya bisa lebih mencelikkan mata.

                Dewi sempat bertanya padaku apa yang terjadi dan hanya bisa aku jawab dengan senyuman. Aku hanya bisa menjawab bahwa kita sepertinya tidak akan memulai sesuatu yang lebih serius karena menjadi kawan juga sudah merupakan hubungan yang bisa dirayakan. Walau aku sepertinya merasa terluka untuk sebuah sebab yang mungkin salahku sendiri karena terlalu banyak menerka-nerka.

                Mas Galih yang akhirnya memilih untuk menjadi seorang teman, aku tahu bahwa kita tidak bisa memaksakan perasaan. Walau sejak pertama sejujurnya aku ingin bisa memiliki senyum manismu dan kekonyolan serta semua yang ada padamu untuk menemani langkahku, tapi aku tahu bahwa segalanya sudah diatur. Termasuk ketika aku tidak bisa mendapat apa yang aku mau. Kamu berhak mendapat yang terbaik. Walau begitu, cerita kita adalah dentingan nada terbaik dalam musik kehidupanku yang aku favoritkan. Karena yang terbaik tidaklah selalu harus dimiliki namun cukup untuk dinikmati.

                Seseorang dengan berbagai tanya yang aku belum temukan jawabannya, Mas Galih. Aku tahu mungkin aku terlalu terburu-buru menurut pandanganmu. Aku sudah mulai lupa apa warna favoritmu, entah hijau entah merah. Aku juga sudah mulai lupa apa makanan favoritmu, apakah kamu suka kecap atau tidak. Aku juga tidak tahu alasan kamu selalu menulis nama lengkapmu tanpa spasi. Aku sudah mulai memudarkan ingatanku. Lantas apa yang kamu lakukan selama beberapa bulan ini? Pastinya kamu sudah menemukan dunia baru. Tentu saja.

Ohiya, aku sekali lagi mengucapkan turut berbelasungkawa atas meninggalnya adikmu ya, Mas. Pasti berat ditinggalkan oleh orang tersayang dengan begitu mengejutkan. Tapi aku selalu percaya, Tuhan begitu mengasihi Dik Yoga. Tuhan menjaganya baik-baik di surga sana. Dik Yoga pastilah kesayangan Allah, sampai dia dijemput lebih dulu. Dan Mas Galih beserta keluarga akan diberikan kekuatan lebih untuk menjalani kehidupan hari demi hari.

                Aku tahu rasanya kehilangan, Mas. Empat tahun yang lalu, adikku juga sudah berpulang terlebih dahulu setelah berjuang melawan sakit selama dua bulan. Usianya baru sebelas tahun waktu itu. Dia masih terlihat gemuk dan ceria ketika aku terakhir memandangnya tertidur panjang. Kanker darah yang membuka jalan adik kecilku untuk menghadap Sang Khalik.

                Mungkin saat ini, adikku Frans sedang bermain bersama Dik Yoga, ya siapa tahu. Kita juga akan bertemu mereka kelak. Semua hanya perpisahan sementara. Terkadang, aku mengalihkan rasa rinduku dengan berpikir bahwa adikku sedang bermain bola bersama kawan-kawannya, terlalu asyik hingga enggan pulang. Tapi tak apa, bukankah itu artinya dia sedang berbahagia?

                Akh, sudahlah. Maaf jika aku terlalu terbawa suasana. Adikku selalu membagikan kebahagiaan. Pun aku percaya begitu juga dengan Dik Yoga. Jadi, seharusnya kita tidak punya alasan lagi untuk bersedih. Kerinduan berbeda dengan kesedihan. Kita akan selalu merindukan mereka. Tapi kesedihan tidak aku pilih untuk merayakan senyum mereka yang selalu akan aku kenang. Aku akan memilih untuk mengingat mereka dalam kebahagiaan.

                Mas, apa kamu heran mengapa aku menulis surat ini? Mengungkapkan kekecewaan? Menyatakan perasaan? Mendahuluimu menyampaikan apa yang ada dalam pikiran? Atau apa kesimpulanmu tentang semua ini? Aku bisa saja menyampaikannya, tapi aku memilih untuk menyimpannya saja. Sama seperti kamu yang tidak harus menjawab mengapa pergi menjauhiku. Cukup adil bukan? Hehehe.. Atau kalau kamu sungguh ingin tahu, nomorku masih sama. Path juga kamu tahu inisialnya. Andai pun tidak, tak mengapa.

                Dari awal aku pikir cerita Galih dan Ratna tidak sama dengan kita. Ternyata ada sisi yang cukup mirip. Mereka berdua berusaha dipisahkan oleh beberapa orang yang tidak menyetujui mereka bersama. Kalau kita, sepertinya dipisahkan oleh takdir. Klise.

                Akh, sepertinya sungguh sudah sangat panjang aku menceritakan semua yang aku rasa dan pikirkan. Pada akhir suratku yang panjang dan bertele-tele ini, aku ingin memanjatkan doa. Semoga semua yang kamu impikan terwujud. Kuliah S2-mu lancar. Menemukan jodoh yang sebanding dan sepadan, yang bisa saling membangun dan menguatkan. Dan semua doa-doa lain yang aku sematkan pada udara untuk dinaikkan menuju Sang Maha Esa.

                Berbahagialah selalu, Mas GalihWahyuAntoro.

Teriring salam dan doa,

-Ririn a.k.a bukan Ratna-



Kamis, 04 Februari 2016

Kepada Macan Di Tahun Monyet



Hai, Can. It’s been a while since our last meeting. Apa kabarmu? Aku selalu berharap kamu lebih dari sekadar baik-baik saja. Hawa dingin sisa hujan sepagian tadi masih terasa menusuk kulit. Tapi ada yang menjalar hangat di hatiku setiap kali mengingatmu. Sepertinya, aku tenang meringkuk di dalam selimut kenangan tentangmu. Tanpa harus pergi ke luar, menghadapi kenyataan yang seringkali lebih gigil daripada perasaan tentang masa lalu.

Bulan kedua di tahun monyet. Ada yang bilang ini tahun yang kurang bagus. Akan ada banyak perlawanan. Tapi, kita masih beruntung untuk urusan keuangan. Kita berdua sama-sama Macan. Tentunya kita tidak akan mudah dikalahkan. Bukankah macan itu tangguh dan tidak mudah menyerah? Akh, aku terlalu bernostalgia. Maaf, aku baru saja membaca artikel di suatu portal ramalan shio. Dan aku teringat padamu, kembaran macanku.

Kamu, lelaki hebat yang aku tahu. Gitaris band metal ternama (ahahaha), berbadan rambo tapi berhati rinto (ahahahahha lagi), a family man, teman yang baik, dan ayah yang luar biasa untuk anak gadisnya. Walaupun aku harus mengerutkan dahi berkali-kali setiap mendengar gurauan-gurauanmu, aku tetap akan memasukkanmu ke dalam daftar lelaki humoris (ahahahahaha untuk ketiga kalinya). Karena katanya, orang bershio macan memiliki selera humor yang mengagumkan. Oke, mari kita ber-hahahahaha untuk kesimpulan tadi J

Aku selalu merasa beruntung pernah mengenalmu. Walau aku sempat melewatkan masa melihatmu dengan rambut panjang lurus mirip personel F4 itu – yang tentu sangat aku syukuri karena tidak pernah menjumpainya ahahaha – dan juga banyak perjalananmu yang tak sempat aku ikuti. Aku bangga, pernah kamu percayai. Aku bersyukur pernah ada, ikut menanggung luka, walau tak seberapa lama.

Can, sudah beratus hari sejak tahun kambing kayu sampai monyet api sekarang ini. Banyak peristiwa terlewat yang kita saling tak mengetahui. Aku paham, aku bukan lagi teman bertukar cerita tentang apa saja. Dulu dan sekarang tentu saja berbeda. Dan, membuka kembali kotak pandora itu tentu membawa luka. Janji-jani yang sempat terucap, anggap saja sudah ditepati. Aku mengerti. Ada waktunya datang, ada waktunya pergi, dan aku tidak akan berusaha membuat semuanya kembali.

Tak perlu lagi membangun reruntuhan.

Tapi, walau bagaimana, kamu tahu pasti alasan aku tidak pernah bisa sepenuhnya menjauh. Ada sebagian ingatan yang selalu mengajakku untuk melewati lorong waktu. Tapi, aku tidak akan mengajakmu serta. Apa yang aku sebut pulang malah seharusnya adalah hal yang menjadi alasanmu untuk pergi. Ya, memang seharusnya demikian. Tidak ada yang salah dengan itu. Aku menerimanya sebagai hadiah. Walau aku tergores, tapi aku akan baik-baik seperti selama ini dan akan selalu begitu. Jangan kuatirkan aku.

Suatu saat nanti pasti kita akan dipertemukan kembali. Entah dengan situasi yang seperti apa. Entah apakah itu saat reuni SMP, saat kita bertemu pas jam makan siang, saat berpapasan di jalan, atau malah saat berada di pusat perbelanjaan. Saat itu jika aku belum berubah, maafkan jika mungkin aku memilih menyingkir. Aku takut akan marah kepada takdir. Tapi, jika aku sudah sekuat itu, aku akan mendekat, menjabat tanganmu, dan melemparkan pertanyaan basa-basi tentang kabar.

Terima kasih sudah pernah menjagaku. Menjauhkanku dari mata iseng dan siulan mengganggu serta yang lebih daripada itu. Terima kasih sudah mengajarkanku pelajaran berharga untuk tidak mudah percaya. Terima kasih sudah melatihku untuk mengalahkan luka.

Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh-kesahku. Menimpali gurauanku dengan lelucon jayusmu. Mempertahankan telingamu terhadap suaraku yang berantakan tiada tara yang aku kirim lewat voicenotes bertubi-tubi itu. Dan berjuta kekonyolan, kemarahan, dan kesalahan yang lain.

Terima kasih, Can.

Tetap pertahankan senyum malu-malumu itu.

Jangan suka marah ya. Aku tidak akan sempat untuk menyusun kacang lofet, permen cium, serta minuman susu tarik dalam botol itu, hanya untuk membuatmu tersenyum. Akh, iya, ada yang aku lupa. Setelah beberapa lama ini pasti kamu sudah sering belajar menyikapi semuanya tanpa bantuanku. Aku lega. Kamu memang setangguh macan.

Masih banyak dan mungkin terlalu banyak hal yang ingin aku sampaikan. Tetapi memang terkadang ada baiknya menyimpan sesuatu untuk kebaikan bersama.

Mari kita rayakan pertemuan dan perpisahan sebagai bagian dari kehidupan. Mari kita berpesta untuk setiap hari di depan yang akan kita lalui dengan berbagai kemungkinan. Berbahagialah! Dan saat kamu kehilangan sedikit bahagiamu, kamu tahu harus mencariku di mana. Aku akan bagikan kebahagiaanku untukmu.

Salam untuk ratu serta putri kecil dalam istanamu. Jadilah raja dan ksatria mereka. Aku? Pengembara dari negeri seberang, akan selalu memanjatkan doa-doa dari kaki langit. Untukmu. Untuk semua kebahagiaan yang kamu usahakan. Untuk semua, yang kamu perjuangkan.

Salam dalam kasih,
Your biggest fans and friend.
-Macan Api Yang Mengaku Bidadari-

“I have found the paradox, that if you love until it hurts, there can be no more hurt, only more love.”
-Mother Teresa-

Sabtu, 09 Januari 2016

Lara Penggalih

          Nama adalah doa. Demikian kata orang tua dahulu yang diamini oleh semua manusia di belahan manapun di dunia. Entah doa apa yang diinginkan oleh orang tuaku ketika menamaiku Lara Penggalih. Nama yang kedengarannya cukup keren hingga akhirnya aku tahu arti nama itu–yang sedihnya aku ketahui dari buku pelajaran bahasa Jawa–adalah “sakit hati”.
            “Galih, kamu harus bisa menyembuhkan sakit hatimu sendiri. Jangan benci bapakmu,” sambil berbaring lemah di ranjangnya, wanita yang aku panggil “ibu” itu mengelus kepalaku perlahan. Ini adalah kalimat kesekian kali yang sudah beliau ucapkan padaku. Sambil tersenyum tulus ibu menanti jawabanku, yang aku tahu bukan sebuah penolakan yang diinginkannya.
Akh, senyum itu. Senyum yang sangat berharga karena cukup mampu menggantikan suara tawa ibu. Sejak ibu sakit, aku nyaris tak bisa mendengar suara tawanya lagi. Butuh energi besar untuk ibu bisa menanggapi leluconku dengan terbahak-bahak. Lengkungan di bibir tipis ibu mampu menguapkan rasa lelah yang kupikul karena seharian bekerja.
            “Tapi, Bu. Bagaimana bisa aku harus melupakan orang yang sudah menelantarkan kita demi ambisinya sendiri? Katakan padaku, Bu, bagaimana caranya?”
Aku menggigil menahan air mataku agar tidak tumpah. Menahan gejolak dalam batinku untuk tidak memakai nada tinggi saat berbicara dengan ibu. Aku tak ingin kehilangan senyum manisnya. Selama dua puluh lima tahun ini aku menyangka bahwa bapakku sudah meninggal waktu aku kecil, seperti yang biasa ibu ceritakan sewaktu aku menanyakan sosok yang sudah memberiku mata bulat dan hidung bangir ini.
            “Jangan.. Jangan jadi seperti ibu dulu yang harus berjuang melawan sakit hati terlalu lama. Maafkan bapakmu, Lih. Luka itu memang harus sakit saat diobati, tapi setelahnya kamu akan sembuh. Itu permintaan terakhir ibu.”
            Aku menatap wajah ibuku yang terlihat begitu payah karena usia. Guratan perjuangan hidup terlihat jelas pada air mukanya. Menjadi janda di usia yang masih belia serta menjadi ibu saat belum mempunyai persiapan apa-apa dilakukan demi rasa cintanya kepadaku. Memutuskan menerima perceraian ketika bapak memilih untuk menikahi wanita yang usianya jauh lebih muda. Kata ibu, bapak memang doyan kawin cerai dan ibu tidak mau aku hidup dalam lingkungan yang seperti itu. Aku sudah lama menempa diriku untuk tidak menangis, tapi kali ini aku lupa bagaimana caranya.
            “Apa bapak akan menerimaku sebagai anaknya, Bu?” tanyaku terbata-bata.
            “Tentu saja bapakmu tidak bisa menolak anak sesempurna dirimu, Lih. Paling tidak, kamu bisa punya keluarga, saudara, daripada sendirian di sini. Galih, keluarlah ke dunia luar. Pandanglah segala sesuatu dari sudut yang lain.”
Aku mengangguk samar. Ini cara terbaik agar ibu tidak lagi risau. Aku lebih suka senyum bersahajanya daripada harus melihat wanita pahlawanku itu melukiskan gurat duka di wajahnya yang ayu. Namun aku tahu, anggukan itu juga merupakan janji. Dewa Baskoro, akan aku ingat nama itu baik-baik.
***
            Sudah hampir satu jam aku duduk di kursi kayu di teras rumah. Menyesap teh melati hangat sambil mendengarkan merdunya dedaunan yang gemerisik dibelai angin sore adalah hal yang tak pernah aku lewatkan. Aku bersyukur bisa dengan santai melepas penat setelah seharian lelah bekerja tatkala masih banyak orang yang tak punya waktu bahkan untuk sekadar berhenti dan minum kopi sambil bercengkerama dengan teman. Kemewahan yang sederhana.
            Dua bulan sejak kepergian ibu, aku belum juga memutuskan untuk pergi mencari bapak. Aku tidak tahu mulai dari mana. Memang ibu sudah memberi alamat lengkap rumah bapak, foto beliau saat masih muda dan beberapa pemberian bapak untuk ibu yang akan menguatkan posisiku di hadapan bapak. Tapi mungkin aku hanya belum siap untuk memulai hidup baru. Mulai mengenal lelaki yang aku harapkan keberadaannya sejak pertama kali aku lahir ke dunia.
            “Kok ngelamun, Lih?” Cukup lama nampaknya aku termenung larut dalam pusaran pemikiranku sampai-sampai aku tidak menyadari kedatangan Dinda yang sudah berdiri beberapa langkah di hadapanku.
            Aku tersenyum dan mempersilakannya duduk, “Nggak melamun kok. Aku cuma lagi berpikir aja. Ada apa?”
            Percakapan setelahnya membuatku untuk pertama kalinya merutuki kedatangan gadis ayu itu. Bukan karena aku tidak suka akan kedatangannya, aku selalu senang jika berjumpa dan melihat senyum manis gadis asal Pekalongan itu. Hanya saja kabar yang dibawanya terlalu menyesakkan. Cuaca sedang tidak panas tapi aku merasa gerah. Apalagi saat kulihat guguran hujan di kedua mata indahnya saat menceritakan tentang perjodohan yang dimandatkan bapaknya.
Aku hanya bisa memandanginya yang terbata saat bercerita, membayangkan bagaimana dia harus menikahi seseorang yang belum pernah dikenalnya, seseorang yang seharusnya lebih pantas dipanggilnya bapak, seseorang yang ingin sekali ditolaknya tetapi tidak bisa mengingat hutang keluarga. Akh, bapak. Tiba-tiba aku merasa sangat asing dengan kata itu.
Andai saja aku bisa mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya padanya. Memilih dirinya dari antara banyak hati yang pernah aku jelajahi. Cintaku tertambat padanya. Tapi inilah aku, yang hanya bisa menghindari hatiku sendiri. Aku tak pernah berusaha memberitahu Dinda bahwa aku sangat menyukainya karena kami tidak ditakdirkan untuk menjadi pasangan.
“Ini memang sudah jalan takdirku, Lih. Aku ikhlas menerima Pak Bas sebagai calon suamiku. Cinta bisa tumbuh jika sudah terlalu sering bersama setiap hari,” Dinda menatapku serius dengan mata sayunya, “Galih, berjanjilah untuk selalu bahagia. Kamu juga akan menikah suatu hari nanti. Pilihlah seseorang yang bukan selalu ada di sisimu, tapi bersedia selalu ada untukmu.”
“Iya.” Jawabku pendek.
Dinda melukiskan senyum di bibir tipisnya, “Cobalah buka hatimu buat Nat. Jangan gantungin dia, Lih. Kasih keputusan. Aku harap keputusan cerdas yang bakalan kamu pilih. Kamu nggak mau kan menyia-nyiakan orang sebaik dia?”
“Sepertinya memang harus begitu,” Aku hanya meringis. Geli bercampur sedih karena tidak bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya ada dalam hatiku kepadanya. Ini menyesakkan!
Sejurus kemudian kami berpelukan ketika Dinda mengatakan hendak pamit. Sebuah pelukan persahabatan. Aku mengelus punggungnya sambil berkata semua akan baik-baik saja, walau sebenarnya kalimat itu lebih pantas ditujukan kepadaku sendiri. Tercium olehku aroma apel yang bercampur dengan vanila dari rambut hitam panjangnya yang tergerai. Kulitnya halus dan terawat dengan baik. Kulitnya tidak putih, putih bagiku tidaklah selalu cantik.
“Lih, janji padaku, saat menghadiri resepsiku nanti kamu harus berdandan.”
***
Suara penyanyi campursari yang sedang melantunkan lagu “Layang Kangen” milik Didi Kempot mengantarku sampai di depan ruangan resepsi yang didominasi warna ungu muda dan emas. Rangkaian bunga segar menghiasi berbagai sudut ruangan. Sepasang kembar mayang menghiasi kedua tiang pintu masuk. Adat jawa terasa lebih kental setelah aku memasuki gedung yang berkapasitas seribu orang itu. Aku menyalami para among tamu yang berseragam baju jumputan warna ungu tua dan mengenakan jarik sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan pada tempat duduk di dekat pelaminan.
Dinda tidak memintaku untuk ikut sibuk mengurusi pernikahannya. Suaminya yang kaya raya sudah memakai jasa wedding organizer ternama untuk menangani perhelatan megah mereka. Dan lagi, Dinda ingin agar aku bisa menikmati kehadiranku sebagai tamu yang memberinya doa restu. Menyelami setiap prosesi pernikahan sakral itu bersama seseorang yang Dinda doakan akan menjadi pendampingku.
Ya, di sinilah aku sekarang, duduk bersisian dengan sosok tinggi bermata kopi yang tak pernah lelah memujiku cantik sejak pertama menjemputku di rumah. Aku sengaja memilih blouse peplum berbahan batik sogan dengan rok di atas lutut berbahan senada pemberian dari Dinda sebulan sebelum dia mengatakan akan menikah.
“Kamu pantas pakai baju itu,” Nat melirikku dengan senyumnya yang khas. Kumis tipisnya tertata rapi membingkai bibirnya yang penuh, “Mungkin kamu bisa mencoba memanjangkan rambutmu sedikit.”
Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Secara diam-diam pesona dan kesabaran Nat telah meluluhkan hatiku, walau aku belum bisa sepenuhnya menempatkan dia dalam hatiku.  Kupegang jemari kokohnya sambil menatap dalam ke arah mata elangnya, “Terima kasih mau menerimaku apa adanya, Nat.”
Dia mengangguk mantap, “Aku akan menunggumu membuka hati buatku. Aku mencintaimu. Aku akan membantumu menghadapi semua perasaan yang selama ini kamu simpan sendiri. Aku tahu, ada ruang untukku di hatimu. Kita hadapi ketakutanmu bersama.”
Aku tersenyum lega mendengar perkataannya. Natanael adalah satu-satunya lelaki yang aku percayai untuk memegang rahasia besarku. Aku yang memiliki ketakutan besar terhadap mahluk yang dinamai lelaki. Aku yang lebih tertarik kepada sesama, walaupun terkadang aku pun juga memiliki perasaan terhadap lawan jenisku. Nat sudah mulai berhasil merobohkan dinding pertahananku yang keras dan membuatku memasuki dunia yang berbeda, dunia dengan perspektif baru.
“Oh, iya, ada satu permintaanku padamu,” katanya lagi.
“Apa?”
Nat menatapku dengan serius, “Boleh aku memanggilmu dengan Lara? Nama itu lebih cocok untukmu dan terdengar lebih manis.”
Aku menggeleng cepat. Arti nama itu tidaklah begitu menyenangkan dan jauh dari kata manis. Serta merta aku menolak permintaannya. Namun belum sempat aku menyatakan penolakanku, Natanael sudah berujar lagi.
“Dalam bahasa Rusia, arti nama Lara adalah riang gembira. Dan Penggalih berarti hati. Pasti dulu ibumu ingin kamu menjadi gadis yang selalu memliki hati riang gembira. Dan terbukti, aku pun jatuh cinta kepada caramu tertawa.”
Aku tertegun sesaat. Mungkin ada benarnya perkataan Natanael. Aku belum pernah dengan serius menanyakan arti namaku pada ibu. Aku hanya mencari tahu sendiri, “Jadi kamu mau memanggilku dengan nama itu?”
Natanael mengangguk cepat, “Mulai sekarang namamu adalah Lara. Kita mulai hidup yang baru dengan perspektif berbeda.”
Gending Kodok Ngorek mengalun dengan merdu. Pembawa acara, dengan bahasa krama kedatonnya yang fasih, mengiringi langkah kedua mempelai memasuki ruangan. semua mata tertuju kepada sepasang raja dan ratu sehari itu.
Mataku menangkap sosok Dinda yang cemerlang disorot sinar lampu. Gaun beludru hitam dengan model kutu baru berekor panjang membalut tubuh sintal Dinda. Hiasan tujuh kembang goyang yang berkilau dan untaian melati menghiasi kepalanya. Senyum tak pernah lepas dari bibir Dinda yang diolesi lipstik berwarna merah pastel. Dinda nampak begitu cantik
Di samping Dinda nampak lelaki paruh baya yang masih nampak gagah di usianya yang tak lagi muda. Tak banyak memang yang aku tahu tentang suami sahabatku ini. Yang aku tahu, Dinda menyebutnya dengan Pak Bas. Duda beranak lima, pengusaha asal Jakarta. Katanya, dulu Pak Bas juga pernah punya istri orang sekampungku. Kebetulan yang sangat tidak terduga. Aku mengamati lagi mempelai pria yang beberapa meter lagi akan melewatiku. Wajahnya nampak tak asing. Keningku berkerut mencoba menggali data dalam memori otakku.
“Wah, Pak Harjo beruntung dapat menantu kaya sekelas Pak Bakoro,” aku mendengar bisik-bisik para ibu di belakangku, “Iyalah, siapa yang nggak kenal Dewa Baskoro, pengusaha properti yang hartanya nggak habis tujuh turunan.”
Jantungku seperti berhenti seketika. Aku menoleh lagi, memicingkan mataku untuk memastikan dan mencari jawab atas semua pertanyaan yang berkelebat cepat silih berganti dalam otakku. Dan kini, lelaki itu berdiri kurang dari tiga langkah di hadapanku. Aku bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas. Wajah yang sama dengan foto usang pemberian ibu. Benar, ini memang sungguh kebetulan yang tak terduga.
“I-itu... Bapak?”

***