Tampilkan postingan dengan label wish. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wish. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Maret 2017

A Gift To You : My Pisces Guy

Hei, kamu. Selamat ulang tahun ya. Selamat memasuki babak baru dalam sejarah hidupmu.

Waktu aku nulis catatan kecil ini, playlist di laptopku sedang memainkan lagu All Of Me-nya John Legend, yang secara otomatis selalu mengingatkanku padamu. Menyenangkan, sekaligus mengesalkan setiap kali aku mendengar lagu ini. Senang, karena rasanya seperti kamu sedang menyanyikan itu untukku. Kesal karena itu hanya menjadi “seperti”, bukan senyatanya.

Iya, aku nggak jadi melow kok. Aku tahu kamu akan kesal setiap kali aku jadi menye-menye. Lucu ya, kenapa aku masih saja menganggap apa yang kamu nggak suka itu penting. Aku masih merasa bahwa aku harus bisa menjaga diri karenamu. Aku harus bisa lebih bahagia karenamu. Aku harus bisa menunggumu yang selalu berkata “sabar ya, besok juga ketemu”, karenamu. Semua masih tentang kamu, selalu, dan kadang aku membenci itu.

Oh, maaf, harusnya catatan kecil ini adalah tentangmu, bukan tentangku. Tapi, apa yang bisa aku tuliskan tentangmu lagi selain apa yang aku tahu selama ini? Butuh waktu dua tahun, hanya untuk bisa bertemu denganmu sekali saja. Mungkin aku harus menunggu lagi selama empat belas purnama. Padahal kamu bukan Rangga, dan aku bukan cinta. Cerita kita juga  jauh dari Ada Apa Dengan Cinta. Mungkin lebih manis, atau lebih tragis. Biar Tuhan saja yang tahu.

Can, ada banyak cerita yang terlewat dariku tentangmu. Tapi tak apa. Asal aku lihat kamu bahagia, aku pasti akan baik-baik saja.
Hei, kamu tahu? Apa yang selalu aku panjatkan pada Tuhan setiap kali aku berdoa? Jangan tertawa, iya aku sekarang suka berdoa. Aku meminta agar suatu saat nanti bisa menyaksikanmu memainkan gitar lagi di atas panggung. Aku berharap ada di belakang panggung saja. Tentunya aku akan kesusahan kalau harus membaur dengan para pasukan babi itu ahahahha... melihatmu dari belakang panggung. Menunggumu selesai bermain. Menawarkan handuk padamu, menyeka keringatmu, kemudian kita tertawa, menertawakan apa saja.

Aku memang anggota klan utopis sejati.

Tapi tak apa. Bukankah manusia bisa hidup karena ada harapan-harapan. Dan harapanku adalah bisa bersamamu. Menjadi teman, menjadi sahabat baik, menjadi belahan jiwa yang selalu bisa menerima cerita, menumpulkan air mata, dan menyediakan bahu jika salah satu sedang lemah dan terluka. Itu saja. Terlampau jauh jika harus sehidup semati. Aku lebih memilih untuk bisa mengawal bahagia dan sedihmu saja. Walau nggak harus selamanya ada di sisimu.

Seringkali aku bertanya, apakah kamu berubah? Apakah kamu masih orang yang sama seperti empat tahun yang lalu? Akan sangat bodoh jika aku menepikan jawaban bahwa kamu sudah berubah. Lagipula kita semua berubah, bukan? Aku berubah, kamu berubah, kehidupan kita berubah. Walau aku masih menyertakan harap, bahwa masih ada ruang kecil dalam hatimu untuk seorang macan kecil sepertiku.

Kesibukan memang obat paling ampuh membunuh perasaan. Kamu yang penuh dengan waktu-waktu yang padat, aku dengan pikiran-pikiran yang sesak. Kapan kita bertemu? Dalam doa, tentu saja.

Can, selamat ulang tahun.

Aku nggak tahu, akan bermakna apa catatan kecil ini saat kamu membacanya. Tenang, aku nggak menulis ini buat nagih janji tentang Lekker Gajahan, maccaroon, atau janji “kamu bisa andelin aku kok” itu. Aku sudah bisa merelakannya. Kamu ingat aku pernah bilang, “orang yang paling sering berjanji, akan paling banyak mengingkari”. Bukan kamu saja, aku juga. Kita semua begitu.

Can, semoga tahun-tahunmu ke depan akan penuh dengan kelimpahan. Salah satunya adalah waktu. Aku berdoa, Tuhan akan mengaruniakan padamu waktu yang berlimpah. Bukan untukku. Tapi untukmu sendiri. Sehingga kamu bisa menikmati cinta dari orang-orang yang kamu sayangi tanpa harus tersita dengan semua pekerjaan yang menjemukan dan menuntut tanggung jawab itu. Juga waktu agar kamu bisa lebih menikmati bahagiamu.

Selalulah sehat, Can. Kalau kamu flu, janganlah minum obat melebihi dosis seperti biasanya. Badanmu nggak bisa selamanya menanggung beban obat-obatan berlebih begitu. Istirahatlah, Can. Bukan Cuma raga, tapi juga jiwa. Bahagialah, sekali lagi.

Wah, aku sudah mirip emak-emak. Begitulah, usia memang nggak bisa bohong ya? Tertawalah, untuk kali ini. Aku suka mendengar suara tawamu. Juga leluconmu yang seringkali nggak lucu itu. Aku tertawa, semata karena bahagia. Karena itu leluconmu. Karena itu adalah kalimatmu. Karena ada kamu. Begitu.

Can, maaf. Aku belum sempat memberimu kue lemon. Mungkin besok atau lusa. Atau beberapa waktu lagi yang nggak kita tahu pastinya. Tapi pasti, aku akan membuatnya dengan tanganku sendiri. Agar kamu tahu bahwa masih ada aku, yang mau mendengarkan semua yang menjadi inginmu, harapanmu, dan berusaha mewujudkannya, walau nggak semua.

Baiklah, Can. Sambil menunggu untuk bisa menjadi teman berbincangmu lagi. Aku akan terus memanjatkan doa. Menyampaikannya pada Tuhan dan semesta. Saat kita bertemu lagi nanti, aku percaya, kita berdua akan lebih dari baik-baik saja.

Jumat, 05 Februari 2016

Galih Dan (Bukan) Ratna

               Kali ini aku tidak sedang ingin bercerita tentang film romansa yang sempat laris di Tahun 1979 itu. Bukan juga akan mengisahkan tentang Rano Karno maupun Yessi Gusman. Aku hanya ingin menuturkan tentang kita. Ya, kamu – Mas Galih – dan aku, yang bernama bukan Ratna. Surat ini aku buat untukmu.

                Mas Galih yang selalu tersenyum manis, aku tahu kamu tidak terlalu suka membaca. Jadi, aku beritahukan hal ini terlebih dahulu. Suratku ini mungkin akan sangat panjang dan melelahkan untuk kamu baca. Aku tidak memaksamu untuk menghabiskannya dalam sekali duduk, aku tahu kamu sangat sibuk, Mas. Aku sudah sangat berterima kasih jika kamu mau membacanya. Jadi, tengoklah barang sebentar-sebentar, tapi aku harap kamu mau membacanya sampai halaman terakhir.

                Apa kabar Banjarmasin hari ini, Mas? Apakah mendung juga seperti Solo? Akh, memang Solo beberapa waktu ini diguyur hujan dan suasananya menjadi sangat sendu. Tapi sesungguhnya Solo yang teduh seperti ini memang yang aku rindukan setiap kali mencoba jauh. Andai saja kamu bisa singgah di sini sebentar. Aku akan mengajakmu berkeliling. Menikmati makanan khas yang mungkin cita rasanya tidak terlalu berbeda dengan Jogja, kota asalmu. Tapi, sepertinya hal berkunjung dan berjalan-jalan bersama itu sekarang menjadi cukup mustahil.

                Apakah koleksi batu akikmu juga sudah bertambah lagi, Mas? Aku sering membayangkan ikut bersamamu keluar masuk pasar, menemanimu menggerinda bongkahan-bongkahan itu hingga menghasilkan bebatuan yang cantik. Kamu sungguh pintar memoles. Tapi, aku juga tidak bisa menerka-nerka, apakah aku akan marah jika terkalahkan dengan hobi yang menyita waktumu setiap weekend dan liburan itu, atau aku akan bisa sabar menunggu? Aahahaha, itu hanya khayalanku saja, Mas. Aku tahu, aku tidak punya tempat lagi untuk memohon itu semua terkabul.

                Mas Galih yang bercita-cita ingin jadi advokat, lucu rasanya jika teringat waktu pertama kali kita berkenalan. Aku harus berterima kasih pada Dewi karena sudah menjadi jembatan agar aku bisa kenal dengan seseorang yang hebat sepertimu, Mas. Aku mengenalmu dari semua cerita Dewi. Dan, you obviously captured me! Dari foto yang Dewi bagikan padaku, aku merasa bahwa kamu punya aura yang baik. Kemudian, kamu menyapaku lewat aplikasi chat di smartphone. Apa kamu tahu? You really had me at hello.

                Membingungkan sekali, bahwa aku jadi bisa begitu terperangkap padahal kita belum pernah bertatapmuka. Aku jadi sering tersenyum sendiri kala itu, setelah aku pikir alasannya, itu semua karena kamu, orang yang serius dan humoris pada saat yang bersamaan. Perhatian kecil yang kamu berikan di pagi hari cukup untuk membuat suasana hatiku cerah seharian.

                Mas Galih yang hobi kuliner, apa kamu ingat saat akhirnya kita dipertemukan untuk pertama kalinya di Jogja? Maaf merepotkanmu kala itu karena harus menjemputku. Dan ujungnya kamu malah aku biarkan sendirian bermain dengan smartphone-mu sementara aku menghilang sebentar bersama teman-temanku. Aku masih merasa menyesal sampai sekarang. Tapi terima kasih, kamu sudah sabar menghadapiku yang membuat kita tersasar karena aku lupa denah dan alamat.

                Jalanan kota Jogja yang hanya bisa kita nikmati sebentar selalu membawa nostalgia. Begitu pula dengan Raminten. Aku selalu terpikir tentangmu setiap mengingat Jogja. Kenangan adalah candu. Bagaimana cara aku mendapat obat penawarnya?

                Aku masih ingat, Mas Galih, saat kita berkeliling sudut Jogja dengan motor matic hitam itu. Aku terkejut saat kamu memegang tanganku dan mengatakan agar memasukkan jemariku ke dalam saku jaketmu agar tidak kepanasan. Kamu pasti tidak melihat bagaimana pipiku yang seharusnya disembunyikan karena bagian itulah malahan yang terasa panas, bukan tanganku. Andai saja aku bisa sedikit lebih lama di Jogja. Andai saja aku bisa menghabiskan waktu dan mengenalmu lebih jauh. Terlalu banyak yang ingin aku ulang, Mas. Andai takdir mengizinkan. Andai saja.

                Dan kemudian yang aku takutkan terjadi. Kamu mulai menjauh secara tiba-tiba. Walau sebenarnya dari awal saat kamu enggan memanggilku hanya dengan sekadar nama, aku sudah merasakannya. Ada jarak yang memang sedang kamu terapkan, tapi di saat yang sama kamu juga ingin mendekat. Kamu masih ragu-ragu, namun juga antusias. Ternyata kita berdua adalah manusia impulsif yang sama.

                Aku merasa kehilangan, Mas. Tapi aku tahu, kamu sudah memilih. Dan aku harus menghormati pilihan itu. Kadang, aku menyalahkan diriku yang memang suka terlalu terburu-buru. Seharusnya aku tahu, kamu memang butuh waktu. Mungkin, kamu butuh lebih dari sekadar memaklumi cinta pada pandangan pertama. Sebab pandangan kedua, ketiga dan seterusnya bisa lebih mencelikkan mata.

                Dewi sempat bertanya padaku apa yang terjadi dan hanya bisa aku jawab dengan senyuman. Aku hanya bisa menjawab bahwa kita sepertinya tidak akan memulai sesuatu yang lebih serius karena menjadi kawan juga sudah merupakan hubungan yang bisa dirayakan. Walau aku sepertinya merasa terluka untuk sebuah sebab yang mungkin salahku sendiri karena terlalu banyak menerka-nerka.

                Mas Galih yang akhirnya memilih untuk menjadi seorang teman, aku tahu bahwa kita tidak bisa memaksakan perasaan. Walau sejak pertama sejujurnya aku ingin bisa memiliki senyum manismu dan kekonyolan serta semua yang ada padamu untuk menemani langkahku, tapi aku tahu bahwa segalanya sudah diatur. Termasuk ketika aku tidak bisa mendapat apa yang aku mau. Kamu berhak mendapat yang terbaik. Walau begitu, cerita kita adalah dentingan nada terbaik dalam musik kehidupanku yang aku favoritkan. Karena yang terbaik tidaklah selalu harus dimiliki namun cukup untuk dinikmati.

                Seseorang dengan berbagai tanya yang aku belum temukan jawabannya, Mas Galih. Aku tahu mungkin aku terlalu terburu-buru menurut pandanganmu. Aku sudah mulai lupa apa warna favoritmu, entah hijau entah merah. Aku juga sudah mulai lupa apa makanan favoritmu, apakah kamu suka kecap atau tidak. Aku juga tidak tahu alasan kamu selalu menulis nama lengkapmu tanpa spasi. Aku sudah mulai memudarkan ingatanku. Lantas apa yang kamu lakukan selama beberapa bulan ini? Pastinya kamu sudah menemukan dunia baru. Tentu saja.

Ohiya, aku sekali lagi mengucapkan turut berbelasungkawa atas meninggalnya adikmu ya, Mas. Pasti berat ditinggalkan oleh orang tersayang dengan begitu mengejutkan. Tapi aku selalu percaya, Tuhan begitu mengasihi Dik Yoga. Tuhan menjaganya baik-baik di surga sana. Dik Yoga pastilah kesayangan Allah, sampai dia dijemput lebih dulu. Dan Mas Galih beserta keluarga akan diberikan kekuatan lebih untuk menjalani kehidupan hari demi hari.

                Aku tahu rasanya kehilangan, Mas. Empat tahun yang lalu, adikku juga sudah berpulang terlebih dahulu setelah berjuang melawan sakit selama dua bulan. Usianya baru sebelas tahun waktu itu. Dia masih terlihat gemuk dan ceria ketika aku terakhir memandangnya tertidur panjang. Kanker darah yang membuka jalan adik kecilku untuk menghadap Sang Khalik.

                Mungkin saat ini, adikku Frans sedang bermain bersama Dik Yoga, ya siapa tahu. Kita juga akan bertemu mereka kelak. Semua hanya perpisahan sementara. Terkadang, aku mengalihkan rasa rinduku dengan berpikir bahwa adikku sedang bermain bola bersama kawan-kawannya, terlalu asyik hingga enggan pulang. Tapi tak apa, bukankah itu artinya dia sedang berbahagia?

                Akh, sudahlah. Maaf jika aku terlalu terbawa suasana. Adikku selalu membagikan kebahagiaan. Pun aku percaya begitu juga dengan Dik Yoga. Jadi, seharusnya kita tidak punya alasan lagi untuk bersedih. Kerinduan berbeda dengan kesedihan. Kita akan selalu merindukan mereka. Tapi kesedihan tidak aku pilih untuk merayakan senyum mereka yang selalu akan aku kenang. Aku akan memilih untuk mengingat mereka dalam kebahagiaan.

                Mas, apa kamu heran mengapa aku menulis surat ini? Mengungkapkan kekecewaan? Menyatakan perasaan? Mendahuluimu menyampaikan apa yang ada dalam pikiran? Atau apa kesimpulanmu tentang semua ini? Aku bisa saja menyampaikannya, tapi aku memilih untuk menyimpannya saja. Sama seperti kamu yang tidak harus menjawab mengapa pergi menjauhiku. Cukup adil bukan? Hehehe.. Atau kalau kamu sungguh ingin tahu, nomorku masih sama. Path juga kamu tahu inisialnya. Andai pun tidak, tak mengapa.

                Dari awal aku pikir cerita Galih dan Ratna tidak sama dengan kita. Ternyata ada sisi yang cukup mirip. Mereka berdua berusaha dipisahkan oleh beberapa orang yang tidak menyetujui mereka bersama. Kalau kita, sepertinya dipisahkan oleh takdir. Klise.

                Akh, sepertinya sungguh sudah sangat panjang aku menceritakan semua yang aku rasa dan pikirkan. Pada akhir suratku yang panjang dan bertele-tele ini, aku ingin memanjatkan doa. Semoga semua yang kamu impikan terwujud. Kuliah S2-mu lancar. Menemukan jodoh yang sebanding dan sepadan, yang bisa saling membangun dan menguatkan. Dan semua doa-doa lain yang aku sematkan pada udara untuk dinaikkan menuju Sang Maha Esa.

                Berbahagialah selalu, Mas GalihWahyuAntoro.

Teriring salam dan doa,

-Ririn a.k.a bukan Ratna-



Senin, 28 Mei 2012

Jika Kamu Bertanya Siapa Aku

Aku adalah rumah untukmu, dimana kamu akan merasa dicintai dan diterima.

Aku adalah sepatumu, yang terkadang kamu injak, tapi aku tetap setia menemani setiap langkahmu.

Aku adalah doa, yang mungkin sering lupa kamu panjatkan, tapi Tuhan tau, aku masih ada di sela2 setiap curahan hatimu kepada-Nya.

Mungkin juga aku adalah bunga tidurmu, yang kadangkala datang, saat kamu tanpa sengaja sempat memikirkanku.

Yang ada padaku hanyalah kesederhanaan. Tidak ada hiruk pikuk dan keriuhan yang kamu dapatkan dariku. Tapi padakulah nantinya kamu akan bersandar, saat kamu mulai lelah.

Aku juga adalah rasa sepi dan sakitmu, perasaan paling manusiawi yang dekat padamu.

Aku adalah kamu.

Jika nanti kita ternyata belum juga berjodoh, aku akan berusaha sekali lagi untuk meyakinkan, Tuhan...

Dariku yang lelah menunggu, namun tak kunjung mencari

Minggu, 27 Mei 2012

Tulisan Abstrak Kepadamu Yang Jauh

Entahlah mengapa aku memberi judul demikian. Aku sudah malas berpikir, aku jemu untuk membayangkan.
Aku, yang selama ini menunggumu, dalam keriaan yang sempat kita ciptakan bersama dan juga dalam diam yang kita munculkan saat semuanya terasa menjemukan.

Aku sudah memilih banyak cara untuk mencintaimu.

Diam2 memperhatikanmu, atau dengan lugas menyatakan ketertarikanku padamu. Tapi semua tidak pernah bisa membuatmu menoleh, barang sedetik kepadaku.

Dulu saat jarak memisahkan kita, aku setidaknya masih bisa memiliki perhatianmu, dan aku anggap aku sudah menggenggam secuil hatimu. Aku bisa mendengar suaramu yang menyapaku dalam jam2 yang sekarang sering aku rindukan. Kita memang jauh, tapi sebenarnya dekat.

Namun kini, saat jarak kita semakin dekat, hanya sejengkal saja kita sudah bisa bertemu, kita malah kehilangan daya untuk bisa bersama. Semua jalan kita untuk bersama, tertutup. Apakah aku yang menutupnya tanpa sengaja?? Atau kamu yang memang sudah merencanakannya.

Sepertinya aku lelah untuk menunggu. Sudah cukup banyak waktu yang aku pertaruhkan untukmu. Tapi sebenarnya aku sendiri juga masih ragu, haruskah aku memberikan lebih banyak lagi??

aku mencintaimu dengan alasan yang tidak aku ketahui.

Dulu, aku menyukaimu karena kamu mau belajar mengerti diriku. Tapi kini, saat kamu sepertinya lupa akan hadirnya diriku, aku masih saja mencintaimu. Alasan apa yang sebenarnya aku gunakan untuk terus mencintaimu?? Ataukah aku sedang membohongi diriku??

Aku hanya butuh kamu tau. Aku ingin menatap matamu, merasakan kedalaman hatimu. Sekali lagi, menyentuhnya, walaupun aku mungkin tidak bisa memilikinya.

Sabtu, 26 Mei 2012

Impian Absurd


Kalo di pikir2 aku tuh sering juga punya impian2 absurd dalam perjalanan hidupku yang udah 26 tahun ini.

Impian absurd yang pertama, yang pernah aku inget sewaktu aku masih kecil itu pengen jadi ilmuwan. Alesannya sederhana banget, aku seneng liat orang yang lalu lalang di dalam laboratorium pake jas putih, trus campur2 bahan jadi warna-warni gitu.

Tapi kemudian aku menyadari bahwa matematika, kimia dan fisika adalah pelajaran yang tingkat kesulitannya nggak wajar, maka sejurus kemudian musnahlah impian buat jadi ilmuwan itu.

Impian kedua adalah pengen jadi pemain sirkus, karena menurutku mereka keren bisa lakuin trik2 yang selalu bikin aku melongo dan bilang “wah”. Apalagi badan mereka bagus2, jadinya bisa pake pakaian keren2.

Tapi lagi2 impian itu gagal. Karena aku gak suka olahraga, sangat amat malez buat latihan badan dan di kotaku jarang ada sirkus.

Oke, aku juga pernah mimpi bisa jadi pahlawan pembela kebenaran kayak di pilem2. Dan aku begitu pengen jadi sailormoon. Selain karena karakter yang ada di dlm film sailormoon itu cantik2, aku juga pengen banget tuh bisa berubah wujud gitu, dan bisa punya alat teleport.

Yah, impian tinggal impian. Boro2 pembela kebenaran, pembela kebetulan aja kagak pernah. Apalagi setelah aku menyadari, sailormoon harus pake seragam sependek itu, sementara kaki-ku gedhe2 kayak tales bogor. Rasa percaya diriku hancur berkeping-keping.

Itu beberapa impian ku waktu masih kecil dulu sih. Masih banyak sebenarnya, karena aku ini tergolong anak yang punya daya imajinasi tinggi. Dan kadang suka berhalusinasi :p



Sekarang ini impian absurdku adalah jadi pelawak. No offense buat mereka yang berprofesi sebagai pelawak ya. Aku bilang absurd adalah karena aku sendiri pada dasarnya ngerasa gak lucu. Kalo cantik sih iya, aku akui itu, tapi kalo lucu??? Nope!!

Tapi aku suka banget liat para komedian di atas panggung, dengan lawakan2 yang cerdas, mereka bisa membuat kita tersentil tanpa ada rasa tersinggung. Aku lebih suka pelawak yang “smart” dalam nyampein materi, bukan karena cela2an masalah fisik.

Entah kenapa aku pengen juga jadi pelawak. Karena pada dasarnya manusia butuh buat ketawa, dan menurutku pelawak itu pekerjaan berat dan mulia. Secara, hidupku ini kan udah penuh dengan tragedi ya, jadi kayaknya udah semestinya aku bisa membuat hidupku sedikit bisa bersinar dan bersinergi dengan rasa hangat yang dibawa oleh tawa.

Well, let’s see then. Mungkin suatu saat nanti aku bisa aja jadi pelawak. Paling tidak aku bisa menertawakan diriku sendiri dulu, dan menjadikan masalahku sendiri menjadi ringan sebelum aku bisa mengurangi beban hidup orang lain :D

Salam satu tawa.. Ha..ha..ha..

Senin, 07 Mei 2012

Bintang : Sebuah Metafora


Menurut wikipedia definisi bintang adalah :
"Benda langit yang memancarkan cahaya"

Ada banyak contoh bintang. Matahari, bulan, dan sirius adalah contohnya. Masih banyak yang lain lagi tentunya.

Tanpa bintang mungkin kita akan melihat langit dengan cara yang berbeda. Bintang memberi kita dan alam semesta ini, banyak hal untuk dipelajari.

Jadi inget waktu masih di rumah lama, waktu langit cerah, aku sering naik ke loteng buat ngeliat bintang. Rasanya menakjubkan melihat kerlipnya diantara hamparan langit yang luas.

Bintang banyak mengilhami orang, sehingga menjadikannya sebagai salah satu penanda prestasi. Sebut saja "bintang kelas", "hotel berbintang", "superstar" dll.

Bintang itu aku.

Bintang juga adalah metafora diriku, karena aku yakin di dalam diriku ada kekuatan untuk membuatku bersinar.

Sebenarnya, menurut pendapatku, semua orang adalah bintang untuk dirinya dan untuk orang2 yang menyayangi mereka, tapi kadang karena banyak hal luminositas mereka sebagai bintang berkurang.

Mungkin aku juga termasuk salah satu bintang yang redup itu, tapi aku masih punya banyak kesempatan untuk bersinar. Bahkan bintang yang sudah tidak mengeluarkan sinar-pun masih dianggap bintang, karena mereka pada dasarnya adalah bintang. They are there to be a star.

Aku pengen "bersinar" secara holistik, keseluruhan. Jadi tubuh, jiwa, dan ragaku menjadi satu kesatuan yang utuh yang bersinar. Bukan cuma masalah materi atau ketenaran, tapi lebih ke fungsional, bagamana aku bisa membawa dampak positif bagi orang lain.

Jalannya masih sangat panjang, tapi bukan berarti nggak bisa. Aku nggak tau waktunya tapi aku tau itu nggak lama lagi. Masih ada banyak tugas hingga bisa sampai ke taraf "bintang yang bersinar terang." Harus ada yang dikorbankan dan diusahakan. Ada harga yang harus dibayar.

Aku berharap aku juga bisa membuat bintang2 redup di sekelilingku menjadi bintang yang kembali bersinar terangnya. Mungkin kami bisa membuat gugusan rasi bintang, yang pada akhirnya bisa membawa manfaat bagi orang lain.

Menjadi bintang nggak harus berdiri sendiri, kan?? Contohnya rasi bintang biduk, dgn kumpulan bintang ini bisa menolong nelayan menemukan arah mereka sewaktu ada di laut.


Menyenangkan sepertinya walau cuma dengan ngebayangin aja. Tapi aku nggak boleh cukup puas. Benahi diri sendiri dulu, sebelum membenahi orang lain. Jalannya nggak mudah, tapi pasti bisa.

Aku punya Tuhan yang luar biasa, keluarga yang mengasihku dan sahabat2 yang mendukungku.

Be a sparkling superstar is my destiny!!!

SEMANGAT!!!!

Sabtu, 05 Mei 2012

Welcome To The 26th


Apa yang ada di benakmu tiap kali denger kata ulang tahun??? Selain kado, ucapan selamat dan bertambah tua???

Buat aku, bertambah usia berarti bertambah tanggung jawabnya, dan itu yang aku sadari paling berat.

Tanggal 3 Mei 2012 kemarin aku resmi 26 tahun. Usia yang gak lagi bisa di bilang anak-anak. Usia dimana kita harus bisa mengerti apa tujuan hidup kita.

Banyak hal yang aku sadari di saat2 mejelang memasuki usia yang baruini. Bahwa hidupku harus bisa lebih bermanfaat buat orang lain, tapi sebelumnya aku harus bisa puas dengan diriku sendiri dulu.

Masih banyak hal yang pengen aku capai di dunia ini, tapi kadang visi ku ke depan itu membuat aku lupa bahwa untuk meraihya pasti ada hubungannya dengan orang2 di sekelilingku.

Kadang aku terlalu sibuk memikirkan aku harus mencapai apa, harus dapat apa, tapi nggak sadar bahwa kadang aku mengorbankan orang yang ada di sekitarku, terlebih orang2 yang menyayangiku.

Aku menyadari itu ketika aku marah dengan beberapa temanku yang lupa hari ulang tahunku. Tapi kemudian aku ingat, aku pun juga lupa mengucapkan selamat ulang tahun kepada mereka, karena aku menunda mengucapkannya dengan alasan akan menyelesaikan "tugas" yang lebih "penting".

Padahal dengan hal kecil, seperti mengucapkan selamat ulang tahun, selamat pagi atau hal2 kecil lainnya, kita bisa menciptakan kebahagiaan untuk orang lain, dan aku lupa akan hal itu.

Menunda2 dan membuat alasan adalah salah satu "keahlianku" yang sebenarnya nggak aku suka, dan pengen aku hilangkan, paling nggak aku minimalisasi.

Nggak gampang buat berubah, tapi aku musti berusaha sebaik mungkin. TUhan pasti buka jalan alo kita mau berusaha.

Ada pepatah mengatakan :

"Menjadi tua itu pasti tetapi untuk menjadi dewasa itu pilihan."


Kamis, 19 April 2012

My Upcoming Tattoo


Sebagian besar masyarakat kita masih menganggap tattoo sebagai hal yang tabu, abnormal dan gak sesuai kaidah agama. Tattoo selalu diidentikkan dengan kekerasan, kriminalitas dan pemberontakan. Masalah gender jg sering dikait2kan dgn tattoo. Cewek yg punya tattoo seringkali di cap miring sama masyarakat. Masih banyak yg ngartiin kalo badannya bersih, artinya hati dan pikirannya juga bersih. Well, gak nyambung sih ya. Tapi orang boleh aja beropini.

Kalo aku sih agak sedikit liberal ya, aku anggap tatto itu artwork, karya seni, yang indah dan layak diapresiasi. Mungkin emang kebetulan aja, para pelaku kriminal, trus yang dipandang "miring" sama masyarakat itu punya tattoo, tapi yg jadi masalah bukan tattoo-nya kan berarti? Tapi pribadi masing2.

Mungkin tattoo cuma mengalami pergeseran makna aja. Dari yang semula sebagai aktualisasi diri kemudian dijadikan stereotipe ttg klasifikasi kelompok tertentu. Lagi2 yg bikin stereotipe itu ya masyarakat. Emang susah hidup di lingkungan masyarakat timur, bukan berarti aku gak bersyukur sih, cuman kadang hal2 yang simpel bisa jadi super ribet. Padahal masalah rajah-merajah tubuh ini udah ada jauuuuuuuuhhhh sebelum orang mengenal rumus fisika. Memang ada juga budaya pagan yg mengambil tattoo sebagai perlambang kedekatan mereka dgn dewa, mungkin ini kali ya yg mendasari bbrp orang berpendapat bahwa merajah tubuh itu berarti menghormati dewa2 dan gak sesuai ajaran agama.

Orang tua-ku juga masih pegang paham kayak yg diatas aku sebutin tadi. Mereka berpendapat tattoo itu dosa :) Dan aku udah dinasehatin macem2 supaya jangan pernah sekalipun bikin tattoo bahkan walo tattoo yang segedhe upil. well, dulu waktu kecil sih aku iya2 aja gitu, tapi kesininya koq malah aku makin jatuh cinta aja sama this body artwork. Gegara sering diajakin temen ke tempat tattoo, liat2 gambar tattoo, and berteman sama orang2 asyik yang notabene ber-tattoo tapi tetep "terhormat" aja gitu dipandang lingkungan.

Tapi buat ngedapetin tattoo juga gak mudah buat aku, sampe sekarang belum dapet izinnya dari ortu hahahaha. Yah, walopun punya gak punya tattoo itu urusan pribadi ya, tapi teteplah aku gak mau dikutuk jadi anak durhaka karena ngelanggar larangan ortu, apalagi cuman masalah tattoo hahahahahaha. Gak lucu aja gitu kedengarannya. Yah, Ribetnya minta izin tuh lebih ribet dari urusan minta izin nikah dech kayaknya :p But, kayaknya akhir2 ini jalan kesana udah mulai kebuka. Ortu udah mulai gak kaku2 banget, karena banyak contoh disekitar yang nunjukin bahwa tatto itu gak sebahaya yang orang ceritain.

And yak, aku milih gambar kupu2 buat tattoo pertamaku nanti. Karena menurut filosofi-nya, kupu2 itu simbol kedewasaan. Karena kupu2 lahir dari proses metamorfosis. Kupu2 juga simbol kebebasan, karena dia bebas terbang kemana aja. Selain segala simbol filosofis di atas, aku milih kupu2 emang karena aku suka hewan cantik satu ini. Dia hewan yang anggun, indah dan istimewa. Pokoknya, suatu saat nanti tattoo kupu2 itu bakalan ada di salah satu bagian tubuhku. Kalo udah kesampaian, bakalan aku upload lagi fotonya :) Sekarang berdoa dulu aja lagi akh, biar dapet wangsit :p ...............