Tampilkan postingan dengan label share. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label share. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Maret 2017

A Gift To You : My Pisces Guy

Hei, kamu. Selamat ulang tahun ya. Selamat memasuki babak baru dalam sejarah hidupmu.

Waktu aku nulis catatan kecil ini, playlist di laptopku sedang memainkan lagu All Of Me-nya John Legend, yang secara otomatis selalu mengingatkanku padamu. Menyenangkan, sekaligus mengesalkan setiap kali aku mendengar lagu ini. Senang, karena rasanya seperti kamu sedang menyanyikan itu untukku. Kesal karena itu hanya menjadi “seperti”, bukan senyatanya.

Iya, aku nggak jadi melow kok. Aku tahu kamu akan kesal setiap kali aku jadi menye-menye. Lucu ya, kenapa aku masih saja menganggap apa yang kamu nggak suka itu penting. Aku masih merasa bahwa aku harus bisa menjaga diri karenamu. Aku harus bisa lebih bahagia karenamu. Aku harus bisa menunggumu yang selalu berkata “sabar ya, besok juga ketemu”, karenamu. Semua masih tentang kamu, selalu, dan kadang aku membenci itu.

Oh, maaf, harusnya catatan kecil ini adalah tentangmu, bukan tentangku. Tapi, apa yang bisa aku tuliskan tentangmu lagi selain apa yang aku tahu selama ini? Butuh waktu dua tahun, hanya untuk bisa bertemu denganmu sekali saja. Mungkin aku harus menunggu lagi selama empat belas purnama. Padahal kamu bukan Rangga, dan aku bukan cinta. Cerita kita juga  jauh dari Ada Apa Dengan Cinta. Mungkin lebih manis, atau lebih tragis. Biar Tuhan saja yang tahu.

Can, ada banyak cerita yang terlewat dariku tentangmu. Tapi tak apa. Asal aku lihat kamu bahagia, aku pasti akan baik-baik saja.
Hei, kamu tahu? Apa yang selalu aku panjatkan pada Tuhan setiap kali aku berdoa? Jangan tertawa, iya aku sekarang suka berdoa. Aku meminta agar suatu saat nanti bisa menyaksikanmu memainkan gitar lagi di atas panggung. Aku berharap ada di belakang panggung saja. Tentunya aku akan kesusahan kalau harus membaur dengan para pasukan babi itu ahahahha... melihatmu dari belakang panggung. Menunggumu selesai bermain. Menawarkan handuk padamu, menyeka keringatmu, kemudian kita tertawa, menertawakan apa saja.

Aku memang anggota klan utopis sejati.

Tapi tak apa. Bukankah manusia bisa hidup karena ada harapan-harapan. Dan harapanku adalah bisa bersamamu. Menjadi teman, menjadi sahabat baik, menjadi belahan jiwa yang selalu bisa menerima cerita, menumpulkan air mata, dan menyediakan bahu jika salah satu sedang lemah dan terluka. Itu saja. Terlampau jauh jika harus sehidup semati. Aku lebih memilih untuk bisa mengawal bahagia dan sedihmu saja. Walau nggak harus selamanya ada di sisimu.

Seringkali aku bertanya, apakah kamu berubah? Apakah kamu masih orang yang sama seperti empat tahun yang lalu? Akan sangat bodoh jika aku menepikan jawaban bahwa kamu sudah berubah. Lagipula kita semua berubah, bukan? Aku berubah, kamu berubah, kehidupan kita berubah. Walau aku masih menyertakan harap, bahwa masih ada ruang kecil dalam hatimu untuk seorang macan kecil sepertiku.

Kesibukan memang obat paling ampuh membunuh perasaan. Kamu yang penuh dengan waktu-waktu yang padat, aku dengan pikiran-pikiran yang sesak. Kapan kita bertemu? Dalam doa, tentu saja.

Can, selamat ulang tahun.

Aku nggak tahu, akan bermakna apa catatan kecil ini saat kamu membacanya. Tenang, aku nggak menulis ini buat nagih janji tentang Lekker Gajahan, maccaroon, atau janji “kamu bisa andelin aku kok” itu. Aku sudah bisa merelakannya. Kamu ingat aku pernah bilang, “orang yang paling sering berjanji, akan paling banyak mengingkari”. Bukan kamu saja, aku juga. Kita semua begitu.

Can, semoga tahun-tahunmu ke depan akan penuh dengan kelimpahan. Salah satunya adalah waktu. Aku berdoa, Tuhan akan mengaruniakan padamu waktu yang berlimpah. Bukan untukku. Tapi untukmu sendiri. Sehingga kamu bisa menikmati cinta dari orang-orang yang kamu sayangi tanpa harus tersita dengan semua pekerjaan yang menjemukan dan menuntut tanggung jawab itu. Juga waktu agar kamu bisa lebih menikmati bahagiamu.

Selalulah sehat, Can. Kalau kamu flu, janganlah minum obat melebihi dosis seperti biasanya. Badanmu nggak bisa selamanya menanggung beban obat-obatan berlebih begitu. Istirahatlah, Can. Bukan Cuma raga, tapi juga jiwa. Bahagialah, sekali lagi.

Wah, aku sudah mirip emak-emak. Begitulah, usia memang nggak bisa bohong ya? Tertawalah, untuk kali ini. Aku suka mendengar suara tawamu. Juga leluconmu yang seringkali nggak lucu itu. Aku tertawa, semata karena bahagia. Karena itu leluconmu. Karena itu adalah kalimatmu. Karena ada kamu. Begitu.

Can, maaf. Aku belum sempat memberimu kue lemon. Mungkin besok atau lusa. Atau beberapa waktu lagi yang nggak kita tahu pastinya. Tapi pasti, aku akan membuatnya dengan tanganku sendiri. Agar kamu tahu bahwa masih ada aku, yang mau mendengarkan semua yang menjadi inginmu, harapanmu, dan berusaha mewujudkannya, walau nggak semua.

Baiklah, Can. Sambil menunggu untuk bisa menjadi teman berbincangmu lagi. Aku akan terus memanjatkan doa. Menyampaikannya pada Tuhan dan semesta. Saat kita bertemu lagi nanti, aku percaya, kita berdua akan lebih dari baik-baik saja.

Sabtu, 21 Januari 2017

From Hi To Good Bye

Blenkceque! Tema hari ini beneran membuat saya harus menyiapkan tisu terlebih dahulu. Apalagi waktu lagi nulis ini, cuaca di luar lagi gerimis manja dengan mendung pekat yang berarakan seperti mengajak tawuran. Sungguh!

Kalau diingat, pertemuan pertama saya dengan dia, yang kemudian saya panggil dengan Can, kepanjangan dari Macan, berawal dari pesan singkat di bbm. Klasik ya? Begitulah. Karena kebetulan receh seperti itulah kemudian saya bisa menikmati adegan-adegan mainstream picisan di ftv yang dulu selalu sukses membuat saya mencibir dan mengganti saluran.

“Ini Ririn ya? Ya ampun kamu beda banget sekarang?”

Sebuah pertanyaan umum yang bakalan dilontarkan oleh semua teman masa kecil yang melihat perubahan saya. Lha memangnya saya dulu bagaimana? Tenang, saya bahas di postingan berikutnya ya. Including several beauty hacks. Oke, balik ke pembahasan sebelumnya. Bisa tebak apa yang terjadi selanjutnya, kan? Yap, saya ditinggal tidur. Percakapan kami setiap hari memang selalu berlangsung sampe hampir dini hari dan saya yang adalah keluarga dari batgirl selalu memenangkan pertarungan adu melek ini.

Saya selalu mampu tertawa dengan semua leluconnya yang sebenarnya sangat nggak lucu. Kemampuannya melucu yang nggak lucu itu membuatnya jadi lucu. Ribet ya? Iya, kisah cinta kami juga seribet itu. Sebetulnya niat awal adalah pengin membalas “kesombongan”nya yang nggak pernah melihat saya ada. Padahal kami satu sekolah, juga satu gedung waktu kuliah walau beda jurusan, tapi kami serasa adalah orang asing yang akan salah tingkah jika nggak sengaja bertatapan mata.

Obrolan demi obrolan selalu menjadi hal yang nggak pernah kami lewatkan. Saya sering mengiriminya puisi, yang saat sekarang saya ingat lagi bisa membangkitkan rasa geli. Dia pernah mengirimi saya rekaman audio waktu menyanyikan sebuah lagu sambil bermain gitar. Juga bertukar foto dengan pose-pose memalukan. Saya masih ingat betul foto jadulnya dengan rambut ala kangen band. Sumpah itu mengerikan dan menggelikan sampai saya mau mati kaku saking geli dan nggak bisa berhenti tertawa.

Selama dua bulan kami hanya intens ngobrol di bbm, karena kami beda kota, jadi nggak bisa seenaknya bertemu. Pertemuan langsung pertama kali adalah saat dia mendatangi tempat kerja saya. Sebuah chemistry aneh langsung bisa saya rasakan. Secara, dulu sebelum akrab di bbm, saya ingat betul, kami pernah bertemu muka langsung di sebuah mall dan kami nggak pernah mau saling sapa. Entah malu, entah lupa, entah karena nggak mau tahu juga. Tapi saat setelah sapaan hai itu, kami bisa jadi seperti sahabat yang sudah menghabiskan banyak waktu bersama. Selepasnya bukan hanya ceria, tapi duka juga kami bagi bersama.

Waktu ketemu lagi setelah bertahun lamanya itu ternyata emang membawa banyak perubahan. Dia yang waktu sekolah sangat amat pemalu, bahkan saking pemalunya cuma dipanggil nama oleh gerombolan cewek-cewek bisa membuat wajahnya menjadi kebun tomat, ternyata bisa jadi seorang gitaris band beraliran metal. Saya sempat melihat video manggungnya dan nggak menyangka banget dia bisa berubah juga. Tapi, seberubah-berubahnya seseorang, dia masih tetap punya sifat aslinya dan iya, dia masih sering bersikap malu-malu jika bertemu saya secara langsung.

Lalu apakah kami bersama pada akhirnya? Gaes, lihat judulnya dong. Jawabannya adalah nggak. Perih banget ya? Tapi memang mungkin ini yang terbaik. Walau begitu, kami masih sering tukar kabar, memaknai hai sebagai sebuah kenangan yang walau menyakitkan tapi masih bisa kami gunakan sebagai alas pertemanan. Kami masih bisa saling mendukung, untuk apapun. Somehow, jiwa kami adalah sama.

Kalau ada satu hal yang pengin saya lakukan bersamanya adalah melihatnya manggung lagi. I want to see him on stage. Entahlah, apakah bisa terwujud. Tapi bukankah Tuhan selalu punya kejutan-kejutan?

Akh, sepertinya tulisan ini agak melenceng dari tema tulisan kali ini. Semoga momon #KampusFiksi memakluminya dan saya tahu dia pasti memaafkan. *peluk Momon KF

Jumat, 20 Januari 2017

Impian Di Tahun Ini

Yeay, akhirnya udah sampai di hari ketiga tantangan nulis dari #KampusFiksi, dan tema hari ini menyenangkan sekali. Ngomongin masalah hal yang pengin dicapai dalam tahun ini tentu banyak banget. Dari ratusan lapis, yang bukan merupakan lapisan wafer, maka Saya pilihlah kelima impian berikut.

Peringatan : Postingan berikut juga nggak jauh dari curhatan. Pesan moral? Ini bukan buku pelajaran kewarganegaraan, jadi ya entahlah.

1. Karya Bisa Tembus Media
Saya belum berani menyebut diri ini penulis. Karena penulis itu konsisten menulis. Sedangkan Saya ini hanya kumpulan debu di sela-sela keyboard laptop yang masih kalah sama suasana hati waktu di hadapkan sama tulisan.

Tapi ya tetap saja Saya punya cita-cita, pengin karya Saya yang belum keren-keren amat itu di muat di media. Walau cukup lambat, tapi Saya selalu berusaha sampai bisa menuliskan kata tamat pada setiap karya. Baik novel maupun cerpen. Sudah beberapa yang selesai, beberapa di kirim namun belum ada kabar, dan ada yang sedang dan terus Saya kerjakan. Tahun ini, Saya percaya, usaha nggak akan membohongi hasil. Jadi, sabar saja, akhir tahun masih jauh.

2. Usaha Yang Dirintis Bisa Berkembang
Pertengahan tahun kemarin, Saya memulai bisnis yang cukup menguras tenaga dan finansial. Hasilnya? Jatuh, bangun dan jatuh lagi. Apakah Saya kapok? Jawabannya bisa ya dan bisa nggak. Iya, Saya kapok, dalam artian kapok memulai sesuatu tanpa perhitungan yang matang. Niat saja ternyata nggak cukup buat memulai sesuatu yang besar. Nggak kapok, Saya akan terus berusaha untuk menyelesaikan apa yang Saya mulai.

Membangkitkan usaha kuliner dan fashion yang Saya rintis ini beneran nggak mudah. Kalau dilihat dari kacamata dompet Saya, usaha ini napasnya lagi satu-satu. Tapi, ambil sisi positifnya, masih bernapas. Jadi, kenapa nggak terus berusaha saja. Ya, kan?

3. Jadi Blogger
Saya pengin banget jadi food blogger dan juga beauty blogger. Kenapa? Menemukan jawabannya itu sesederhana menemukan hujan di bulan Desember, karena hujan bulan Juni itu sudah milik Pak Sapardi Djoko Darmono. Saya suka makan dan dandan. See? Mudah banget bukan jawabannya? Orang yang kenal Saya pasti tahu dua hal itu emang Saya banget. Kalau akhirnya orang bisa mengenal Saya dari tulisan, Saya anggap itu bonus.

Realisasinya? Walau cukup telat, karena Saya punya akun media sosial dan blog ini udah sejak ratusan tahun yang lalu dan barusan saja niat pengin memaksimalkannya, Saya mulai mengunggah review kecil-kecilan. Well, semua hal besar pasti dimulai dari hal kecil, kan?

4. Beliin Mama Cincin dan Papa Jam Tangan
Kedua orang tua Saya adalah yang terbaik. Walaupun Saya sering mengecewakan mereka, tapi mereka selalu ada buat anaknya yang bandel ini. Saya sadar banget, belum pernah bisa kasih apa-apa. Memang sih mereka nggak minta, tapi Saya harusnya bisa paham. Sebelum akhir tahun, Saya harus bisa beliin cincin dan jam tangan. PR besar, karena Saya juga punya banyak hutang lain yang harus Saya tanggung. But old proverb said, When there is a will, there is a way. Bukankah Tuhan itu nggak jauh dari hambaNya yang terus berusaha?

5. Punya Rak Buku
Kesannya sepele banget ya?! Tapi beneran, sampai sekarang Saya belum punya rak buku. Sehingga menyebabkan buku-buku koleksi Saya musti ditumpuk dalam kardus. Mengenaskan sekali.

PR selanjutnya sebelum Saya punya rak buku adalah soal tempat. Rumah sudah penuh perabotan dan nggak tahu mau taruh di mana rak bukunya. Baiklah, sepertinya Saya butuh semedi.  Sebelum Saya beneran mengasingkan diri untuk mencari wangsit, Saya cuma punya satu pertanyan buat kamu, apa impianmu di tahun ini?

Kamis, 19 Januari 2017

My Historical Moment

Apakah kamu nebak bahwa postingan berikut bakalan pakai bahasa Inggris? Nah! I pranked you. Besok kalau Saya punya pacar teman ngobrol orang bule kayaknya baru Saya bisa fasih pakai bahasa Inggris deh. Selama ini nggak ada partner buat bisa tik-tok gitu, padahal sebetulnya ya karena malas. Alasan kenapa judulnya pake enggres? Biar pendek aja gitu *ditampol sandal

Eh, lha kok malah curcol masalah kemampuan berbahasa sih? Back to the real topic ya, Gaes. Hari ini masuk hari kedua #writtingchallenge dari #KampusFiksi. Dan tema yang musti ditulis adalah tiga hal yang bisa membuat histeris.

Tema ini lumayan berat, walau nggak sebanding dengan berat badan yang nambah lima kilo dalam setahun belakangan ini. Kenapa? Karena Saya cuma punya sedikit memori tentang momen-momen yang membuat Saya histeris, bahkan waktu dilamar juga nggak histeris. Dan menyedihkannya adalah, momen histeris yang paling lekat di ingatan adalah kenangan buruk.

The most histerical moment in my life was when I got a phone saying that my brother passed away. Saya ingat betul, hari itu jam 8 malam, 2 Februari 2012. Berita itu membuat tulang serasa tercabut, Saya lemas, terduduk di lantai kamar, dengan hp yang masih saya genggam erat-erat. Saya menangis sejadi-jadinya. Baru kali itu Saya memekik.

Dada Saya berlobang. Lobang besar yang nggak akan pernah bisa ditutup lagi. Seperti black hole, lobang itu menyerap kesadaran dan kekuatan. Bahkan buat nyampain berita bahwa adik kecil yang saat itu berusia sebelas tahun udah nggak ada ke anggota keluarga lain, susah banget, Saya nggak punya kosakata untuk diucapkan waktu itu. Yes, cancer took our lil’ angel away from our sight, but not from our heart. Nah, kan, nangis lagi Saya. Baiklah, let’s move to another histerical moment, daripada nanti Saya termehek-mehek nggak jelas.

Momen selanjutnya itu waktu Saya lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Histerisnya campur antara kaget, sedih dan senang. Kaget, karena Saya nggak benar-benar ngerjain soal, malam sebelumnya aja Saya malah masih baca novel sampai larut, nggak belajar sama sekali. Serius, ini murni kasih karunia Tuhan, bukan karena Saya jenius. Sedih, karena Saya penginnya kuliah di Jogja, udah daftar juga. Senang, karena ya berarti Saya orang terpilih, berhasil mengalahkan saingan yang bejibun. Iya, Saya sombong bener.

Kayaknya cuma dua itu momen Saya bisa benar-benar histeris. Andai ada satu lagi, mungkin adalah kalau nanti bisa lolos audisi Indonesia’s Got Talent. Serius, Saya pasti bakalan histeris sejadi-jadinya. Tapi itu baru wacana sih. Saya bingung mau nunjukin bakat apa. Nyanyi, suara saya banyakan fals-nya. Nari, nggak banget, orang Saya gerak dikit aja badan udah pegel-pegel. Sulap? Oke, ini berarti bunuh diri. Saya cuma bisa masak dan nulis. Kalau mau ikut Master Chef, kemampuan Saya memasak hanya akan membawa ke babak penyisihan. Untuk kemampuan yang terakhir, silakan kalian nilai dari isi tulisan di blog ini. Cukup (nggak) meyakinkan?

Akh, sudahlah. Bagian terpenting dari semua ini adalah di balik semua momen histeris, selalu ada orang-orang terkasih yang menemani menjalaninya, sungguh itu bagian terbaik.

Rabu, 18 Januari 2017

#Hari 1 Jelaskan Bagaimana Tipe Kekasih yang Kamu Dambakan

(Disclaimer : Tulisan ini diikutkan dalam event #KampusFiksi 10 Days Writting Challenge dan syarat aroma curhat)

Membahas tentang tipe kekasih idaman itu membuat saya teringat masa lalu, ketika masih berseragam putih biru. Saat itu saya sedang getol-getolnya menulis di buku harian, salah satunya ya tentang tipe kekasih idaman. Sungguh, saya ini visioner. Padahal saya baru boleh berpacaran saat sudah punya KTP.

Walau banyak yang berubah tentang kriteria lelaki yang saya inginkan untuk menjadi kekasih, tetapi dalam beberapa poin masih sama saja. Kesampingkan tentang harus seiman, harus beda jenis kelamin, good looking dan kaya mau kerja keras, karena itu prinsipil. Kita bahas poin yang lain saja :

1. Sense of Humor
Nggak harus seorang pelawak juga sih ya, karena buktinya saya nggak bisa cinta sama Tukul Arwana atau Bopak, tetapi saya ngefans habis sama GilBas, stand up comedian keriwil yang andai dia di dekat saya rasanya pengin unyel-unyel aja gitu. Semua lebih ke arah bisa saling memahami guyonan masing-masing, gaya bercandaan yang satu frekuensi. Saya pernah jatuh cinta sama seseorang yang guyonannya jayus kata orang, tapi saya ketawa-ketawa aja sama dia. Oh, ini yang salah saya sih kayaknya ya. Oke, lanjut aja kalau gitu.

2. Pelukable
Bukan, bukan artinya saya mesum penginnya peluk-pelukan melulu ya ehe ehe ehe. Tapi saya suka seseorang yang enak buat cuddling. Saya memang pernah naksir sama orang yang kerempeng, tapi perbandingannya 1:10. Ya, orang gendut lebih menarik buat saya. Selain karena enak dipeluk, mereka juga nggak ribet soal makanan. Secara, saya yang Taurus ini suka sekali makan dan paling gemas sama orang yang mengomentari menu dan porsi makanan saya.

3. Fleksibel
Apakah saya mengidamkan seorang kontorsionis sebagai kekasih? Nggaklah. Saya agak ngeri malahan kalau lihat kekasih saya badannya bisa meliuk-liuk gitu. Maksudnya adalah seorang yang nggak ribet. Berprinsip tapi nggak suka memaksakan prinsipnya. Intinya bisa diajak diskusi. Tentang apa saja.

Masih ada lagi yang lain sih, cuman kalau dibeberin semua nanti jadi nggak seru. Kalau pengin tahu lebih banyak, bukankah lebih baik kalau saling kenal secara pribadi saja? *digetok mamase

Jumat, 05 Februari 2016

Galih Dan (Bukan) Ratna

               Kali ini aku tidak sedang ingin bercerita tentang film romansa yang sempat laris di Tahun 1979 itu. Bukan juga akan mengisahkan tentang Rano Karno maupun Yessi Gusman. Aku hanya ingin menuturkan tentang kita. Ya, kamu – Mas Galih – dan aku, yang bernama bukan Ratna. Surat ini aku buat untukmu.

                Mas Galih yang selalu tersenyum manis, aku tahu kamu tidak terlalu suka membaca. Jadi, aku beritahukan hal ini terlebih dahulu. Suratku ini mungkin akan sangat panjang dan melelahkan untuk kamu baca. Aku tidak memaksamu untuk menghabiskannya dalam sekali duduk, aku tahu kamu sangat sibuk, Mas. Aku sudah sangat berterima kasih jika kamu mau membacanya. Jadi, tengoklah barang sebentar-sebentar, tapi aku harap kamu mau membacanya sampai halaman terakhir.

                Apa kabar Banjarmasin hari ini, Mas? Apakah mendung juga seperti Solo? Akh, memang Solo beberapa waktu ini diguyur hujan dan suasananya menjadi sangat sendu. Tapi sesungguhnya Solo yang teduh seperti ini memang yang aku rindukan setiap kali mencoba jauh. Andai saja kamu bisa singgah di sini sebentar. Aku akan mengajakmu berkeliling. Menikmati makanan khas yang mungkin cita rasanya tidak terlalu berbeda dengan Jogja, kota asalmu. Tapi, sepertinya hal berkunjung dan berjalan-jalan bersama itu sekarang menjadi cukup mustahil.

                Apakah koleksi batu akikmu juga sudah bertambah lagi, Mas? Aku sering membayangkan ikut bersamamu keluar masuk pasar, menemanimu menggerinda bongkahan-bongkahan itu hingga menghasilkan bebatuan yang cantik. Kamu sungguh pintar memoles. Tapi, aku juga tidak bisa menerka-nerka, apakah aku akan marah jika terkalahkan dengan hobi yang menyita waktumu setiap weekend dan liburan itu, atau aku akan bisa sabar menunggu? Aahahaha, itu hanya khayalanku saja, Mas. Aku tahu, aku tidak punya tempat lagi untuk memohon itu semua terkabul.

                Mas Galih yang bercita-cita ingin jadi advokat, lucu rasanya jika teringat waktu pertama kali kita berkenalan. Aku harus berterima kasih pada Dewi karena sudah menjadi jembatan agar aku bisa kenal dengan seseorang yang hebat sepertimu, Mas. Aku mengenalmu dari semua cerita Dewi. Dan, you obviously captured me! Dari foto yang Dewi bagikan padaku, aku merasa bahwa kamu punya aura yang baik. Kemudian, kamu menyapaku lewat aplikasi chat di smartphone. Apa kamu tahu? You really had me at hello.

                Membingungkan sekali, bahwa aku jadi bisa begitu terperangkap padahal kita belum pernah bertatapmuka. Aku jadi sering tersenyum sendiri kala itu, setelah aku pikir alasannya, itu semua karena kamu, orang yang serius dan humoris pada saat yang bersamaan. Perhatian kecil yang kamu berikan di pagi hari cukup untuk membuat suasana hatiku cerah seharian.

                Mas Galih yang hobi kuliner, apa kamu ingat saat akhirnya kita dipertemukan untuk pertama kalinya di Jogja? Maaf merepotkanmu kala itu karena harus menjemputku. Dan ujungnya kamu malah aku biarkan sendirian bermain dengan smartphone-mu sementara aku menghilang sebentar bersama teman-temanku. Aku masih merasa menyesal sampai sekarang. Tapi terima kasih, kamu sudah sabar menghadapiku yang membuat kita tersasar karena aku lupa denah dan alamat.

                Jalanan kota Jogja yang hanya bisa kita nikmati sebentar selalu membawa nostalgia. Begitu pula dengan Raminten. Aku selalu terpikir tentangmu setiap mengingat Jogja. Kenangan adalah candu. Bagaimana cara aku mendapat obat penawarnya?

                Aku masih ingat, Mas Galih, saat kita berkeliling sudut Jogja dengan motor matic hitam itu. Aku terkejut saat kamu memegang tanganku dan mengatakan agar memasukkan jemariku ke dalam saku jaketmu agar tidak kepanasan. Kamu pasti tidak melihat bagaimana pipiku yang seharusnya disembunyikan karena bagian itulah malahan yang terasa panas, bukan tanganku. Andai saja aku bisa sedikit lebih lama di Jogja. Andai saja aku bisa menghabiskan waktu dan mengenalmu lebih jauh. Terlalu banyak yang ingin aku ulang, Mas. Andai takdir mengizinkan. Andai saja.

                Dan kemudian yang aku takutkan terjadi. Kamu mulai menjauh secara tiba-tiba. Walau sebenarnya dari awal saat kamu enggan memanggilku hanya dengan sekadar nama, aku sudah merasakannya. Ada jarak yang memang sedang kamu terapkan, tapi di saat yang sama kamu juga ingin mendekat. Kamu masih ragu-ragu, namun juga antusias. Ternyata kita berdua adalah manusia impulsif yang sama.

                Aku merasa kehilangan, Mas. Tapi aku tahu, kamu sudah memilih. Dan aku harus menghormati pilihan itu. Kadang, aku menyalahkan diriku yang memang suka terlalu terburu-buru. Seharusnya aku tahu, kamu memang butuh waktu. Mungkin, kamu butuh lebih dari sekadar memaklumi cinta pada pandangan pertama. Sebab pandangan kedua, ketiga dan seterusnya bisa lebih mencelikkan mata.

                Dewi sempat bertanya padaku apa yang terjadi dan hanya bisa aku jawab dengan senyuman. Aku hanya bisa menjawab bahwa kita sepertinya tidak akan memulai sesuatu yang lebih serius karena menjadi kawan juga sudah merupakan hubungan yang bisa dirayakan. Walau aku sepertinya merasa terluka untuk sebuah sebab yang mungkin salahku sendiri karena terlalu banyak menerka-nerka.

                Mas Galih yang akhirnya memilih untuk menjadi seorang teman, aku tahu bahwa kita tidak bisa memaksakan perasaan. Walau sejak pertama sejujurnya aku ingin bisa memiliki senyum manismu dan kekonyolan serta semua yang ada padamu untuk menemani langkahku, tapi aku tahu bahwa segalanya sudah diatur. Termasuk ketika aku tidak bisa mendapat apa yang aku mau. Kamu berhak mendapat yang terbaik. Walau begitu, cerita kita adalah dentingan nada terbaik dalam musik kehidupanku yang aku favoritkan. Karena yang terbaik tidaklah selalu harus dimiliki namun cukup untuk dinikmati.

                Seseorang dengan berbagai tanya yang aku belum temukan jawabannya, Mas Galih. Aku tahu mungkin aku terlalu terburu-buru menurut pandanganmu. Aku sudah mulai lupa apa warna favoritmu, entah hijau entah merah. Aku juga sudah mulai lupa apa makanan favoritmu, apakah kamu suka kecap atau tidak. Aku juga tidak tahu alasan kamu selalu menulis nama lengkapmu tanpa spasi. Aku sudah mulai memudarkan ingatanku. Lantas apa yang kamu lakukan selama beberapa bulan ini? Pastinya kamu sudah menemukan dunia baru. Tentu saja.

Ohiya, aku sekali lagi mengucapkan turut berbelasungkawa atas meninggalnya adikmu ya, Mas. Pasti berat ditinggalkan oleh orang tersayang dengan begitu mengejutkan. Tapi aku selalu percaya, Tuhan begitu mengasihi Dik Yoga. Tuhan menjaganya baik-baik di surga sana. Dik Yoga pastilah kesayangan Allah, sampai dia dijemput lebih dulu. Dan Mas Galih beserta keluarga akan diberikan kekuatan lebih untuk menjalani kehidupan hari demi hari.

                Aku tahu rasanya kehilangan, Mas. Empat tahun yang lalu, adikku juga sudah berpulang terlebih dahulu setelah berjuang melawan sakit selama dua bulan. Usianya baru sebelas tahun waktu itu. Dia masih terlihat gemuk dan ceria ketika aku terakhir memandangnya tertidur panjang. Kanker darah yang membuka jalan adik kecilku untuk menghadap Sang Khalik.

                Mungkin saat ini, adikku Frans sedang bermain bersama Dik Yoga, ya siapa tahu. Kita juga akan bertemu mereka kelak. Semua hanya perpisahan sementara. Terkadang, aku mengalihkan rasa rinduku dengan berpikir bahwa adikku sedang bermain bola bersama kawan-kawannya, terlalu asyik hingga enggan pulang. Tapi tak apa, bukankah itu artinya dia sedang berbahagia?

                Akh, sudahlah. Maaf jika aku terlalu terbawa suasana. Adikku selalu membagikan kebahagiaan. Pun aku percaya begitu juga dengan Dik Yoga. Jadi, seharusnya kita tidak punya alasan lagi untuk bersedih. Kerinduan berbeda dengan kesedihan. Kita akan selalu merindukan mereka. Tapi kesedihan tidak aku pilih untuk merayakan senyum mereka yang selalu akan aku kenang. Aku akan memilih untuk mengingat mereka dalam kebahagiaan.

                Mas, apa kamu heran mengapa aku menulis surat ini? Mengungkapkan kekecewaan? Menyatakan perasaan? Mendahuluimu menyampaikan apa yang ada dalam pikiran? Atau apa kesimpulanmu tentang semua ini? Aku bisa saja menyampaikannya, tapi aku memilih untuk menyimpannya saja. Sama seperti kamu yang tidak harus menjawab mengapa pergi menjauhiku. Cukup adil bukan? Hehehe.. Atau kalau kamu sungguh ingin tahu, nomorku masih sama. Path juga kamu tahu inisialnya. Andai pun tidak, tak mengapa.

                Dari awal aku pikir cerita Galih dan Ratna tidak sama dengan kita. Ternyata ada sisi yang cukup mirip. Mereka berdua berusaha dipisahkan oleh beberapa orang yang tidak menyetujui mereka bersama. Kalau kita, sepertinya dipisahkan oleh takdir. Klise.

                Akh, sepertinya sungguh sudah sangat panjang aku menceritakan semua yang aku rasa dan pikirkan. Pada akhir suratku yang panjang dan bertele-tele ini, aku ingin memanjatkan doa. Semoga semua yang kamu impikan terwujud. Kuliah S2-mu lancar. Menemukan jodoh yang sebanding dan sepadan, yang bisa saling membangun dan menguatkan. Dan semua doa-doa lain yang aku sematkan pada udara untuk dinaikkan menuju Sang Maha Esa.

                Berbahagialah selalu, Mas GalihWahyuAntoro.

Teriring salam dan doa,

-Ririn a.k.a bukan Ratna-



Kamis, 04 Februari 2016

Kepada Macan Di Tahun Monyet



Hai, Can. It’s been a while since our last meeting. Apa kabarmu? Aku selalu berharap kamu lebih dari sekadar baik-baik saja. Hawa dingin sisa hujan sepagian tadi masih terasa menusuk kulit. Tapi ada yang menjalar hangat di hatiku setiap kali mengingatmu. Sepertinya, aku tenang meringkuk di dalam selimut kenangan tentangmu. Tanpa harus pergi ke luar, menghadapi kenyataan yang seringkali lebih gigil daripada perasaan tentang masa lalu.

Bulan kedua di tahun monyet. Ada yang bilang ini tahun yang kurang bagus. Akan ada banyak perlawanan. Tapi, kita masih beruntung untuk urusan keuangan. Kita berdua sama-sama Macan. Tentunya kita tidak akan mudah dikalahkan. Bukankah macan itu tangguh dan tidak mudah menyerah? Akh, aku terlalu bernostalgia. Maaf, aku baru saja membaca artikel di suatu portal ramalan shio. Dan aku teringat padamu, kembaran macanku.

Kamu, lelaki hebat yang aku tahu. Gitaris band metal ternama (ahahaha), berbadan rambo tapi berhati rinto (ahahahahha lagi), a family man, teman yang baik, dan ayah yang luar biasa untuk anak gadisnya. Walaupun aku harus mengerutkan dahi berkali-kali setiap mendengar gurauan-gurauanmu, aku tetap akan memasukkanmu ke dalam daftar lelaki humoris (ahahahahaha untuk ketiga kalinya). Karena katanya, orang bershio macan memiliki selera humor yang mengagumkan. Oke, mari kita ber-hahahahaha untuk kesimpulan tadi J

Aku selalu merasa beruntung pernah mengenalmu. Walau aku sempat melewatkan masa melihatmu dengan rambut panjang lurus mirip personel F4 itu – yang tentu sangat aku syukuri karena tidak pernah menjumpainya ahahaha – dan juga banyak perjalananmu yang tak sempat aku ikuti. Aku bangga, pernah kamu percayai. Aku bersyukur pernah ada, ikut menanggung luka, walau tak seberapa lama.

Can, sudah beratus hari sejak tahun kambing kayu sampai monyet api sekarang ini. Banyak peristiwa terlewat yang kita saling tak mengetahui. Aku paham, aku bukan lagi teman bertukar cerita tentang apa saja. Dulu dan sekarang tentu saja berbeda. Dan, membuka kembali kotak pandora itu tentu membawa luka. Janji-jani yang sempat terucap, anggap saja sudah ditepati. Aku mengerti. Ada waktunya datang, ada waktunya pergi, dan aku tidak akan berusaha membuat semuanya kembali.

Tak perlu lagi membangun reruntuhan.

Tapi, walau bagaimana, kamu tahu pasti alasan aku tidak pernah bisa sepenuhnya menjauh. Ada sebagian ingatan yang selalu mengajakku untuk melewati lorong waktu. Tapi, aku tidak akan mengajakmu serta. Apa yang aku sebut pulang malah seharusnya adalah hal yang menjadi alasanmu untuk pergi. Ya, memang seharusnya demikian. Tidak ada yang salah dengan itu. Aku menerimanya sebagai hadiah. Walau aku tergores, tapi aku akan baik-baik seperti selama ini dan akan selalu begitu. Jangan kuatirkan aku.

Suatu saat nanti pasti kita akan dipertemukan kembali. Entah dengan situasi yang seperti apa. Entah apakah itu saat reuni SMP, saat kita bertemu pas jam makan siang, saat berpapasan di jalan, atau malah saat berada di pusat perbelanjaan. Saat itu jika aku belum berubah, maafkan jika mungkin aku memilih menyingkir. Aku takut akan marah kepada takdir. Tapi, jika aku sudah sekuat itu, aku akan mendekat, menjabat tanganmu, dan melemparkan pertanyaan basa-basi tentang kabar.

Terima kasih sudah pernah menjagaku. Menjauhkanku dari mata iseng dan siulan mengganggu serta yang lebih daripada itu. Terima kasih sudah mengajarkanku pelajaran berharga untuk tidak mudah percaya. Terima kasih sudah melatihku untuk mengalahkan luka.

Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh-kesahku. Menimpali gurauanku dengan lelucon jayusmu. Mempertahankan telingamu terhadap suaraku yang berantakan tiada tara yang aku kirim lewat voicenotes bertubi-tubi itu. Dan berjuta kekonyolan, kemarahan, dan kesalahan yang lain.

Terima kasih, Can.

Tetap pertahankan senyum malu-malumu itu.

Jangan suka marah ya. Aku tidak akan sempat untuk menyusun kacang lofet, permen cium, serta minuman susu tarik dalam botol itu, hanya untuk membuatmu tersenyum. Akh, iya, ada yang aku lupa. Setelah beberapa lama ini pasti kamu sudah sering belajar menyikapi semuanya tanpa bantuanku. Aku lega. Kamu memang setangguh macan.

Masih banyak dan mungkin terlalu banyak hal yang ingin aku sampaikan. Tetapi memang terkadang ada baiknya menyimpan sesuatu untuk kebaikan bersama.

Mari kita rayakan pertemuan dan perpisahan sebagai bagian dari kehidupan. Mari kita berpesta untuk setiap hari di depan yang akan kita lalui dengan berbagai kemungkinan. Berbahagialah! Dan saat kamu kehilangan sedikit bahagiamu, kamu tahu harus mencariku di mana. Aku akan bagikan kebahagiaanku untukmu.

Salam untuk ratu serta putri kecil dalam istanamu. Jadilah raja dan ksatria mereka. Aku? Pengembara dari negeri seberang, akan selalu memanjatkan doa-doa dari kaki langit. Untukmu. Untuk semua kebahagiaan yang kamu usahakan. Untuk semua, yang kamu perjuangkan.

Salam dalam kasih,
Your biggest fans and friend.
-Macan Api Yang Mengaku Bidadari-

“I have found the paradox, that if you love until it hurts, there can be no more hurt, only more love.”
-Mother Teresa-

Sabtu, 09 Januari 2016

Lara Penggalih

          Nama adalah doa. Demikian kata orang tua dahulu yang diamini oleh semua manusia di belahan manapun di dunia. Entah doa apa yang diinginkan oleh orang tuaku ketika menamaiku Lara Penggalih. Nama yang kedengarannya cukup keren hingga akhirnya aku tahu arti nama itu–yang sedihnya aku ketahui dari buku pelajaran bahasa Jawa–adalah “sakit hati”.
            “Galih, kamu harus bisa menyembuhkan sakit hatimu sendiri. Jangan benci bapakmu,” sambil berbaring lemah di ranjangnya, wanita yang aku panggil “ibu” itu mengelus kepalaku perlahan. Ini adalah kalimat kesekian kali yang sudah beliau ucapkan padaku. Sambil tersenyum tulus ibu menanti jawabanku, yang aku tahu bukan sebuah penolakan yang diinginkannya.
Akh, senyum itu. Senyum yang sangat berharga karena cukup mampu menggantikan suara tawa ibu. Sejak ibu sakit, aku nyaris tak bisa mendengar suara tawanya lagi. Butuh energi besar untuk ibu bisa menanggapi leluconku dengan terbahak-bahak. Lengkungan di bibir tipis ibu mampu menguapkan rasa lelah yang kupikul karena seharian bekerja.
            “Tapi, Bu. Bagaimana bisa aku harus melupakan orang yang sudah menelantarkan kita demi ambisinya sendiri? Katakan padaku, Bu, bagaimana caranya?”
Aku menggigil menahan air mataku agar tidak tumpah. Menahan gejolak dalam batinku untuk tidak memakai nada tinggi saat berbicara dengan ibu. Aku tak ingin kehilangan senyum manisnya. Selama dua puluh lima tahun ini aku menyangka bahwa bapakku sudah meninggal waktu aku kecil, seperti yang biasa ibu ceritakan sewaktu aku menanyakan sosok yang sudah memberiku mata bulat dan hidung bangir ini.
            “Jangan.. Jangan jadi seperti ibu dulu yang harus berjuang melawan sakit hati terlalu lama. Maafkan bapakmu, Lih. Luka itu memang harus sakit saat diobati, tapi setelahnya kamu akan sembuh. Itu permintaan terakhir ibu.”
            Aku menatap wajah ibuku yang terlihat begitu payah karena usia. Guratan perjuangan hidup terlihat jelas pada air mukanya. Menjadi janda di usia yang masih belia serta menjadi ibu saat belum mempunyai persiapan apa-apa dilakukan demi rasa cintanya kepadaku. Memutuskan menerima perceraian ketika bapak memilih untuk menikahi wanita yang usianya jauh lebih muda. Kata ibu, bapak memang doyan kawin cerai dan ibu tidak mau aku hidup dalam lingkungan yang seperti itu. Aku sudah lama menempa diriku untuk tidak menangis, tapi kali ini aku lupa bagaimana caranya.
            “Apa bapak akan menerimaku sebagai anaknya, Bu?” tanyaku terbata-bata.
            “Tentu saja bapakmu tidak bisa menolak anak sesempurna dirimu, Lih. Paling tidak, kamu bisa punya keluarga, saudara, daripada sendirian di sini. Galih, keluarlah ke dunia luar. Pandanglah segala sesuatu dari sudut yang lain.”
Aku mengangguk samar. Ini cara terbaik agar ibu tidak lagi risau. Aku lebih suka senyum bersahajanya daripada harus melihat wanita pahlawanku itu melukiskan gurat duka di wajahnya yang ayu. Namun aku tahu, anggukan itu juga merupakan janji. Dewa Baskoro, akan aku ingat nama itu baik-baik.
***
            Sudah hampir satu jam aku duduk di kursi kayu di teras rumah. Menyesap teh melati hangat sambil mendengarkan merdunya dedaunan yang gemerisik dibelai angin sore adalah hal yang tak pernah aku lewatkan. Aku bersyukur bisa dengan santai melepas penat setelah seharian lelah bekerja tatkala masih banyak orang yang tak punya waktu bahkan untuk sekadar berhenti dan minum kopi sambil bercengkerama dengan teman. Kemewahan yang sederhana.
            Dua bulan sejak kepergian ibu, aku belum juga memutuskan untuk pergi mencari bapak. Aku tidak tahu mulai dari mana. Memang ibu sudah memberi alamat lengkap rumah bapak, foto beliau saat masih muda dan beberapa pemberian bapak untuk ibu yang akan menguatkan posisiku di hadapan bapak. Tapi mungkin aku hanya belum siap untuk memulai hidup baru. Mulai mengenal lelaki yang aku harapkan keberadaannya sejak pertama kali aku lahir ke dunia.
            “Kok ngelamun, Lih?” Cukup lama nampaknya aku termenung larut dalam pusaran pemikiranku sampai-sampai aku tidak menyadari kedatangan Dinda yang sudah berdiri beberapa langkah di hadapanku.
            Aku tersenyum dan mempersilakannya duduk, “Nggak melamun kok. Aku cuma lagi berpikir aja. Ada apa?”
            Percakapan setelahnya membuatku untuk pertama kalinya merutuki kedatangan gadis ayu itu. Bukan karena aku tidak suka akan kedatangannya, aku selalu senang jika berjumpa dan melihat senyum manis gadis asal Pekalongan itu. Hanya saja kabar yang dibawanya terlalu menyesakkan. Cuaca sedang tidak panas tapi aku merasa gerah. Apalagi saat kulihat guguran hujan di kedua mata indahnya saat menceritakan tentang perjodohan yang dimandatkan bapaknya.
Aku hanya bisa memandanginya yang terbata saat bercerita, membayangkan bagaimana dia harus menikahi seseorang yang belum pernah dikenalnya, seseorang yang seharusnya lebih pantas dipanggilnya bapak, seseorang yang ingin sekali ditolaknya tetapi tidak bisa mengingat hutang keluarga. Akh, bapak. Tiba-tiba aku merasa sangat asing dengan kata itu.
Andai saja aku bisa mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya padanya. Memilih dirinya dari antara banyak hati yang pernah aku jelajahi. Cintaku tertambat padanya. Tapi inilah aku, yang hanya bisa menghindari hatiku sendiri. Aku tak pernah berusaha memberitahu Dinda bahwa aku sangat menyukainya karena kami tidak ditakdirkan untuk menjadi pasangan.
“Ini memang sudah jalan takdirku, Lih. Aku ikhlas menerima Pak Bas sebagai calon suamiku. Cinta bisa tumbuh jika sudah terlalu sering bersama setiap hari,” Dinda menatapku serius dengan mata sayunya, “Galih, berjanjilah untuk selalu bahagia. Kamu juga akan menikah suatu hari nanti. Pilihlah seseorang yang bukan selalu ada di sisimu, tapi bersedia selalu ada untukmu.”
“Iya.” Jawabku pendek.
Dinda melukiskan senyum di bibir tipisnya, “Cobalah buka hatimu buat Nat. Jangan gantungin dia, Lih. Kasih keputusan. Aku harap keputusan cerdas yang bakalan kamu pilih. Kamu nggak mau kan menyia-nyiakan orang sebaik dia?”
“Sepertinya memang harus begitu,” Aku hanya meringis. Geli bercampur sedih karena tidak bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya ada dalam hatiku kepadanya. Ini menyesakkan!
Sejurus kemudian kami berpelukan ketika Dinda mengatakan hendak pamit. Sebuah pelukan persahabatan. Aku mengelus punggungnya sambil berkata semua akan baik-baik saja, walau sebenarnya kalimat itu lebih pantas ditujukan kepadaku sendiri. Tercium olehku aroma apel yang bercampur dengan vanila dari rambut hitam panjangnya yang tergerai. Kulitnya halus dan terawat dengan baik. Kulitnya tidak putih, putih bagiku tidaklah selalu cantik.
“Lih, janji padaku, saat menghadiri resepsiku nanti kamu harus berdandan.”
***
Suara penyanyi campursari yang sedang melantunkan lagu “Layang Kangen” milik Didi Kempot mengantarku sampai di depan ruangan resepsi yang didominasi warna ungu muda dan emas. Rangkaian bunga segar menghiasi berbagai sudut ruangan. Sepasang kembar mayang menghiasi kedua tiang pintu masuk. Adat jawa terasa lebih kental setelah aku memasuki gedung yang berkapasitas seribu orang itu. Aku menyalami para among tamu yang berseragam baju jumputan warna ungu tua dan mengenakan jarik sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan pada tempat duduk di dekat pelaminan.
Dinda tidak memintaku untuk ikut sibuk mengurusi pernikahannya. Suaminya yang kaya raya sudah memakai jasa wedding organizer ternama untuk menangani perhelatan megah mereka. Dan lagi, Dinda ingin agar aku bisa menikmati kehadiranku sebagai tamu yang memberinya doa restu. Menyelami setiap prosesi pernikahan sakral itu bersama seseorang yang Dinda doakan akan menjadi pendampingku.
Ya, di sinilah aku sekarang, duduk bersisian dengan sosok tinggi bermata kopi yang tak pernah lelah memujiku cantik sejak pertama menjemputku di rumah. Aku sengaja memilih blouse peplum berbahan batik sogan dengan rok di atas lutut berbahan senada pemberian dari Dinda sebulan sebelum dia mengatakan akan menikah.
“Kamu pantas pakai baju itu,” Nat melirikku dengan senyumnya yang khas. Kumis tipisnya tertata rapi membingkai bibirnya yang penuh, “Mungkin kamu bisa mencoba memanjangkan rambutmu sedikit.”
Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Secara diam-diam pesona dan kesabaran Nat telah meluluhkan hatiku, walau aku belum bisa sepenuhnya menempatkan dia dalam hatiku.  Kupegang jemari kokohnya sambil menatap dalam ke arah mata elangnya, “Terima kasih mau menerimaku apa adanya, Nat.”
Dia mengangguk mantap, “Aku akan menunggumu membuka hati buatku. Aku mencintaimu. Aku akan membantumu menghadapi semua perasaan yang selama ini kamu simpan sendiri. Aku tahu, ada ruang untukku di hatimu. Kita hadapi ketakutanmu bersama.”
Aku tersenyum lega mendengar perkataannya. Natanael adalah satu-satunya lelaki yang aku percayai untuk memegang rahasia besarku. Aku yang memiliki ketakutan besar terhadap mahluk yang dinamai lelaki. Aku yang lebih tertarik kepada sesama, walaupun terkadang aku pun juga memiliki perasaan terhadap lawan jenisku. Nat sudah mulai berhasil merobohkan dinding pertahananku yang keras dan membuatku memasuki dunia yang berbeda, dunia dengan perspektif baru.
“Oh, iya, ada satu permintaanku padamu,” katanya lagi.
“Apa?”
Nat menatapku dengan serius, “Boleh aku memanggilmu dengan Lara? Nama itu lebih cocok untukmu dan terdengar lebih manis.”
Aku menggeleng cepat. Arti nama itu tidaklah begitu menyenangkan dan jauh dari kata manis. Serta merta aku menolak permintaannya. Namun belum sempat aku menyatakan penolakanku, Natanael sudah berujar lagi.
“Dalam bahasa Rusia, arti nama Lara adalah riang gembira. Dan Penggalih berarti hati. Pasti dulu ibumu ingin kamu menjadi gadis yang selalu memliki hati riang gembira. Dan terbukti, aku pun jatuh cinta kepada caramu tertawa.”
Aku tertegun sesaat. Mungkin ada benarnya perkataan Natanael. Aku belum pernah dengan serius menanyakan arti namaku pada ibu. Aku hanya mencari tahu sendiri, “Jadi kamu mau memanggilku dengan nama itu?”
Natanael mengangguk cepat, “Mulai sekarang namamu adalah Lara. Kita mulai hidup yang baru dengan perspektif berbeda.”
Gending Kodok Ngorek mengalun dengan merdu. Pembawa acara, dengan bahasa krama kedatonnya yang fasih, mengiringi langkah kedua mempelai memasuki ruangan. semua mata tertuju kepada sepasang raja dan ratu sehari itu.
Mataku menangkap sosok Dinda yang cemerlang disorot sinar lampu. Gaun beludru hitam dengan model kutu baru berekor panjang membalut tubuh sintal Dinda. Hiasan tujuh kembang goyang yang berkilau dan untaian melati menghiasi kepalanya. Senyum tak pernah lepas dari bibir Dinda yang diolesi lipstik berwarna merah pastel. Dinda nampak begitu cantik
Di samping Dinda nampak lelaki paruh baya yang masih nampak gagah di usianya yang tak lagi muda. Tak banyak memang yang aku tahu tentang suami sahabatku ini. Yang aku tahu, Dinda menyebutnya dengan Pak Bas. Duda beranak lima, pengusaha asal Jakarta. Katanya, dulu Pak Bas juga pernah punya istri orang sekampungku. Kebetulan yang sangat tidak terduga. Aku mengamati lagi mempelai pria yang beberapa meter lagi akan melewatiku. Wajahnya nampak tak asing. Keningku berkerut mencoba menggali data dalam memori otakku.
“Wah, Pak Harjo beruntung dapat menantu kaya sekelas Pak Bakoro,” aku mendengar bisik-bisik para ibu di belakangku, “Iyalah, siapa yang nggak kenal Dewa Baskoro, pengusaha properti yang hartanya nggak habis tujuh turunan.”
Jantungku seperti berhenti seketika. Aku menoleh lagi, memicingkan mataku untuk memastikan dan mencari jawab atas semua pertanyaan yang berkelebat cepat silih berganti dalam otakku. Dan kini, lelaki itu berdiri kurang dari tiga langkah di hadapanku. Aku bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas. Wajah yang sama dengan foto usang pemberian ibu. Benar, ini memang sungguh kebetulan yang tak terduga.
“I-itu... Bapak?”

***

Rabu, 15 Januari 2014

Mi Amor by Sayfullan


Judul: Mi Amor – di titik nol kota Madrid

Penulis: Sayfullan

Penerbit: Senja (imprint dari DivaPress)

Genre: Dewasa Muda, Drama, Romance

Tebal: 313 Halaman

Terbit: Desember 2013

Harga normal: Rp 40.000


Semesta selalu punya rahasia yang tak pernah bisa kita duga. Setiap kejadian yang kita alami selalu berkaitan dengan hal lain yang akan terjadi. Namun kadang kita tak menyadarinya. Sama seperti Kiana, Aditya, Reza dan Serilda. Keempat orang ini tak menyadari bahwa kisah hidup mereka saling bertaut menciptakan sebuah romansa yang tak terduga. Berawal dari perjalanan Kiana menuju Madrid yang membawanya bertemu kembali dengan Reza, teman masa kecilnya. Perjalanan di Madrid itu menguarkan sebuah cerita yang berlanjut melibatkan Serilda - kembaran Kiana. Dan dalam lingkaran cinta yang membingungkan itu muncul pulalah seorang Aditya. Bagaimana kisah cinta rumit yang diwarnai dengan konflik khas saudara ini berakhir? You must figure it out by yourself. ^^


Novel ini adalah novel kedua karya temanku Sayfullan. Berbeda dengan novel pertamanya "Aropy" yang berbahasa khas remaja banget karena memang berdasarkan genre-nya, "Mi Amor" disajikan dengan bahasa yang lebih dewasa dalam artian lebih matang namun ringan. Diksi yang digunakan cukup sederhana, tidak terlalu banyak bersayap, namun masih bisa menimbulkan kesan klasik serta romantis. Catatan-catatan kaki yang informatif serta tidak bertele-tele juga membuat beberapa istilah asing yang ada menjadi bisa dipahami dengan baik. Cukup sehari saja aku melahap habis isi novel yang manis dengan twist-twist serta quote yang keren ini. Ini salah satu quote favoritku yang ada di halaman 231:
"Kesetiaanku tak lantas lenyap hanya karena waktu. Pun, tak akan hangus terbakar musim. Meski jarak membentang, aku yakin Tuhan tak akan rela kita terpisah terlalu lama, Pangeran.... - Dewi Bulan"

Selain diksi kalimat yang simpel, Mi Amor juga menyenangkan karena detail setting serta narasi setiap tokoh serta kejadian yang dituturkan dengan apik. Pembaca seakan dibawa ke dalam situasi di mana tokohnya berada serta apa yang sedang mereka alami. Ekspresi dan emosi dalam atmosfir itu disajikan penulis dengan baik. Ini juga contoh penggalan situasi dalam halaman 124 yang membuatku langsung merasa lapar setelah membacanya:
Kelihaiannya memasak begitu terlihat ketika ia membuat stammppot. Tangan kanannya terus bergerak lincah, berputar-putar, meremas-remas kentang rebus. Bersamaan dengan itu, tangan kirinya pun ikut bekerja, sibuk mencampur sayuran-sayuran hijau dan wortel ke dalam adonan kentang. Tidak heran jika dalam beberapa menit saja, stammppot sudah siap dihidangkan bersama dengan gelderse yang begitu beraroma.

Penggambaran karakter juga sudah cukup bagus. Aku suka sosok Kiana, walau kadang aku tidak terlalu suka pikirannya yang genit :p Dan bagaimana dia bisa begitu gampang tertarik dengan lawan jenis. Oh, Serilda juga begitu. Awalnya aku membenci karakter Serilda, tapi alur novel ini akhirnya membuatku menangis haru dan mulai mencintai karakter si gadis pintar namun jutek itu. Untuk Reza dan Aditya, aku suka mereka berdua :D

Selain kelebihan yang dimiiki novel ini, tentunya juga masih ada sisi kurangnya. Ada beberapa typo serta penulisan kalimat yang tiba-tiba bisa satu renceng tanpa spasi (maaf lupa nyatet di mana aja letaknya -__-), 
aku menemukan situasi ketika penulis seakan ingin memasukkan dirinya pribadi sebagai tokoh "aku". Padahal POV yang digunakan adalah POV 3 tetapi ada beberapa kalimat yang diawali dengan "yeah... bla.. bla.. bla.." yang menandakan ada sedkit unsur POV 1 yang melebur di antara POV 3.

Terus juga tentang logika cerita. Sebagai pembaca aku bingung tentang keberadaan si gelang akar bakau yang menjadi sebuah petunjuk penting. Di halaman 11 dikatakan bahwa gelang itu adalah pemberian seorang  lelaki kecil. Namun pada halaman 283 disebutkan bahwa gelang akar bakau tersebut adalah pemberian dari papa si tokoh kembar.

Belum lagi ketika dikatakan bahwa Reza adalah teman satu fakultas Kiana namun mereka belum pernah bertemu, itu bisa saja terjadi jika salah satu atau bahkan dua-duanya adalah orang yang terlalu biasa saja. Tapi Kiana digambarkan sebagai seorang cewek yang ceria dan supel, kepiawaiannya melukis hingga memenangkan perlombaan, yang akhirnya membawanya ke Madrid, tentunya membuat nama Kiana paling tidak sudah cukup populer untuk kalangan satu fakultas. Dan lagi Reza, cowok yang dibilang persis dengan pemeran Rangga dalam film AADC yang juga merupakan anak orang kaya, pasti sudah bisa menjadikannya bahan rumpian cewek-cewek satu fakultas.


Di luar itu semua, novel ini sungguh page turner. Membuat pembaca ingin terus mengalami kejutan-kejutan menyenangkan yang ada di setiap halamannya. Twist yang disajikan juga mampu membuat otak berimajinasi dan tidak bosan. Aku yang biasanya bisa menebak akhir dari beberapa novel dibuat bertekuk lutut karena salah menebak endingnya.

Itu saja sih. Selebihnya novel ini membuatku jatuh cinta dan menangis karena teringat masa lalu *walah curhat*. Sama seperti covernya yang sekali lihat langsung bisa jatuh cinta karena begitu manis, isinya pun juga kurang lebih sama. Seperti coklat, ia manis, hangat walau kadang ada yang pahit. Absolutely 4 of 5 stars :) Recommended!

Selasa, 29 Mei 2012

Apeeeuuu Beudh


Kemarin sempat buka2 file, dan aku nemuin file2 yang apeeeuuuu beudh.
Random deh pokoknya. Aku gak nyangka aku bisa gombal kaya gini, xixixixi.
Niech, aku bagi sedikit dari isi file-ku, siapa tau ada yang mau pake buat ngerayu :D
Tapi tetep, resiko tanggung sendiri yaaaa..

-Bang, kamu pernah punya cita2 jualan sate ya?? Habisnya kalo liat kamu deket sama cewek lain, hatiku rasanya kaya ditusuk2..

-Bang, kamu punya mobil nggak?? Gak punya ya?? Gak apa2,yang penting kamu punya hati aku..

-Bang, kamu tau nggak bedanya air kelapa ijo sama kamu?? Kalo air kelapa ijo buat netralin racun, kalo kamu netralin rasa kangen aku.

-Bang, kamu tau arah ke rumah pak RT gak?? Kalo arah ke hati aku tau nggak??

-Bang, ibu kamu butuh jasa catering nggak?? Kalo menantu cewek kayak aku, butuh nggak??

-Bang, kera apa yang romantis?? Kerasa nggak sih kalo aku tuh sayaaaaaannng banget sama kamu.

-Bang, buah apa yang paling nyenengin?? Buahagianya aku memiliki dirimu.


-Bang, nemenin aku nonton mau gak?? Kalo nemenin aku di sisa hidupku??


Ahahahaha, ntar yang lainnya aku posting lagi kapan2 :p