Sabtu, 16 Agustus 2014

Melepaskan Pujian

"In the best, the friendliest and simplest relations flattery or praise is necessary, just as grease is necessary to keep wheels turning." - Leo Tolstoy


Hari ini secara tiba-tiba seorang kawan baik ngomentarin status bbm yang aku buat. Udah lama banget kita nggak pernah kontak memang. Yang mengejutkan setelahnya adalah dia bilang suka sama twit-twitku tentang puisi-puisi galau yang sering aku upload di twitter. Ada contohnya di sini atau di sini . Aku memang sering ngetwit puisi, gombalan dan pantun di twitter @altaliciouss, dan berbagai hal random juga aku tulis di situ sih.


Balik tentang bbm kawan baikku tadi. Aku nggak nyangka dia selama ini ngikutin apa yang aku tulis - karena dia semacam silent reader yang nggak pernah komen apa-apa. Jujur aku ngerasa bahagia karena kalimat sederhana darinya yang bilang kalimat puisiku bagus. Nyenengin karena ada seseorang yang menghargai apa yang aku tulis bahkan di saat aku sendiri mulai ragu-ragu, dan kalimat sederhana itu, secara ajaib, bisa ngembaliin semangat nulisku yang pada awalnya udah kembang-kempis.

Di saat yang sama aku jadi ngerasa tertampar. Seringnya saat ngelihat hasil karya orang lain, jarang banget aku apresiasi mereka. Entah dalam bentuk pujian atau kritik yang membangun. Padahal, kayak pengalamanku tadi, kalimat sederhana yang nggak panjang pun bisa jadi sangat berarti buat orang lain. Laiknya tepukan di pundak, kalimat pujian yang tulus bisa ngebangkitin semangat.

Tapi sayangnya kita sering lebih milih buat apatis aja sama karya orang. Susah buat bilang terima kasih, selamat dan hal positif lainnya. Atau karena kita takut nggak bisa ngerangkai kalimat yang indah serta puitis kayak penyair-penyair gitu, kita jadi ragu mau nyampein hal yang baik buat orang lain, padahal kita kagum sama mereka.

Well, nggak pernah ada hal yang salah kan dalam menyebarkan kebaikan, kan? Semua orang, nggak munafik, selalu butuh penghargaan. Walupun juga jangan haus akan pujian. Ingat, ada kata ujian dalam pujian. Kalau nggak bijaksana nyikapin pujian, kita bakalan terlena.

Coba deh dari hal paling sederhana yang kita temuin setiap hari. Ngucapin terima kasih dan puji masakan mama, misalnya. Lakukan dengan tulus. Bukan karena pengin dipuji balik. Apa yang disampaikan dari hati pasti sampai juga ke hati. Selamat menjadi agen kebaikan, Kawan! :)

Selasa, 22 Juli 2014

Jodoh Salah Alamat

Tidak ada yang pernah menyangka bagaimana sebuah pertemuan bisa terjadi. Skenario apik yang tercipta dari tangan Sang Maestro kehidupan. Sebuah pertemuan adalah awal dari banyak kisah yang beragam. Ada yang akhirnya berakhir bahagia, ada pula yang tak sampai berakhir namun tak juga kunjung mulai.
Hari itu Tasya mulai bekerja di kantor yang baru. Seharusnya ini menjadi hal yang menyenangkan, mengingat terjun di dunia periklanan adalah cita – cita perempuan berambut panjang itu sejak lama. Tetapi dengan bekerja di kantor ini berarti Tasya harus pindah kota dan jauh dari Rendra, yang sampai kemarin masih menjadi pacarnya.
Wajah Tasya nampak muram, senyum yang sedikit dipaksakan seringkali menghiasi bibirnya yang mungil. Guratan kesedihan masih terpancar dari parasnya yang ayu. Pergolakan mengisi batinnya. Berkali – kali terlihat dia mendesah lirih. Dia masih mencintai Rendra, teman SMA-nya yang juga adalah lelaki yang sudah dipacarinya sejak setahun lalu, tetapi dia juga sangat menyukai dunia yang digelutinya sekarang.
Masih jelas diingatannya tentang pertengkaran kemarin, sesaat sebelum Tasya berangkat menuju Jakarta. Di bandara, kata putus itu terucap. Mereka berdua sama – sama keras dengan pendirian. Tasya ingin berkembang dalam kariernya, sementara Rendra tidak pernah mau menjalin hubungan jarak jauh. Akhirnya, kisah asmara itu kandas juga.
***
            “Tasya?” Sebuah suara membuyarkan lamunan Tasya.
            “Saka?” Seketika senyum Tasya mengembang saat mengetahui pemilik suara itu adalah Saka, teman SMAnya dulu.
            “Aku dengar dari teman–teman katanya ada anak baru. Taunya kamu, hahaha.” Lelaki berbadan tinggi tegap itu tergelak.
            Sejurus kemudian mereka nampak tenggelam dalam obrolan yang mengasyikkan. Menyegarkan ingatan tentang hal – hal yang sempat dilalui bersama. Keduanya terlihat begitu gembira. Sesekali nampak tawa, dan juga kening yang berkerut, perpaduan unik dari apa yang diciptakan oleh kenangan.
 “Kamu masih sayang sama pacarmu itu?” Saka bertanya sambil mengaduk-aduk mangkuk soto pesanannya. Perbincangan kali ini dilanjutkan di kantin kantor saat jam makan siang.
“Masih. Tapi sepertinya memang ini yang terbaik. Kami memang sudah nggak cocok sejak lama,” Tasya tersenyum getir. Dadanya berdenyut, perih.
 “Oh, sorry,” Saka berkata lirih sambil menatap Tasya, sebuah tatapan yang akan membuat siapapun yang melihatnya meleleh.
“Nggak apa-apa. Udah ah, ngapain ngomongin mantan? Oiya, Risa, apa kabar? Udah lama banget aku nggak ketemu dia, sama sekali nggak ada kabar,” Tasya berbalik menatap Saka, mata mereka bersirobok, dan selalu ada rasa aneh yang tidak dia tahu namanya saat mata mereka bertemu.
“Baik, dia masih di Solo. Tapi akhir-akhir ini dia sibuk. Kami makin jarang komunikasi.” Mata elang Saka nampak menerawang jauh.
Percakapan itu tak lagi diteruskan. Mereka asyik dengan pikiran masing – masing. Hening. Tak lama terdengar nada dering dari ponsel Saka. Wajah lelaki berhidung mancung itu berubah  sesaat setelah mendengar pemilik suara dari seberang sana. Ada senyum tersungging dari sudut bibirnya yang tebal. Sepertinya Tasya bisa menebak siapa pemilik suara yang mampu membuat senyum Saka mengembang. Tiba-tiba ada rasa sakit yang menjalar di dadanya. Andai lelaki yang pernah dicintainya, yang sampai sekarang pun masih dicintainya, mau menghubungi saat ini.
“Dari Risa. Dia bilang mau ada urusan di Jakarta bulan depan,” Saka meletakkan benda persegi berwarna hitam itu di meja, ”Wah, lupa, seharusnya tadi aku bilang kalau ada kamu, pasti dia pengin banget ngobrol. Sudah dari beberapa waktu lalu, dia ngebet ketemu kamu, tunggu biar aku telepon dia lagi.”
“Sudah, nggak apa-apa. Biar jadi kejutan aja besok waktu dia kemari. Oke?” Saat berusaha mencegah Saka, tak sengaja tangan mereka bersinggungan, dan ada getar-getar muncul kembali yang dikira sudah terlupakan.
Kesibukan pekerjaan akhirnya membuat Tasya sedikit bisa melupakan Rendra. Namun saat malam tiba, biasanya kenangan itu muncul kembali. Ingatan yang pastinya sangat sulit untuk dilupakan. Untung ada Saka, lelaki itu dengan setia mau menemani, walau hanya sekadar berkeliling kota tanpa tujuan, demi mengusir galau hati Tasya. Perempuan itu sempat heran, mengapa dulu Risa sempat menolak Saka untuk berpacaran.
Andai saja Saka bukan kekasih Risa, yang juga adalah temannya, mungkin saat ini dia bisa jatuh hati. Mengingat dulu memang Tasya pernah menyukai Saka, bahkan sempat menuliskan puisi di mading sekolah, walau tanpa nama. Dia juga sempat mengirimkan surat tanpa nama, hanya inisial, setiap pagi di bangku Saka. Konyol memang saat itu. Tapi, Saka tak pernah menyadari hingga kini. Dan saat akhir kuliah, Tasya mengetahui Saka dan Risa berpacaran. Dan akhirnya pun, Tasya memilih untuk mencintai Rendra.
“Kok wajahmu kaya cucian kotor gitu sih? Lecek amat?” Tanya Tasya sembari menyodorkan minuman dingin kepada sosok lelaki di hadapannya.
“Kusut. Sama kayak otakku,” Saka merebahkan badannya di sandaran kursi. Gelas berisi minuman langsung tandas tak bersisa diminumnya.
“Kenapa lagi sih? Tentang Risa?” Tasya sambil membenahi posisi duduknya. Sepertinya dia sudah siap meluangkan waktu yang panjang mendengarkan curahan hati seorang kawan.
“Iya.” Jawab Saka pendek sambil menatap mata Tasya, dalam.
Beberapa kali kening Tasya berkerut. Hal – hal yang diceritakan Saka memang sepertinya bukan tentang Risa. Malah lebih kepada, dirinya? Hei.. Kenapa ini? Tasya memukul jidatnya. Dia terlalu banyak berhayal sepertinya. Ini tentang Risa. Siapa tahu memang ini sisi diri Risa yang tidak pernah Tasya ketahui. Tapi janggal memang. Risa, yang dikenalnya sebagai anak yang cuek dan tomboy, hampir tidak mungkin menulis puisi. Lagipula, kalaupun mereka putus, sungkan juga dia jadian sama mantan dari temannya.
Sejak curahan hati itu, Saka lebih banyak diam. Bahkan dia lebih suka menyendiri. Dia tidak mau mendekat, bahkan saat Tasya berusaha mendekatinya, dia menjauh. Dan akhirnya Tasya membiarkannya begitu. Mungkin Saka sedang membutuhkan ruang untuk berpikir. Apalagi ada hal yang lebih layak dipikirkan Tasya, yaitu e-mail dari Rendra semalam.
“Sak, bisa nggak nanti kamu temenin aku? Aku lagi pengin cari hiburan,” Tasya menggoncangkan bahu Saka yang sedang asyik berada di depan komputer.
“Aku nggak bisa hari ini. Lusa aja, aku temenin. Oke?! Aku jemput di kos seperti biasa.” Saka menjawab tanpa menoleh. Nada suaranya datar.
Tasya melenggang keluar dari kubikel milik Saka. Dia merasa ada yang berubah. Dia ingin bercerita banyak hal, tapi sepertinya Saka sedang sibuk. Tak apa, cerita ini bisa menunggu. Belum sempat terjawab rasa penasaran itu, ponsel Tasya bergetar. Wajahnya sumringah saat dia melihat nama yang tertera di layar. Rendra.
***
Jam delapan tepat, motor matic berwarna hitam sudah parkir dengan manis di depan tempat kos Tasya. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Saka. Tasya tersenyum, melihat Saka, dengan penampilan bersih, ada di depan pintu kosnya. Saka memang seperti itu, pakaiannya memang hanya T- shirt dan jeans biasa, tapi entah mengapa selalu terlihat pas dan rapi di badannya.
Tak banyak kalimat yang terucap sepanjang perjalanan. Ada segudang cerita yang ingin Tasya ceritakan, tapi dia juga tahu, ada cerita yang tak kalah banyak ingin Saka sampaikan padanya. Akhir-akhir ini hanya Saka yang selalu ada dalam pikiran Tasya. Dia sudah mencoba untuk menekan perasaan itu, namun semakin lama malah semakin dalam.
Cafe sederhana yang ada di lingkup daerah perkantoran itu terlihat sepi. Agak aneh memang. Biasanya di malam hari seperti ini pengunjung yang datang sangat padat. Tempat nongkrong yang terdiri dari dua lantai dengan sentuhan bangunan bergaya eropa itu memang cukup nyaman dijadikan tempat berkumpl. Saka membisikkan sesuatu kepada pelayan cafe yang kemudian mengantarkan mereka ke kebun belakang.
“Aku udah lama putus sama Risa,” sesaat setelah mereka duduk, Saka berucap. Dia mengatakan itu dengan mantap, tak nampak ada penyesalan di wajahnya. Bahkan, ada senyum kelegaan yang samar-samar terlihat dari sudut bibirnya.
“Lama? Tapi kenapa kamu malah seneng?” Tanya memandang Saka heran.
“Karena aku sadar, bukan dia yang selama ini aku cintai. Aku salah menilai, ada orang lain, yang ternyata sampai sekarang masih aku sayangi,” Saka tersenyum, kali ini senyumnya nampak sangat jelas. Senyum bahagia.
“Siapa?” ada nada kecewa dan sekaligus ingin tahu dari pertanyaan Tasya. Mungkinkah dia cemburu?
“Coba kamu lihat ke panggung di sebelah sana,” Saka menunjuk ke arah panggung musik yang tadinya kosong, sekarang penuh dengan orang-orang yang membawa spanduk.
Lidah Tasya terkunci rapat. Badannya seketika kaku. Pemandangan ini membingungkan. Perasaannya jadi campur aduk tak karuan. Risa? Mengapa Risa juga ada di sana? Dan tulisan itu? Diejanya berkali-kali tulisan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak itu. “Tasya, would you be my soulmate?
***
Hingar bingar telah selesai. Tak ada lagi sedih, hanya tawa yang tersisa. Sebuah cincin emas putih melingkar di jari manis Tasya. Tak perlu lagi ada keraguan. Kesalahpahaman selama ini sudah terluruskan. Di seberang sana Risa nampak melambaikan tangan, yang dibalas Tasya dengan senyum dan anggukan kepala. Di sebelah Risa ada Bayu, pacarnya yang baru.
Saka menghampiri Tasya. Tatapan mata yang lembut itu sekarang telah menemukan pemiliknya. Semua seperti mimpi. Keinginan yang sudah lama terpendam tiba-tiba muncul di hadapan, dan nyata.
“Saka, aku masih nggak ngerti. Kenapa Risa sama Bayu? Lalu kenapa kamu yakin akulah orang yang kamu sukai itu. Trus...” berondong pertanyaan Tasya terhenti saat jari telunjuk Saka menempel di bibirnya.
“Aku dan Risa sudah putus sejak lama, Tasy. Kami putus sejak Risa bilang, bukan dia orang yang selama ini aku cari. Aku mencari orang yang selama ini menghujaniku dengan perhatian, yang tak pernah lelah memberiku semangat walau aku tak pernah bisa menemukannya,” Saka menjelaskan panjang lebar.
“Lalu, kenapa saat itu kamu bilang masih jalan dengan Risa?” Tasya masih tak paham.
“Aku nggak pernah bilang begitu kan? Saat pertama bertemu, kamu selalu hanya menanyakan kabarnya, bukan kabar hubungan kami,” Saka menggenggam jemari Tasya erat.
“Ini konspirasi ya? Kamu, Risa, Rendra?” Mata Tasya mendelik, ada sedikit kesal yang muncul karena hanya dia sendiri yang tidak tahu rencana ini. Rencana yang membuat perasaannya seperti roller coaster.
“Iya. Rendra sudah aku hubungi. Aku meminta izin padanya. Dan Rendra memperbolehkan. E-mail yang dia kirimkan padamu, yang mengatakan ada pria lain yang mencintaimu, aku yang memintanya. Maaf, Tasya. Aku hanya terlalu menyayangimu,” tatapan mata Saka serasa berkata untuk memohon maaf.
“Nggak, aku senang. Akhirnya kita bisa bersama. Sekarang aku nggak perlu lagi masang puisi di mading kantor, hanya biar kamu ngerti perasaanku,” Tasya tergelak.
Lebur sudah berbagai macam perasaan. Tak perlu lagi ada hal yang dilepaskan. Semua sudah bertemu, berkumpul di muaranya sendiri. Cerita yang baru saja dimulai. Jodoh memang tidak pernah ada yang tahu. Namun Tuhan menciptakan hati nurani, guna membimbing kita menemukan jalan yang sudah digariskanNya.
Kita semua adalah mantan. Mantan rekan kerja, mantan atasan, mantan bawahan, mantan pacar, dan mungkin, mantan teman. Tak ada yang benar-benar baru di dunia ini. Mungkin memang benar adanya, sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa “mantan adalah jodoh orang lain yang sempat salah alamat.”

Senin, 21 April 2014

Sebuah Surat Kepada Masa

Aku tak pernah benar-benar ingin memutar tubuhmu, Masa, hingga beberapa waktu yang lalu. Kau kasat mata, tak bisa aku tuntut maupun aku minta pertanggungjawaban. Tapi bolehkah aku mengeluh sebentar saja pada sosokmu yang memeluk diriku terlalu kencang? Kau mampu terbang begitu cepat, meninggikan yang rendah, mendewasakan yang muda, meninggalkan yang terlambat dan tak menunggu mereka yang tak bergerak cepat. Tapi, Masa, taukah kau bahwa kali ini aku merasa bahan olok-olokmu terlalu kejam?


Kau tahu, sampai saat ini kau tahu, Masa, ini semua tentang siapa. Ya. Dia, yang datang tiba-tiba setelah sekian lama tak jumpa. Dia yang dulu aku tahu hanya sebuah nama, pribadi yang tak terjamah hati dan pikirannya Tapi kini, Masa, kau menelisikkan begitu banyak cinta di saat orang-orang lain sudah berada di peraduannya sementara kami terjaga. Kau di sana, Masa. Kau tahu, bagaimana kami saling menemukan, membasuh diri kami yang selama ini gersang dan seperti tak bernyawa. Tapi kau menari di atas semua yang terjadi. Kau memegang kendali, karena pada akhirnya kaulah yang mampu mengambil semuanya kembali. 


Masa, izinkan aku menjadi pujangga abal-abal yang hanya mampu menulis roman picisan kali ini, atau malah berkali-kali lagi. Aku hanya ingin meminjam apa yang kau beri padaku untuk bisa menyanjungnya. Sekecil mungkin waktu yang kau berikan, aku tak akan meminta lebih banyak. Mungkin aku tak terlalu bahkan memang tidak pandai untuk mengungkapkan, tapi apapun akan aku lakukan, selama aku bisa untuk menyayanginya.


Andai kau datang lebih cepat, Masa. Dua tahun saja. Dua tahun tidak lebih lambat. Mungkin hari-hari ini tak ada lagi saat merenungi apa yang akan hilang dan terganti. Mungkin hari-hari ini, kau bersama kami, melantunkan bait-bait puisi, melepaskan energi surgawi, mencintai lebih dan lebih dalam lagi.


Ataukah sebenarnya kau sudah menyapa kami jauh sebelum dua tahun lalu, Masa? Apa yang kau pakai hingga kami tak mengenalimu? Kesenangan masa muda kah itu? Kesempatan yang terlewat? Atau malah kau memakai kepolosan, hingga kami tak tahu cara untuk bertegur sapa?


Kami punya cinta yang lebih, Masa. Saat kami saling berbagi, semua tak semakin berkurang, tapi malah semakin bertambah. Kami saling menemukan. Kami saling tak ingin kehilangan. Tapi kami juga tak ingin akhirnya saling menimpakan kesalahan. Karena, kau tahu. Dia, bidadari cantik, peri kecilnya itu dan sebuah istana yang seperti surga. Sementara aku, bidadari bersayap satu yang mencari cara untuk terbang tinggi dan yang masih terus mencari pasangan sayap yang mungkin masih terbawa oleh seorang kSatria. Kami pada akhirnya, berbeda dunia. Perjalanan yang akan membentur tembok.


Masa, biar bagaimanapun, aku tak ingin menyalahkanmu yang sudah mempertemukan kami. Kau pernah berkata, kadang seseorang memang ditempatkan, tinggal dalam hidup kita untuk sebentar saja. Untuk memberi kesan. Sebuah kenangan untuk diingat. Aku akan belajar darimu tentang hal itu, Masa. Tapi, jangan hentikan aku untuk mencintai. Tetaplah diam di sini. Dan ketika kau ambil waktunya, pegang erat tanganku, katakan semua akan baik-baik saja, dan aku akan mengamininya.


Dan kepadamu, pecandu rinduku, jika nanti saatnya tiba, lepaslah aku layaknya merpati yang akhirnya terbang tinggi. Kau akan relakan pencuri hatimu ini pergi, bukan? Walau aku berharap bisa kembali. Andai....

Jika cinta, jadilah semesta. Meretaslah menjadi udara yang dihirupnya untuk bernyawa.


Sebulan Yang Lalu, Lebah Maduku

Tujuh hari lagi, tepat di tanggal yang sama sebulan yang lalu, kau bukanlah lagi seorang bocah kurus tinggi berambut belah tengah yang lincah bergerak ke sana ke mari. Kau jauh lebih bergaya. Dengan tubuh tegap tinggi dan perkasa, serta cukup tangguh melewati segala ujian hingga lewat usia lebih dari seperempat hitungan seratus tahun. Walaupun senyum dan sorot matamu masih sama.


Lebah maduku, apa kau tau? Sejak entah sudah berapa tahun yang lalu, di waktu saat pagi mulai menelisik malu-malu di antara gelapnya langit, aku dengan segala kerinduan yang tak akan bisa tersampaikan padamu, mulai melukis udara dengan suara dan napasku yang kupintal pelan-pelan agar terdengar semesta. Aku selalu berharap kau baik-baik saja. Lebih berbahagia dengan hidupmu dari sebelumnya. Dari sebelum aku dan dirimu mengenal kita.Aku berharap semesta berbaik hati dan mau sekedar menyapa, membisikkan padamu lewat apa saja, setiap doa yang aku titipkan padanya untukmu.


Tidak! Jangan pernah berpikir aku melupakanmu. Aku terlalu bodoh dan juga keras kepala untuk bisa menghapus nama dan juga bayanganmu dari pelupuk mataku. Coba tanyalah pada benda segi empat berwarna hitam dengan layar sentuhnya yang datar itu. Di dalam setiap bagian memori tubuhnya terjejali dengan kalimat yang sama. Kalimat yang aku tulis dengan kompilasi antara tarikan napas dalam dan napas yang tertahan, hanya untuk menjaga agar riak-riak di mataku tidak bergejolak dan tumpah. Kalimat yang pada akhirnya hanya ada di dalam kotak pandora di dalam benda segi empat itu, tanpa pernah sampai padamu. Aku bukannya tidak mau menunjukkan perhatianku, memberi ucapan selamat padamu dan ikut berbahagia. Aku melakukannya, sungguh, tapi mungkin dengan cara yang berbeda.


Melupakan dan mencoba tidak mengingat itu berbeda, Lebah Maduku. Genangan masa lalu itu terlalu pekat dan kini membuncah, berubah menjadi kubangan. Aku terlanjur terbenam dan susah bernapas, kemudian memilih tenggelam di dalamnya. Mungkin kau sudah melipat diriku dan menancapkan citra masa lalu, walau aku mengharapkanmu sebagai masa kini dan bahkan masa depan. Kita berbeda dalam hal ini. Untuk itulah aku hanya mencoba untuk tidak mengingat lagi.


Sebulan yang lalu, Lebah maduku, aku menyampaikan sebuah permohonan pada langit. Aku ingin sehari saja menjadi bunga cantik yang dulu sering kau temani merajut hari. Sekali saja. Ingin melihat sayap kecilmu yang mengepak cepat. Dengung suaramu yang nyaring namun begitu indah tertangkap indera pendengaranku. Serta aku ingin menanyakan satu hal, pernahkah selama ini kau ingin tinggal? Jika nanti hari itu berlalu dan kau memilih untuk tidak tinggal, aku akan mengugurkan setiap daun dan membiarkan tanah mencumbuku hingga tak lagi ada rasa perih karena kepergianmu. Kelak, aku akan memandangi dirimu dari kejauhan.


Sebulan hampir berlalu, sejak ke-dua puluh tujuh sayapmu menjadi sempurna, tapi aku belum melihat ada bau dirimu mendekat. Lebah maduku, apakah sayap barumu menjadikanmu terlalu berat dan terlalu letih untuk datang menghampiriku? Akh, mungkin kau sedang ada di hamparan taman yang indah. Pasti salah satu dari bunga cantik itu akan menarikmu. Aku tidak bisa untuk tidak tersenyum dan menangis di saat yang bersamaan jika hal itu terjadi. Tapi Lebah maduku, terbanglah tinggi, carilah bunga yang terbaik. Jangan pedulikan bunga kecil yang bahkan kelopaknya sudah memudar, yang harumnya hilang terbawa angin sore yang basah. Kau berhak mendapatkan kebahagiaanmu.


Jadi, bisikkanlah pada angin, pesanmu agar aku tak menunggu. Kemudian tetaplah berada di mana kau ada sekarang. Terbanglah tinggi dan aku rela kau tak kembali.

Rabu, 15 Januari 2014

Mi Amor by Sayfullan


Judul: Mi Amor – di titik nol kota Madrid

Penulis: Sayfullan

Penerbit: Senja (imprint dari DivaPress)

Genre: Dewasa Muda, Drama, Romance

Tebal: 313 Halaman

Terbit: Desember 2013

Harga normal: Rp 40.000


Semesta selalu punya rahasia yang tak pernah bisa kita duga. Setiap kejadian yang kita alami selalu berkaitan dengan hal lain yang akan terjadi. Namun kadang kita tak menyadarinya. Sama seperti Kiana, Aditya, Reza dan Serilda. Keempat orang ini tak menyadari bahwa kisah hidup mereka saling bertaut menciptakan sebuah romansa yang tak terduga. Berawal dari perjalanan Kiana menuju Madrid yang membawanya bertemu kembali dengan Reza, teman masa kecilnya. Perjalanan di Madrid itu menguarkan sebuah cerita yang berlanjut melibatkan Serilda - kembaran Kiana. Dan dalam lingkaran cinta yang membingungkan itu muncul pulalah seorang Aditya. Bagaimana kisah cinta rumit yang diwarnai dengan konflik khas saudara ini berakhir? You must figure it out by yourself. ^^


Novel ini adalah novel kedua karya temanku Sayfullan. Berbeda dengan novel pertamanya "Aropy" yang berbahasa khas remaja banget karena memang berdasarkan genre-nya, "Mi Amor" disajikan dengan bahasa yang lebih dewasa dalam artian lebih matang namun ringan. Diksi yang digunakan cukup sederhana, tidak terlalu banyak bersayap, namun masih bisa menimbulkan kesan klasik serta romantis. Catatan-catatan kaki yang informatif serta tidak bertele-tele juga membuat beberapa istilah asing yang ada menjadi bisa dipahami dengan baik. Cukup sehari saja aku melahap habis isi novel yang manis dengan twist-twist serta quote yang keren ini. Ini salah satu quote favoritku yang ada di halaman 231:
"Kesetiaanku tak lantas lenyap hanya karena waktu. Pun, tak akan hangus terbakar musim. Meski jarak membentang, aku yakin Tuhan tak akan rela kita terpisah terlalu lama, Pangeran.... - Dewi Bulan"

Selain diksi kalimat yang simpel, Mi Amor juga menyenangkan karena detail setting serta narasi setiap tokoh serta kejadian yang dituturkan dengan apik. Pembaca seakan dibawa ke dalam situasi di mana tokohnya berada serta apa yang sedang mereka alami. Ekspresi dan emosi dalam atmosfir itu disajikan penulis dengan baik. Ini juga contoh penggalan situasi dalam halaman 124 yang membuatku langsung merasa lapar setelah membacanya:
Kelihaiannya memasak begitu terlihat ketika ia membuat stammppot. Tangan kanannya terus bergerak lincah, berputar-putar, meremas-remas kentang rebus. Bersamaan dengan itu, tangan kirinya pun ikut bekerja, sibuk mencampur sayuran-sayuran hijau dan wortel ke dalam adonan kentang. Tidak heran jika dalam beberapa menit saja, stammppot sudah siap dihidangkan bersama dengan gelderse yang begitu beraroma.

Penggambaran karakter juga sudah cukup bagus. Aku suka sosok Kiana, walau kadang aku tidak terlalu suka pikirannya yang genit :p Dan bagaimana dia bisa begitu gampang tertarik dengan lawan jenis. Oh, Serilda juga begitu. Awalnya aku membenci karakter Serilda, tapi alur novel ini akhirnya membuatku menangis haru dan mulai mencintai karakter si gadis pintar namun jutek itu. Untuk Reza dan Aditya, aku suka mereka berdua :D

Selain kelebihan yang dimiiki novel ini, tentunya juga masih ada sisi kurangnya. Ada beberapa typo serta penulisan kalimat yang tiba-tiba bisa satu renceng tanpa spasi (maaf lupa nyatet di mana aja letaknya -__-), 
aku menemukan situasi ketika penulis seakan ingin memasukkan dirinya pribadi sebagai tokoh "aku". Padahal POV yang digunakan adalah POV 3 tetapi ada beberapa kalimat yang diawali dengan "yeah... bla.. bla.. bla.." yang menandakan ada sedkit unsur POV 1 yang melebur di antara POV 3.

Terus juga tentang logika cerita. Sebagai pembaca aku bingung tentang keberadaan si gelang akar bakau yang menjadi sebuah petunjuk penting. Di halaman 11 dikatakan bahwa gelang itu adalah pemberian seorang  lelaki kecil. Namun pada halaman 283 disebutkan bahwa gelang akar bakau tersebut adalah pemberian dari papa si tokoh kembar.

Belum lagi ketika dikatakan bahwa Reza adalah teman satu fakultas Kiana namun mereka belum pernah bertemu, itu bisa saja terjadi jika salah satu atau bahkan dua-duanya adalah orang yang terlalu biasa saja. Tapi Kiana digambarkan sebagai seorang cewek yang ceria dan supel, kepiawaiannya melukis hingga memenangkan perlombaan, yang akhirnya membawanya ke Madrid, tentunya membuat nama Kiana paling tidak sudah cukup populer untuk kalangan satu fakultas. Dan lagi Reza, cowok yang dibilang persis dengan pemeran Rangga dalam film AADC yang juga merupakan anak orang kaya, pasti sudah bisa menjadikannya bahan rumpian cewek-cewek satu fakultas.


Di luar itu semua, novel ini sungguh page turner. Membuat pembaca ingin terus mengalami kejutan-kejutan menyenangkan yang ada di setiap halamannya. Twist yang disajikan juga mampu membuat otak berimajinasi dan tidak bosan. Aku yang biasanya bisa menebak akhir dari beberapa novel dibuat bertekuk lutut karena salah menebak endingnya.

Itu saja sih. Selebihnya novel ini membuatku jatuh cinta dan menangis karena teringat masa lalu *walah curhat*. Sama seperti covernya yang sekali lihat langsung bisa jatuh cinta karena begitu manis, isinya pun juga kurang lebih sama. Seperti coklat, ia manis, hangat walau kadang ada yang pahit. Absolutely 4 of 5 stars :) Recommended!

Selasa, 31 Desember 2013

Ada Cinta Di Langit Jakarta

Sebuah kesempurnaan selalu menjadi tujuan akhir setiap manusia. Tidak pernah ada yang ingin hidupnya berantakan, ataupun terlihat tidak sempurna. Semua harus telihat tanpa cela. Kadang banyak yang mengabaikan cinta ataupun malah mempermainkannya. Tak banyak yang percaya bahwa cinta bisa membawa bahagia. Untuk itulah semua mengandalkan segala cara agar bahagia, atau paling tidak agar terlihat sepertinya bahagia, selain dengan cinta.
“Kittyyyyy, hey how’s life?” sapa sebuah suara dengan girangnya.
“Siapa sih nih?” jawab seorang wanita masih dengan setengah kesadaran.
“Lo lupa sama suara gue? Kita nggak temenan lagi. Oke, bye!”
Klik.. Sambungan terputus.
Dengan masih berusaha mengumpulkan nyawa, wanita itu memperbaiki posisi tubuhnya. Dahinya mengernyit. Dengusan napasnya terdengar rendah, mencoba mengingat suara yang tadi membangunkan tidur nyenyak yang baru saja dia dapatkan dalam waktu setengah jam.
“Ckck, ini anak nggak berubah,” cibirnya, namun wajahnya terlihat lebih cerah sambil menatap layar ponselnya. Sejurus kemudian kuku lentiknya yang dihiasi bebatuan indah hasil nail art, sibuk menjelajahi folder kontak dan mencari sebuah nama, “Heh, Chubby. Kenapa lo telepon gue?”
“Aaakkkhhh, Diva, gue udah nggak chubby. Selama di sini gue udah turun sepuluh kilo tau! Eh, lupakan tentang berat badan. Lo lagi ngapain sekarang?”
“Deana Ivanova, elo tanya gue lagi apa sekarang? Gue lagi berenang! Giling lo ya, emang jam dua pagi harusnya gue ngapain?” dengus wanita yang disebut Diva itu kesal.
“Hahahahaha, oh iya, sorry. Di Roma masih sore, Sayang. Hahahaha.. Betewe, biasanya juga lo jam segini masih kerja deh. Nggak ada show ya?”
“Nggak, gue lagi cuti. Udah deh, gue nggak suka basa-basi, Na. Ngapain lo telepon gue jam segini? Lo nggak cuma mau nanya kabar gue kan?”
“Dih, gitu banget sih lo, Div. Mentang-mentang udah jadi model terkenal. Lo nggak kangen apa sama gue?
Hening..
“Dih, iya, iya. Nggak usah pake acara ngambek gitu. Lo ini ya, dari dulu nggak berubah,” suara di seberang sana terdengar menarik napas dalam, “Gue bulan depan mau balik Jakarta...!!! Mau liburan. Jemput gue di bandara ya?! Gue  mau lihat photoshoot lo, mau ke klub lagi, gila-gilaan sampai pagi. Oiya, sama ada yang musti gue ceritain. Ya, Div? Div....? Diva lo nggak lagi molor, kan? Diva? Divaaaaaaaaaa...”
***
Sinar mentari sudah mulai membelai manja dedaunan. Hangatnya mampu menggeliatkan semangat yang sejak semalam dibuai dingin udara bulan Desember. Diva masih terpejam di king size bed-nya, namun kesadarannya perlahan mulai utuh. Dia masih teringat sepenggal percakapan semalam bersama Deana, sahabatnya yang sejak lulus SMP pindah mengikuti orang tuanya ke Eropa.
Dengan sedikit malas, Diva merambat pelan menuruni tempat tidur. Disambarnya sebuah laptop berwarna hitam yang sedari kemarin ada di sisinya dan menuju ke balkon. Digesernya perlahan pintu kaca yang membatasi dirinya dengan pemandangan asri di luar kamar. Langkah kaki jenjangnya menuntun menuju single sofa yang ada di balkon apartemen.
Nyebelin lo, Div. Gue udah berbusa karena saking semangatnya ngomong, eh lo-nya molor. Bulan depan gue balik. Gue nggak mau tau, Div, lo musti cerita kenapa lo PUTUS lagi entah untuk yang ke berapa kalinya ini. Inget ya, jangan songong!! Lo udah TUA, Div. Jangan keenakan kerja, lo musti mikir pasangan hidup juga. Oiya, satu lagi. Gue setuju perjodohan yang gue ceritain tempo hari. Besok gue jelasin. Oke?! C u, Kitty. Smooch.. smooch..
E-mail dari Deana.
Dikirim sesaat setelah pembicaraan mereka terputus semalam. Diva mengacak rambutnya yang kemerahan hingga membuatnya kusut seperti sarang burung. Kedatangan wanita periang itu ke Jakarta tentu akan membahagiakan, mengingat mereka cukup lama tidak bertemu. Deana juga bisa menemaninya di apartemen, karena sejak hijrah di Jakarta memang Diva menempati apartemen di Jakarta Pusat itu sendirian.. Namun, kemunculan sahabat masa kecilnya itu juga akan membawa teror tersendiri. Teror untuk membawanya ke dalam pusaran keputusan paling pelik. Melepas masa lajang.
***
Diva masih berkutat di depan laptop setelah membalas e-mail dari Deana, juga beberapa e-mail dari klien. Keperfeksionisan Diva membuat acara cuti yang seharusnya bisa mengembalikan semangat, hanya menjadi sebuah acara tanpa makna. Pikirannya terus saja berlarian ke pekerjaan.
“Bunny, aku nggak bisa. Aku musti prepare buat pemotretan sama majalah Best Life sebentar lagi. Lagian aku ada acara juga barengan teman-teman agensi buat pesta di Bali pas tahun baru,” Diva masih saja memandangi layar berukuran empat belas inchi di hadapannya tanpa menggubris sosok cowok berhidung mancung di sampingnya. Perhatiannya masih tertuju pada beberapa foto dirinya yang akan dimasukkan ke dalam composite card.
“Kamu harus datang ke acara pesta itu ya? Kita kan udah sepakat kalau tahun ini mau ngerayain tahun baru di rumahku sama mama-papa,” cowok berkulit putih itu mencoba bersabar menghadapi kekasihnya yang memang keras kepala.
“Itu sebelum aku dapat undangan. Ketemu ortumu kan bisa setiap waktu. Kalau gathering besok itu langka. Ada banyak model terkenal serta perancang busana kelas internasional yang datang. Ini bakalan jadi jembatan buat karierku.”
Cowok berwajah tampan itu menghela napas. “Kita nggak pernah tahun baruan sama-sama selama ini. Tapi ya sudahlah. Ini, aku bawakan makanan. Kamu belum makan kan dari tadi?”
“Bunny.. Ini udah yang keberapa kali kamu bawa makanan tinggi kalori dan lemak kayak gini? Tiga bulan lagi bakalan ada audisi Indonesia’s Next Top Model, dan aku nggak mau usaha kerasku selama ini sia-sia cuma gara-gara masakan sialan ini!”
“Tapi aku masakin ini buat kamu, Hunny.”
“Nggak peduli. Aku masih mau diet. Stop forcing me! Kamu emang nggak suka kan kalau aku jadi model? Kamu egois tau nggak? Kamu bawel banget akhir-akhir ini dan kamu tau aku benci itu!”
“Bukan begitu, Sayang. Aku cuma...”
“Garry, dengerin baik-baik. Aku mau kita putus!”
“Tapi, Hunny. Aku...”
“Stop! Aku nggak mau ada orang yang ngehalangin jalanku buat jadi model. Termasuk kamu!”
Kenangan bersama seorang lelaki bertubuh gempal itu masih sering terlintas di benak Diva. Percakapan terakhir itu begitu membekas. Percakapan beberapa tahun yang lalu, yang menyisakan tanda tanya besar di hati, mempertanyakan kepatutan keputusannya. But life goes on. Begitu selalu Diva menghibur diri. Tidak ada gunanya menengok masa lalu. Namun tidak bisa dipungkiri, belum ada lelaki lain yang mampu mengisi kekosongan hatinya sejak saat itu.
Lelaki bertubuh gempal itu selalu berusaha memberikan yang terbaik. Cenderung protektif, tapi di sisi lain hanya mengharapkan bisa memberikan kenyamanan untuk seorang Diva Rajendra. Menjaganya dari hal buruk dunia modelling. Namun, maksud baik belum tentu dapat diterima dengan baik. Diva merasa lelaki yang menemani perjalanan cintanya selama lima tahun itu mengekang jalannya. Dan akhirnya, perpisahan menjadi jalan, yang menurut wanita bermata bulat itu, terbaik
Kini matanya yang cekung karena kurang tidur hanya menatap nanar ke arah layar sebesar empat belas inchi tersebut. Lama dia tertegun. Memandang sebuah gambar yang sampai sekarang masih terpampang menjadi background dari laptopnya. Foto dirinya dan seseorang.
***
Being single is not a crime, Puppy. Gue masih mau ngejar karier gue dulu. Target gue adalah jadi model internasional. Gue pengin bisa melenggak-lenggok di atas runway Milan fashion week. Cinta itu urusan ke sekian,” Diva memijit kakinya yang pegal setelah berjalan gemulai ala kucing menggunakan high heels dalam sebuah peragaan busana desainer lokal ternama.
“Umur lo udah mau tiga puluh, Div. Oke, nikah emang nggak boleh semata-mata karena umur, tapi bukan berarti lo nggak mikirin itu, kan? Just try to push yourself a little hard, Beib. But must of all, open your heart. That’s the key. Nggak selamanya kita bisa hidup sendiri,” Deana berkomentar sembari mengamati setiap model di sekitarnya yang tinggi menjulang, dia sudah tidak kaget melihat para model itu telanjang sembarangan untuk berganti baju.
Well, yeah, bukannya anti nikah juga sih, cuman gue belum nemu pasangan yang sempurna buat gue. Oh, come on, I’ll marry someone sooner or later. Darling, you know that I’m working on it,” ucap Diva sembari menenggak sebotol smirnoff dari dalam tasnya.
“Sempurna? Kitty, you are exagerrating it! Lo terlalu perfeksionis dalam hal cari pasangan. Nggak ada cowok di dunia ini yang sempurna, Div. Oh, sorry, gue ralat. Cuma ada satu cowok yang sempurna di dunia ini, dan namanya Edo,” ucap Deana sambil menyunggingkan senyum, setelah menyebutkan nama calon suaminya.
“Jadi maksud lo, gue musti nikah sama Edo? Jadi istri keduanya setelah lo?
“Divaaaaaaa....”
“Iya, gue bercanda. Gue cuma ngerasa belum ketemu yang pas aja, Na.”
“Berapa cowok lagi yang bakalan lo jadiin koleksi dalam folder mantan, Div? Atau jangan-jangan, lo sebenarnya masih nggak bisa move on dari siapa tuh, Gera atau Garry siapalah itu namanya.”
“Na, plis. Garry itu masa lalu. Udah ah. Eh, tapi serius deh. Apa nggak kecepetan sih lo nerima Edo? Apalagi ini lewat perjodohan! Ampun. Hari gini? Plis deh, Na!” bibir sensual Diva mengerucut.
“Lho, emang kenapa? Ortu gue pasti udah pertimbangin bibit, bobot dan bebetnya, jadi pasti Edo itu yang terbaik. Lagian dia ganteng, dan gue suka,” Na membela diri.
“Ganteng? Gue ragu sama ganteng versi lo, Na. Ups, sorry, Hahahahaha.. Trus lo yakin Edo juga suka sama lo?”
***
Terkadang Diva memang boleh dikata iri dengan kehidupan Na yang selalu lancar-lancar saja. Lahir dari keluarga kaya, cantik, berpendidikan, dan kini akan menikah dengan seorang lelaki yang memang bisa dikata pujaan. Beda dengan dirinya yang musti berjuang untuk apa saja, termasuk menjadi seorang model seperti sekarang.
 Berkat usaha keras Deana yang tidak hentinya mencekoki Diva dengan ceramah, akhirnya wanita berlesung pipi itu luluh juga. Di tengah hari yang sedang terik-teriknya, Diva memutuskan mengirimkan sebuah e-mail kepada Garry, lelaki gempal yang pernah singgah di hatinya.
“Biarpun gendut, dia cinta sama lo apa adanya, Div,” Deana tersenyum penuh kemenangan, “lagian apa salahnya jadi gendut sih?”
“Bukan fisik yang gue lihat, Na. Tapi gue cuma nggak suka caranya larang-larang gue buat ini itu. Atau pun nyuruh gue makan dan lain-lain,” dengus Na kesal.
“Kalau dia nggak larang, lo waktu itu udah ketipu jutaan rupiah karena salah masuk agensi. Trus lagi, kalau dia nggak maksa lo makan, gue yakin anoreksia lo bakalan kambuh lagi. Walau nggak pernah ketemu dan sama sekali nggak tahu wajahnya kayak gimana, gue percaya, si Garry itu orang baik dan dia cinta banget sama lo,” Deana berargumen dengan berapi-api. Seakan perkataannya adalah titah yang harus diamini kebenarannya.
“Akh, nggak ngerti deh. Tuh udah gue kirim e-mailnya. Dan nggak usah berharap Garry masih mau kontak gue lagi. Gue yakin dia sakit hati sama gue,” Diva mencibir.
***
            Dewi cinta nampaknya mulai menaungi Diva kembali. Garry menyambut e-mail yang dikirimkan Diva. Namun, segurat kegundahan muncul di benak Diva. Garry sudah berubah. Sudah tidak ada lagi “aku” dan “kamu”, semua berganti dengan “lo” dan “gue”. Walaupun mereka hanya bertukar e-mail, namun Diva merasa Garry sudah jauh berbeda dari sosok yang dikenalnya dahulu. Cenderung lebih dingin dan misterius.
Semakin lama, Diva merasa dia merindukan sosok Garry yang dulu. Mungkin memang ini salahnya, menghilangkan cinta yang besar dan menggantinya dengan sakit hati. Siapa orang yang tidak akan berubah jika diperlakukan seperti itu? Kali ini, Diva bertekad untuk meminta maaf dan mencurahkan segala perasaannya di atas surat elektronik.
Tak ada cukup banyak waktu. Lusa dia akan mengikuti peragaan busana di Milan. Dia memutuskan untuk memenuhi tawaran Ghea Panggabean menjadi modelnya dalam pagelaran busana Treasure of Indonesia, kerjasama antara Indonesia dan Italia yang digagas oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma. Jika pun Garry menolaknya, paling tidak Diva lega, Garry tahu perasaannya.
Email sent.
Dan bersamaan dengan terkirimnya email Diva, datang pula sebuah email yang lain.
            New email
            Hei, Div. Sorry, gue kemarin sibuk ngurusin kuliah. Jadi sempat nggak bisa kasih kabar ke lo. Gue udah lulus nih. Hahahaha.. And you know what? Gue udah balik Jakarta sekarang. Besok kita ketemuan ya. Gue mau cerita ke lo nih. Tentang perjodohan tempo hari yang belum sempat gue jelasin. Ini, gue kasih sekalian fotonya. Tapi sorry agak blur, maklum agak shake pas motret. Gimana? Cocok nggak? Gue mau denger pendapat lo yang unik. Gue bingung soalnya tentang dia. Lo masih di apartemen lo yang lama kan? Besok siang gue ke sana ya, Jam 1. Bisa kan? Gue tunggu kabarmu. See ya, tomorrow.
            Perjodohan? Hati Diva mencelus. Tapi dicobanya untuk sedikit berpikiran positif. Sembari menunggu file foto kiriman dari Garry terunduh sempurna, Diva memutuskan untuk memakan kebab yang sedari tadi hanya terpajang manis di atas meja kecil di kamarnya. Akh, kebab. Karena Garry-lah, Diva yang sama sekali bukan mahluk karnivora, mulai menyukai makanan selain sayur dan buah.
            File downloaded.
            Diva mengernyitkan dahinya. Memang foto itu nampak agak buram. Namun Diva masih bisa mengenali sesosok lelaki betubuh padat yang ada di foto tersebut. Di sampingnya nampak seorang lelaki yang gagah, tinggi mereka sama. Dan di antara dua lelaki tersebut, ada seorang wanita. Diva memusatkan retinanya untuk melihat lebih jelas.
Deg.. Foto itu? Garry Rollando? Edo? Mendadak dunia Diva menjadi nampak gelap. Mustahil ada kebetulan seperti itu. Tubuh rapuh itupun tenggelam dalam isak tangis.
***
            Tak ada waktu lagi. Diva segera mengepaki barang-barangnya. Dia memutuskan untuk berangkat lebih dulu ke Milan, tidak bersama rombongan. Setelah menghubungi pihak management. Diva bergegas meluncur menuju bandara, mengejar penerbangan ke Milan kelas pertama.
            Di lobby, sambil menunggu jemputan, dia melihat seorang lelaki berbadan tegap berjalan melintas. Lelaki itu nampak sangat akrab. Namun, seberapapun dia membuka file memori otaknya, data dari lelaki itu tak kunjung dia temukan.
            Perjalanan menuju manapun adalah waktu yang sangat menguras emosi Diva. Apalagi sekarang, saat dia berusaha menemukan kembali hatinya yang hilang. Hati yang dia kira akan dia temukan saat sudah mencapai kesuksesan, namun akhirnya hancur berantakan kembali. Sesekali nampak bahunya naik turun. Dibuangnya pandangan, berusaha menikmati pemandangan aktivitas orang-orang dari balik kaca taksi yang membawanya menuju bandara.
            Beib, gimana? Lo udah kasih tau Garry tentang perasaan lo? Gue penasaran banget pengin tau gimana wajah si Garry itu. Lo sih dari dulu nggak pernah mau kasih lihat fotonya Cakepan mana sama Edo gue? Hahahaha.. Dan lo tau nggak? Edo ternyata kenal juga sama lo. Kemarin dia baru cerita. Asli. Ini kebetulan yang menyenangkan. Dan Lo tau? Setelah nikah kami bakalan tinggal di Jakarta aja! Gue tunggu kabar lo ntar ya. Skype-an di jam biasa ya. Awas lo kalo molor. Gue jitak!!
            Membaca email dari Deana membuat napas Diva seakan terhenti. Otaknya beku, tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Diva merutuk berkali-kali, kenapa dia mau meluluhkan hatinya yang keras. Namun sekarang semua sudah percuma. Tak ada lagi kata. Diva berusaha melepaskan dengan rela. Melihat dua orang yang dia cintai bersama, bukankah itu istimewa?
            “Aku merestui. Kalian orang-orang baik yang aku cintai. Selamat berbahagia.”
***
            “Astagaaaaa Divaaaaaaa... Kebangetan ya Lo. Gue ini sahabat apa bukan sih? Susah amat buat cuma dengerin suara Lo doang? Gue tahu Lo udah di Jakarta kan? Tapi Lo nggak mau hubungin gue? Lo udah jadi superstar ya? Sampe lupa sama gue?!” suara Deana dari seberang sana mirip petasan renceng.
            “Sorry.. Gue bener-bener lagi sibuk,” Diva berusaha menyembunyikan perasaannya kepada Deana. Kenyataan bahwa sahabatnya sendiri menikah dengan cowok yang sangat dicintai Diva sangat menghancurkan hatinya. Dia butuh lebih dari sekedar waktu buat mengembalikan dirinya seperti dulu.
            “Gue bisa terima waktu Lo datang walau cuma beberapa menit sebelum pemberkatan nikah gue. Walau karena itu gue musti jawab pertanyaan Edo yang berjuta-juta karena dia nggak sempat ketemu Lo. Tapi pokoknya gue nggak mau tahu, tahun baru besok Lo musti datang. Titik! Bye..!!”
            Diva tersenyum kecut. Dari dulu dia tidak pernah suka perayaan tahun baru. Bahkan saat dia bersama kemewahan serta gemerlap dunia modeling serta pesta yang penuh dengan hedonisme, jauh di lubuk hatinya dia hanya ingin berada di tengah-tengah orang yang mencintainya. Dia sangat suka kembang api. Menyalakan kembang api di malam tahun baru di rumah saja sudah lebih dari cukup. Dulu dia sempat akan melakukan hal itu dengan Garry. Tapi sekali lagi itu hanya berupa sebuah kata kerja masa lampau bernama dulu karena semua keegoisannya.
***
Monas sudah mulai menjadi lautan manusia. Semuanya mempunyai tujuan yang sama. Ekspresi keriangan nampak jelas dari wajah-wajah ceria yang tak mau kalah dengan hawa dingin yang juga setia menemani. Di beberapa sudut juga sudah nampak para seniman lokal yang akan membawakan pertunjukan musik selama acara berlangsung.
“Bunny, Diva udah datang belum? Dia janji mau datang. Kalau sampai dia nggak datang juga di acara kali ini, aku cincang dia!” Deana merapatkan jaket bulunya. Dengan kesal dia memandang sekeliling, mencari sosok sahabatnya.
            “Tunggu aja, Hunny. Tentu bakalan susah nemuin kita di antara semua orang ini,” ucap lelaki bernama Edo itu sambil membelakangi Deana. Lelaki itu sibuk mengabadikan momen dengan lensa kameranya.
            “Nggak bakalan susah kali, Bunny. Kita berdiri tepat di depan panggung utama. Nggak bakalan Diva susah nyariin kita,” Deana mendengus.
            Tak berapa lama sebuah tepukan mendarat di bahu Deana. Itu Diva. Dengan mantel berwarna fuchsia karya Giorgio Armani serta sepatu boots tinggi Loubutin berwarna hitam sungguh membuat Diva layak menyandang nama itu, karena memang dialah sang bintang.
Diva berusaha menyembunyikan kesedihan di balik make up yang dikenakannya. Bibirnya yang dipulas dengan lipstik nude pink itu tak henti menebarkan senyum. Hari-hari sebagai model memang cukup mampu membuatnya menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
            “Jangan bilang Lo nyasar ya sampai telat lama banget!” Deana memeluk Diva sambil tersenyum kecut.
            “Sorry,” ucap Diva lirih.
            “Itu, Edo. Yuk ke sana. Dia udah nungguin kamu dari tadi,” Deana menunjuk punggung suaminya yang berjarak beberapa meter dari tempat mereka berdiri.
            Tanpa menunggu, Deana menggamit lengan Diva yang kebingungan. Pikiran dan hatinya berpacu, mencoba menjadi selaras, namun sepertinya tak mampu. Diva masih sibuk merancang kalimat ucapan basa-basi hingga tak sadar dia sudah berada di belakang Edo.
            “Bunny, ini Diva udah datang. Diva, suami gue di sebelah sini, kok lo ngeliatnya ke sana mulu sih?” Deana menepuk bahu Diva yang masih membuang muka.
            “Eh, sorry. Iya.. Ehm, hai E.. do? Hah?” kali ini Diva masih kebingungan, tapi karena alasan yang lain.
            “Lo kenapa sih? Suami gue ganteng ya? Sampai lo segitu kagetnya?” Deana tersenyum penuh arti, sebenarnya dia tahu apa yang sedang ada di benak sahabatnya itu, “Akh, tapi gue tahu kok. Edo yang di sebelah sana pasti lebih cakep buat lo.”
            Diva mengikuti arah telunjuk Diva. Dan jantungnya seakan ingin berhenti seketika. Lelaki itu, lelaki yang tempo hari di lihatnya di lobby apartemen, lelaki yang ternyata sangat dia rindukan kehadirannya.
            Lagu berjudul “When God Made You” itu mengalun lembut dari biola yang dimainkan dengan apik oleh seorang yang berperawakan tinggi dengan hidung yang mancung. Diikuti oleh permainan gitar akustik serta flute dan saxophone. Beberapa pengunung mengelilingi para pemusik itu dan menghayati setiap melodi dinamis yang mengalun lembut menyentuh hati, terutama hati Diva.
            Tiba-tiba lelaki yang Diva percayai sebagai Garry itu memegang jemari Diva. Dia menarik Diva ke atas panggung para pemusik itu. Di tengah kerumunan yang menyaksikan mereka berdua, Garry tiba-tiba berlutut di hadapan Diva.
            “Diva, I’m sorry for all of my fault. Sorry for making you cried. Diva, I’ve been waiting you for so long. And now is the day. I love you so much. Please forgive me. I won’t waste your tears anymore. Diva,” Garry menarik napas dalam-dalam. “Will you spend the rest of your life with me?”
            Bersamaan dengan anggukan kepala Diva dan tepuk tangan riuh para pengunjung yang menyaksikan momen indah di depan mereka, di langit ratusan pijar cahaya warna-warni menghiasi malam. Tahun berganti. Terlewati. Namun semua diawali sebuah kebahagiaan yang dinanti, khusunya oleh Diva. Kebahagiaan meleleh di pipinya.
***
            “Maaf ya, Hunny. Aku nggak tau bakalan ada kesalahpahaman kayak gini. Aku nggak ngerti kalo Deana itu sahabatmu yang bakalan dijodohin sama Edo, rekan bisnisku,” Garry menggenggam jemari tangan Diva seakan takut tangan mungil itu tak akan mampu dia genggam lagi.
            “Gambar fotomu blur sih, jadi aku kira lelaki gendut di foto itu masih dirimu. Nggak ngerti kenapa kalian bisa semirip itu,”
            “Jadi kamu nggak nyangka ya aku bisa sekurus ini? Aku pengin sekali kurus, karena aku nggak mau kamu, seorang model kelas wahid, yang cantik dan terkenal, jalan sama cowok cupu yang gendut kayak aku,”
            “Garry..”
            “Tapi aku sadar kok. Bukan itu maksud darimu mutusin aku, tapi karena kamu ingin aku lebih mendukungmu di karier kan? Andai saja komunikasi kita bisa berjalan baik, kita nggak akan alami masa pahit kayak gini ya, Hunny?! Aku mau lakuin itu. Aku mau dukung kamu. Cintaku dan citamu. Keduanya bisa berjalan beriringan kan, Sayang? Kamulah yang melengkapi sosokku yang nggak sempurna. Akhirnya kita bisa merayakan tahun baru sama-sama. Aku sayang kamu, Diva.”.  

***


Senin, 16 September 2013

Malaikat Kecil Penjaga Jiwaku

*On his 11th birthday. A month before he left*
"Dia ada, meski bukan raga, tapi jiwanya utuh. Di hatiku."

Rahaditya Frans Timotius.
Begitulah nama yang tertulis di atas nisan berwarna merah itu. Nisan yang kaku, angkuh dan dingin. Sama sekali tak mencermikan dia yang saat ini berbaring di bawahnya.

Leukimia mungkin sudah merenggut raganya dari kami. Tapi cintanya yang besar selalu hidup. Sebelas tahun adalah waktu yang terlalu singkat untuk kami bisa saling melepaskan kasih. Namun, semua cukup untuk bisa menyadarkan bahwa malaikat itu memang benar ada, dan dia salah satunya. Malaikat yang selalu bisa menjaga jiwa kami terus berbahagia.

Dalam kesakitannya, dia tidak pernah mengeluh. Senyum yang selalu tergambar jelas di bibir mungilnya, bahkan dengan ajaib, mampu memberikan kami kekuatan. 12 Februari 2012, sebulan setelah ulang tahunnya, dia memilih untuk pergi. Bukan karena lelah berjuang, namun karena dia yakin kami cukup kuat untuk memperjuangkan kembali hidup kami dan menghidupkan impiannya dalam diri anak-anak kecil lainnya.

Frans sayang, terima kasih. Darimu, Mbak belajar merelakan dan belajar berbagi. Mbak juga belajar, bahwa cinta itu tak terbatas. Seperti cinta yang kamu berikan buat, Mbak, bahkan saat kamu sudah ada di surga.
I love you, Sayang.
Beristirahatlah dengan tenang.
Sampai bertemu lagi.